Akurat

Menggenjot Kontribusi Halal Value Chain ke Ekonomi RI

Hefriday | 4 Oktober 2024, 20:28 WIB
Menggenjot Kontribusi Halal Value Chain ke Ekonomi RI

AKURAT.CO Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, memiliki potensi besar untuk memimpin industri halal global. Salah satu konsep penting dalam ekonomi syariah yang dapat membantu mencapai hal ini adalah Halal Value Chain (HVC).

HVC mencakup seluruh proses produksi dari hulu ke hilir, termasuk produksi bahan mentah, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi akhir, yang semuanya mematuhi standar halal. Pada tahun 2023, sektor-sektor utama dalam HVC berkontribusi sebesar 23% terhadap ekonomi nasional, menunjukkan potensi besar dari ekonomi syariah untuk terus berkembang.

Menurut Mohammad Nabil Almunawar dari UBD School of Business and Economics, Universiti Brunei Darussalam, untuk meningkatkan kontribusi HVC ke perekonomian Indonesia, pemerintah perlu fokus pada 4 sektor utama yang menopang sebagian besar kontribusi terhadap PDB, yaitu:

  • Pertanian Halal. Sektor ini mencakup produksi bahan pangan halal dari hulu. Dengan teknologi pertanian yang semakin maju dan sertifikasi halal yang ketat, pertanian halal memiliki peluang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi
  • Industri Makanan dan Minuman Halal. Industri ini mencakup pengolahan makanan halal untuk konsumsi lokal maupun ekspor. Peningkatan kualitas produk halal dan sertifikasi yang diakui internasional akan membuka akses yang lebih luas ke pasar global.
  • Pariwisata Ramah Muslim (PRM). Pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim dari segi fasilitas ibadah, makanan halal, dan akomodasi yang sesuai dengan nilai-nilai syariah semakin berkembang pesat
  • Fesyen Muslim. Tren fesyen Muslim yang semakin berkembang, baik di pasar domestik maupun internasional, juga menjadi sektor penting dalam rantai nilai halal

Selain itu, ada 3 strategi yang bisa dilakukan untuk menguatkan Halal Value Chain Indonesia. Pertama, peningkatan teknologi dan inovasi. Mengadopsi teknologi baru dalam produksi, pengolahan, dan distribusi produk halal dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing. Misalnya, penggunaan blockchain untuk memastikan transparansi dalam rantai pasokan halal dan digitalisasi proses sertifikasi dapat mengurangi waktu dan biaya produksi.

Baca Juga: 5 Hal Yang Perlu Pemerintah Lakukan Untuk Genjot Industri Halal RI

Kedua, sertifikasi halal yang diterima global. Untuk bersaing di pasar global, produk halal Indonesia harus memenuhi standar sertifikasi yang diakui secara internasional. Proses sertifikasi yang transparan, cepat, dan terintegrasi akan menjadi kunci penting.

"Ketiga, infrastruktur halal yang memadai. Penyediaan infrastruktur seperti kawasan industri halal, laboratorium sertifikasi halal, dan fasilitas distribusi yang mendukung penyebaran produk halal harus menjadi prioritas. Hal ini akan mempermudah ekspor produk halal ke pasar internasional," ujar Nabil, Jumat (4/10/2024).

Dijelaskan, penguatan HVC tidak hanya berdampak positif pada ekonomi syariah, tetapi juga pada ekonomi nasional secara keseluruhan. Dengan meningkatnya kontribusi sektor halal terhadap PDB, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor konvensional. Selain itu, peningkatan ekspor produk halal dapat membantu meningkatkan neraca perdagangan dan membawa investasi asing ke dalam negeri.

"Untuk memaksimalkan potensi ini, Indonesia perlu fokus pada penguatan infrastruktur halal, peningkatan teknologi, dan harmonisasi standar sertifikasi internasional. Dengan demikian, Indonesia dapat memimpin industri halal global dan memanfaatkan sepenuhnya peluang yang ada di pasar global yang semakin kompetitif," imbuhnya.

Tantangan

Walaupun HVC memiliki potensi besar, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi, sebagaimaa penjelasan berikut.

  • Kompleksitas Regulasi. Perbedaan regulasi halal di berbagai negara menghambat ekspansi produk halal Indonesia ke pasar internasional. Harmonisasi standar halal internasional diperlukan agar ekspor produk halal dapat meningkat.
  • Persaingan Global. Negara-negara seperti Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki telah lama mengembangkan industri halal mereka. Indonesia harus mampu bersaing melalui inovasi produk dan kualitas yang tinggi.
  • Kurangnya Fasilitas Sertifikasi Halal. Fasilitas sertifikasi yang terbatas dan proses yang lambat seringkali menjadi hambatan bagi pengusaha kecil dan menengah untuk mendapatkan sertifikasi halal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa