Amankan Serapan 383.144 Ton Setara Beras, Bulog Jateng Gandeng Babinsa

AKURAT.CO Perum Bulog cabang Solo Raya (Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Klaten, Boyolali, Surakarta) terus menggenjot serapan gabah petani di tengah panen raya yang terus berlangsung.
Selama musim panen 2025 target cabang Solo Raya sebanyak 10.078 ton dan realisasi sudah 4.912 ton atau 48%. Demi mengamankan target serapan tersebut, Bulog menggandeng Babinsa atau Bintara Pembina Desa.
Secara nasional Bulog mendapat target dari pemerintah sebanyak 3 juta ton setara beras pada masa panen raya Maret-April 2025. Penyerapan gabah petani tersebut nantinya menjadi bagian dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP)
Wakil Pemimpin Wilayah Bulog bagian Jawa Tengah, Fadillah Rachmawati mengatakan lantaran keterbatasan SDM, dibutuhkan kolaborasi kerja sama berbagai pihak tak hanya Babinsa TNI, tapi juga Kementan, Polri dan Pemda.
"Kenapa kami membutuhkan tenaga Babinsa? Karena selama ini tenaga Babinsa itu justru sudah membantu Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), mereka membantu sejak sebelum tanam dan sudah kerja sama dengan Dinas Pertanian," ujarnya.
Baca Juga: Menko Zulhas Instruksikan Bulog Serap 750 Ribu Ton Beras di Maret 2025
Ditambahkan, Babinsa bersama PPL mengetahui persis lokasi-lokasi siap panen dan sudah mendampingi petani sejak menanam bibit, benih hingga pengamanan distribusi pupuk subsidi.
"Karena sudah bersama dari awal tentu ini lebih memudahkan. Dan karena teman-teman kelompok petani atau poktan sudah mendapatkan subsidi, tentu harapannya nanti usai panen itu bisa diserap oleh bulog. Kami menyarankan atau imbau ke Bulog karena harganya terjamin Rp6.500, untuk meningkatkan nilai tukar petani atau NTP. Jadi tidak ada paksaan, tapi ini bentuknya himbawan karena kami menjamin harga," papar Fadillah.
Wakil Kepala Cabang Bulog Surakarta, Dicky Yusfarino mengatakan, sejak Februari Bulog sudah membeli gabah kering panen (GKP) dari petani di wilayah Solo Raya.
"Kami sudah membeli gabah petani dari sekitar Solo Raya dari Februari, dan diolah menjadi beras, salah satunya dari Sentra Produksi Padi Sragen," kata Dicky di SPP (Sentra Produksi Padi) Sragen, Jumat (21/3/2025).
Dalam penyerapan gabah petani, Dicky mengungkapkan, menerapkan dua skema. Pertama melalui tim pengadaan Bulog langsung membeli ke petani dan digiling di Sentra Penggilingan Padi atau SPP, salah satunya SPP Sragen. Kedua dengan skema mitra maklon.
Untuk Kabupaten Sragen sendiri yang sudah terserap sekitar 1.079 ton dari target 3.654 ton. Sementara di wilayah Bulog Jawa Tengah ditargetkan penyerapan sebanyak 383.144 ton setara beras.
SPP Sragen saat ini sudah menggiling lebih dari 2.000 ton gabah kering petani dari total 4.912 ton di Solo Raya. Secara total, kapasitas driyer di Cabang Bulog Surakarta mencapai 600 ton, dimana 120 ton di antaranya oleh SPP Seragen sendiri.
"Per hari itu per siklus pengeringan biasanya ada yang 24 jam bahkan sampai 2x24 jam marena jenis driyernya berbeda-beda. Kalau di SPP Sragen memang driyernya sudah cukup teknologinya sudah terbaru. Tapi kalau lihat rekanan mitra maklun kita yang kecil-kecil ya itu memang kapasitasnya paling 10 ton. Bahkan pola pengeringannya itu masih menggunakan bed dryer. Jadi ya semi mekanis," paparnya.
"Potensi panen saat ini berada di Klaten, Sukoharjo dan Karanganyar. Tapi panen didahului dan paling banyak di Sragen. Saat ini sudah full pengadaan, bahkan kita bekerja hingga 2-3 shift, karena memang sedang panen raya," ujarnya lagi.
Sementara itu, Perwakilan President Communication Office (PCO) atau Jubir Prabowo, Prita Laura mengatakan, kedatangan dirinya memantau pengadaan gabah Bulog ini untuk melihat secara langsung proses implementasi kebijakan Presiden, terutama dalam upaya memperkuat pertanian dan mendorong kemandirian pangan.
"Beras menjadi salah satu prioritas. Karena itu, Pemerintah memberikan investasi ke Bulog sebanyak Rp16,6 triliun," katanya.
Anggaran tersebut untuk dua hal. Pertama, memastikan ada bahan pangan di masyarakat. Sebab, bahan pangan akan sangat terkait keamanan. Kedua, memastikan harga yang mudah dijangkau masyarakat dan mensejahterakan petanda.
Dengan harga tinggi, Prita berharap dapat memotong praktek yang selama ini dapat memiskinkan petani. "Kami ingin melihat bagaimana kebijakan tersebut dilaksana," ujarnya. memperkuat pertanian dan mendorong kemandirian pangan.
"Beras menjadi salah satu prioritas. Karena itu, Pemerintah memberikan investasi ke Bulog sebanyak Rp 16,6 triliun," katanya.
Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dikaliberasi dengan beberapa kebijakan pemerintah yang ada saat ini, termasuk upaya edukasi petani. Jadi bagaimana petani bisa berkomitmen menjual gabah yang berkualitas baik.
Dengan gabah berkualitas baik, beras yang akan dihasilkan Bulog akan baik juga. Begitu juga sebaliknya, jika petani menjual gabah kualitasnya jelek, maka beras yang Bulog hasilkan juga akan tidak baik. Bahkan harus melalui proses lebih lama lagi dan susutnya juga lebih banyak.
"Disini kita perlu edukasi petani untuk meningkatkan kualitas gabah. Misalnya, jangan terburu-buru menjual kalau belum waktu panen. Pemerintah berkomitmen secara paralel dari hulu hingga hilir dan mempastikan harga beli sesuai kebijakan pemerintah dan memutus prakter memiskinkan petani," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










