Akurat

RI Inisiasi Diskusi Internasional Soal Fortifikasi Pangan

Hefriday | 14 Oktober 2024, 17:39 WIB
RI Inisiasi Diskusi Internasional Soal Fortifikasi Pangan

AKURAT.CO Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan internasional penting yang membahas Fortifikasi Pangan Skala Besar atau Large-Scale Food Fortification (LSFF). Acara ini diadakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bekerja sama dengan Global Health Strategies. 

Pertemuan ini dihadiri lebih dari 80 peserta, termasuk perwakilan dari pemerintah, ahli, akademisi dari Asia dan Afrika, serta organisasi global seperti UNICEF, WHO, dan OECD. Fokus utama diskusi adalah upaya mengatasi kekurangan mikronutrien di negara-negara berkembang, terutama melalui fortifikasi pangan.

Fortifikasi pangan telah lama diakui sebagai salah satu intervensi yang efektif untuk mengatasi masalah gizi, terutama kekurangan zat besi, kalsium, seng, yodium, folat, dan vitamin. Kekurangan mikronutrien ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk stunting yang berdampak pada perkembangan fisik dan kognitif anak-anak. 
 
 
Menurut Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Amich Alhumami, menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat program kesehatan dan gizi nasional.

“Indonesia berkomitmen memperkuat program kesehatan dan gizi sebagai bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah, serta memasukkannya dalam program tahunan pemerintah. Hal ini ditunjukkan melalui komitmen politik yang kuat dengan pengaturan regulasi yang mendukung, alokasi sumber daya yang tepat, serta koordinasi lintas sektor,” ujar Deputi Amich Alhumami di Jakarta, Senin (14/10/2024).

Fortifikasi pangan menjadi semakin penting bagi negara dengan wilayah ekonomi rendah, di mana banyak orang memiliki pola makan yang kurang beragam. Program ini sangat berdampak pada kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak-anak. 
 
Fortifikasi terbukti sebagai salah satu investasi kesehatan yang paling menguntungkan, dengan potensi pengembalian investasi sebesar USD27 untuk setiap USD1 yang diinvestasikan. Manfaat ekonomi ini berasal dari pencegahan penyakit, peningkatan pendapatan, dan produktivitas kerja.

Deputi Amich juga menekankan pentingnya kolaborasi antar negara berkembang atau Global South untuk keberlanjutan LSFF. “Untuk keberhasilan implementasi program fortifikasi makanan ke depan, sangat penting untuk terus mendukung inisiatif ini dengan mengintegrasikannya ke dalam strategi kesehatan nasional dan memperkuat kolaborasi multisektor yang berkelanjutan. Dengan begitu, kita bisa memastikan kemajuan dalam memperbaiki kesehatan publik dan keberhasilan jangka panjang program ini,” tambahnya.

Pada pertemuan ini, negara-negara seperti Bangladesh, India, Nigeria, dan Ethiopia turut berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai implementasi fortifikasi pangan. Indonesia sendiri telah menerapkan fortifikasi pada garam, minyak goreng, dan tepung terigu, dan kini tengah memperluas program tersebut pada beras, salah satu bahan pokok utama di Indonesia.

Hasil signifikan lainnya dari pertemuan ini adalah peluncuran platform pertukaran pengetahuan atau knowledge exchange platform untuk negara-negara berkembang di Global South. Platform ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama antar negara dalam berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam fortifikasi pangan, demi memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program ini di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa