AKURAT.CO Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengingatkan pentingnya strategi nasional untuk menghadapi ketidakpastian global yang dipicu oleh potensi kebijakan "Trump 2.0" dan dinamika perang dagang antara negara adidaya.
Hal ini disampaikannya dalam acara halalbihalal bersama Asosiasi, Himpunan, dan Anggota Luar Biasa (ALB) Kadin Indonesia di Balai Sudirman, Jakarta Selatan. Menurut Anindya, situasi geopolitik dan ekonomi global menuntut Indonesia untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan mampu mengambil peluang dari gejolak tersebut.
“Ini bukan hanya soal relasi Indonesia-AS atau AS-China, tapi bagaimana Indonesia bisa menjadi pemenang dalam kondisi perdagangan global yang menantang,” ujar Anin dalam keterangannya, Sabtu (26/4/2025).
Dalam waktu dekat, Kadin Indonesia akan melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat guna membahas tiga agenda utama: transisi energi, kerja sama dengan Kamar Dagang AS (U.S. Chamber of Commerce), serta promosi investasi di forum finansial Milken Institute Global Conference 2025 di Los Angeles.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia serius dalam berdagang dan ingin memperoleh keuntungan yang adil,” tegas Anindya.
Dirinya menambahkan, Kadin juga sudah menjalin koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta kementerian teknis lainnya untuk mendukung kesepakatan bilateral yang ditargetkan rampung dalam dua bulan ke depan.
Lebih lanjut, Anindya menjelaskan bahwa neraca dagang Indonesia dengan Amerika Serikat saat ini masih positif sebesar USD18 miliar. Namun, di sisi lain, impor migas mencapai USD40 miliar. Oleh karena itu, ia mendorong adanya relokasi dagang yang lebih seimbang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan bilateral.
“Kami ingin mendengar masukan dari asosiasi dan Kadin daerah. Dengan keseimbangan perdagangan, kita bisa ekspor lebih banyak, termasuk produk unggulan seperti alas kaki, elektronik, hingga tekstil,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Anindya juga menyinggung pola perdagangan bilateral yang kini lebih dominan ketimbang sistem multilateral. Ia menyamakan gaya ini dengan praktik “dagang ala Glodok” yang menekankan pada negosiasi langsung dan praktis.
“Model ini ternyata juga sedang digunakan di level global. Pendekatan bilateral sekarang jadi andalan,” katanya.
Anindya pun menyoroti perlunya reformasi regulasi domestik, termasuk dalam hal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kuota impor, agar tidak terjebak pada deindustrialisasi. Sebaliknya, Anindya mendorong terjadinya industrialisasi berbasis nilai tambah, yang ia sebut sebagai “hidirisasi”.
Salah satu fokus utama adalah peluang Indonesia dalam transisi energi. Negara ini dinilai memiliki potensi besar dalam energi terbarukan seperti panas bumi, surya, air, dan angin, serta ketersediaan mineral kritis yang sangat strategis untuk masa depan industri hijau.
Tak hanya Amerika, Anindya juga membuka wacana kerja sama dengan pasar non-tradisional seperti Turki dan negara-negara Uni Eropa. Kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan ke Indonesia disebut telah membuka peluang perjanjian dagang baru yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha dalam negeri.
Menutup pernyataannya, Anindya mengajak seluruh pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah serta pelaku usaha, untuk bersinergi. Ia optimistis bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk memenangkan kompetisi global jika mampu merespons momentum dengan cepat dan tepat.
“Trump 1.0 dimenangkan Vietnam dan Malaysia. Untuk Trump 2.0, kita harus bisa ambil giliran. Kalau cerdik, kita bisa menyalip di tikungan,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 3KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 8Prediksi Sassuolo vs Lazio 28 Oktober 2026: Jay Idzes Absen, Biancocelesti Diunggulkan
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok








