MIND ID Perkuat Ekosistem Industrialisasi Indonesia Lewat Hilirisasi Tembaga

AKURAT.CO Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat rantai pasok produksi tembaga nasional.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahan baku industri tersedia secara berkelanjutan, sekaligus mendorong pertumbuhan industri berbasis sumber daya alam di Indonesia.
Corporate Secretary MIND ID, Heri Yusuf, menekankan bahwa kebutuhan tembaga di Indonesia akan terus meningkat di berbagai sektor, mulai dari industri energi hijau, pembangkit listrik, hingga kendaraan listrik. Menurutnya, dengan ekosistem yang semakin kuat, industri pendukung berbasis tembaga pun berpotensi tumbuh lebih masif di dalam negeri.
"Tembaga merupakan mineral strategis yang memiliki peran penting dalam penghantaran energi. Kami di MIND ID konsisten menjalankan hilirisasi secara berkelanjutan dan siap mendukung industri untuk menghasilkan berbagai produk teknologi inovatif berbasis tembaga di dalam negeri," ujar Heri dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/3/2025).
Baca Juga: Tekan Impor Bahan Baku Industri, MIND ID Optimistis Hilirisasi Jadi Solusi
Heri menuturkan, dengan cadangan tembaga sebesar 28 juta ton, Indonesia menjadi negara dengan cadangan terbesar ketujuh di dunia.
Tercatat, pada tahun 2023, produksi tembaga nasional mencapai 840 ribu metrik ton, dengan sebagian besar telah diolah di dalam negeri melalui kebijakan hilirisasi yang terus diperkuat oleh pemerintah.
Heri bilang, hal ini menjadi salah satu langkah konkret MIND ID dalam memperkuat hilirisasi adalah dengan menghadirkan smelter PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur. Smelter ini menjadi infrastruktur kunci dalam pemurnian tembaga nasional yang akan meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah mineral di dalam negeri.
"Dengan beroperasinya smelter Manyar, total produksi katoda tembaga dari Freeport akan mencapai 1 juta ton per tahun. Hal ini juga akan mendorong total produksi katoda tembaga Indonesia menjadi 1,5 juta ton per tahun," terang Heri.
Baca Juga: Jubir Erick Beberkan Alasan Penunjukan Dirut Baru MIND ID
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam industri global. Dengan produksi yang lebih besar, Indonesia berpotensi menjadi produsen katoda tembaga terbesar keempat di dunia, menggantikan Jepang.
Saat ini, tiga produsen terbesar adalah China dengan 12 juta ton, diikuti oleh Chili dengan 2 juta ton, dan Kongo dengan 1,9 juta ton.
Selain memperkuat posisi Indonesia di pasar global, peningkatan produksi ini juga membuka peluang bagi tumbuhnya industri manufaktur berbasis tembaga di dalam negeri.
Heri menabahkan bahwa dengan pasokan tembaga yang lebih besar dan berkelanjutan, diharapkan lebih banyak investor tertarik untuk mendirikan pabrik manufaktur di sekitar kawasan industri Gresik.
Dengan semakin berkembangnya basis industri di Gresik, investor dapat memastikan pasokan tembaga yang lebih dekat, sehingga kegiatan operasional produksi menjadi lebih efisien.
"Kami sangat berharap industrialisasi berbasis sumber daya alam mineral ini dapat berjalan optimal, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan menjadi bagian dari visi Indonesia Emas 2045," pungkas Heri.
Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki salah satu cadangan tembaga terbesar di dunia, menjadikannya pemain penting dalam industri mineral global. Seiring dengan meningkatnya permintaan tembaga, terutama untuk industri energi hijau dan kendaraan listrik, hilirisasi menjadi strategi kunci untuk memperkuat ekosistem industrialisasi dalam negeri.
Melalui PT Freeport Indonesia (PTFI), MIND ID menjalankan peran krusial dalam hilirisasi tembaga agar lebih banyak industri strategis dapat berkembang di dalam negeri.
Hal ini semakin relevan dengan meningkatnya kebutuhan tembaga untuk kendaraan listrik, yang menggunakan 4 hingga 5 kali lebih banyak dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










