Akurat

Harga Properti Residensial Kuartal III-2024 Melambat

Hefriday | 28 November 2024, 23:44 WIB
Harga Properti Residensial Kuartal III-2024 Melambat

AKURAT.CO Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis oleh Bank Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer pada kuartal III-2024 yang terbatas.

Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada periode ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,46% secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang mencapai 1,76% (yoy).

Penurunan pertumbuhan IHPR ini mengindikasikan adanya perlambatan dalam dinamika pasar properti residensial, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi secara umum.

Baca Juga: Housing Bubble, Fenomena Meroketnya Harga Properti

Dalam survei yang sama, terungkap pula bahwa penjualan properti residensial di pasar primer mengalami kontraksi sebesar 7,14% (yoy). Penurunan ini terjadi pada semua tipe rumah, dengan penurunan terbesar terjadi pada rumah tipe kecil.

Bank Indonesia mencatat bahwa penurunan penjualan tidak hanya terjadi pada rumah tipe kecil, tetapi juga pada tipe menengah dan besar. Namun, segmen rumah tipe kecil menjadi yang paling terdampak, mengindikasikan adanya tekanan pada segmen pasar yang biasanya menjadi pilihan konsumen kelas menengah ke bawah.

Di sisi pembiayaan pembangunan properti residensial, pengembang masih mengandalkan dana internal sebagai sumber utama, dengan pangsa sebesar 74,31%. Kondisi ini mencerminkan minimnya ketergantungan pada sumber pembiayaan eksternal, meskipun ada potensi risiko pada pengembang kecil yang memiliki keterbatasan dana internal.

Sementara itu, dari perspektif konsumen, mayoritas pembelian rumah primer dilakukan melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pangsa KPR dalam pembelian rumah primer mencapai 75,80%, menunjukkan bahwa KPR tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hunian.

Penurunan penjualan properti residensial ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri properti yang sedang berupaya pulih setelah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Para pengembang diharapkan mampu mengadaptasi strategi pemasaran, seperti memberikan insentif menarik atau meningkatkan fleksibilitas dalam skema pembiayaan.

Bank Indonesia juga mendorong perbankan untuk lebih proaktif dalam mendukung pembiayaan sektor properti, khususnya melalui program-program kredit yang lebih kompetitif dan terjangkau. Langkah ini diharapkan dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat.

Meskipun pasar properti menghadapi tantangan, beberapa pengembang optimis bahwa pasar akan kembali pulih dalam beberapa triwulan mendatang. Menurut mereka, fokus pada pembangunan rumah dengan harga yang lebih terjangkau, terutama di segmen rumah tipe kecil, dapat menjadi salah satu solusi untuk menarik minat konsumen.

Di sisi lain, keberlanjutan proyek-proyek properti residensial yang mengutamakan konsep ramah lingkungan dan teknologi modern juga dianggap sebagai strategi jangka panjang yang menjanjikan. Tren ini mulai diminati oleh konsumen yang semakin sadar akan pentingnya keberlanjutan.

Pemerintah dan pihak swasta diharapkan dapat bersinergi untuk mengatasi tantangan di sektor properti. Salah satu bentuk dukungan yang diusulkan adalah pemberian insentif pajak bagi konsumen pertama yang membeli rumah serta pengembangan skema pembiayaan alternatif yang lebih inklusif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa