AS-China Kembali Memanas, Beijing Siap Gugat Tarif Trump ke WTO

AKURAT.CO Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali meningkat setelah pemerintahan Donald Trump memberlakukan tarif baru terhadap barang-barang asal China.
China Kecam Kebijakan Tarif AS
Langkah ini mendapat kritik keras dari Kementerian Perdagangan China, yang menyebut kebijakan tarif tersebut sebagai tindakan sepihak yang memperburuk perdagangan global.
Mengutip Reuters, tarif sebesar 10 persen resmi diberlakukan terhadap berbagai produk China.
Sementara itu, ancaman tarif 25 persen terhadap Kanada dan Meksiko ditangguhkan selama 30 hari, setelah kedua negara berjanji memperketat pengawasan perbatasan.
Baca Juga: AS Tuduh China Pasok Bahan Kimia Fentanil, Beijing Siap Gugat ke WTO
Dampak Global dari Perang Dagang
Kebijakan tarif ini tidak hanya berdampak langsung pada negara-negara yang terlibat, tetapi juga mengguncang pasar global.
Investor dan pelaku usaha mulai khawatir bahwa perang dagang berkepanjangan dapat:
- Mengganggu rantai pasok global
- Menaikkan harga barang
- Memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia
China menilai tarif tambahan AS adalah bentuk proteksionisme yang tidak sehat, yang justru memperburuk hubungan ekonomi antarnegara.
Baca Juga: Tekstil Impor Ilegal China Rugikan Negara Rp46 Triliun, Wakil Ketua DPR Minta Pemerintah Tegas
China Siap Gugat ke WTO
Menanggapi kebijakan ini, China menegaskan tidak akan tinggal diam.
Menurut Juru Bicara Kementerian Perdagangan China, He Yongqian, Beijing siap menggugat kebijakan tarif AS ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Menurut China, langkah AS yang terus-menerus menerapkan tarif tambahan tidak hanya merugikan China, tetapi juga melanggar prinsip perdagangan internasional.
Beijing juga menekankan bahwa mereka telah berupaya menjalin komunikasi dan negosiasi dengan berbagai negara untuk menghadapi tren proteksionisme ini.
"China siap bekerja sama dengan negara lain untuk menghadapi tantangan unilateralisme dan proteksionisme perdagangan," tegas He Yongqian.
Jika perang tarif ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin dunia akan menghadapi ketidakstabilan ekonomi yang lebih besar.
"Banyak perusahaan multinasional kini mencari cara untuk menghindari dampak tarif ini, salah satunya dengan memindahkan produksi mereka ke negara-negara Asia Tenggara," paparnya.
China tetap membuka pintu dialog diplomatis, tetapi jika AS terus melanjutkan kebijakan tarifnya, Beijing tak ragu untuk mengambil langkah lebih tegas demi melindungi kepentingan ekonominya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









