Akurat

GGF dan Asa Substitusi Buah Impor

M. Rahman | 4 Juli 2024, 04:03 WIB
GGF dan Asa Substitusi Buah Impor

AKURAT.CO Indonesia dibanjiri produk buah impor. Nilainya tak tanggung-tanggung, sekitar Rp19,1 triliun per tahun. Buah paling banyak diimpor menurut catatan pemerintah yakni anggur, apel, jeruk dan pir.

Buah impor yang memenuhi pasar Indonesia tak sekedar persoalan supply demand semata. Masalahnya, petani lokal jadi tak berdaya. Hal itulah yang menggerakkan Great Ginat Food (GGF) untuk bercita-cita menutup defisit buah-buahan nasional. CEO GGF, Tommy Wattimena mengatakan impor buah dari luar sudah terlampau banyak. Sayang jika petani lokal tak menjadi tuan rumah di negara berpenduduk lebih dari 280 juta ini.  

"Impor buah-buah dingin Rp19,1 triliun, tahun lalu. Bayangkan, ini kan banyak banget. Jadi salah satu tujuan kita sebelum ekspor (produk GGF), kita pastikan dulu di Indonesia terpenuhi. Itu saja dulu. Ya harapannya dengan kita memenuhi kebutuhan pasar, kita enggak perlu defisit buah-buahan. Rupiah turun terus, kita impor terus. Anak-anak kita sudah enggak makan buah Indonesia lagi, makannya apel Mandarin, pir, anggur. kesemek dan kedondong sudah lupa," ujarnya saat ditemui di sela Jakarta Fair Kemayoran 2024, Rabu (3/7/2024).

Salah satu upaya GGF untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar yakni dengan menggandeng petani plasma demi memproduksi buah-buahan berkualitas. Untuk pisang Sunpride (merek dagang GGF) saja misalnya, tak kurang dari 1.200 petani plasma dirangkul.

"Saya punya cita-cita membudidayakan petani, enggak harus cavendish (pisang), untuk buah-buah lokal supaya mereka bisa jual. Karena petani kita itu rata-rata hasilnya tidak bisa dijual. Jadi banyak yang rusak di asalnya atau ketika sudah dikirim ke Jakarta harganya mahal banget karena ongkos transportasinya dan mohon maaf banyak silumannya membuat supply chain mahal. Makanya kita bikin jaringan agar clean, memastikan bahwa petani itu bisa menjual," ujarnya.

Merangkul petani plasma juga menjadi salah satu jalan untuk menggenjot produksi mengingat ekstensifikasi lahan sulit terjadi. Sangat jarang pemerintah mengizinkan pembukaan lahan baru di tengah kian padatnya penduduk. Apalagi bagi perusahaan besar seperti GGF yang memiliki lahan seluas 34.000 hektare di Lampung dan Jawa Timur.

"Jadi memang untuk agriculture itu secara umum butuh kolaborasi antara pemerintah, petani dan swasta. Kita yang membranding, memastikan kualitas produk petaninya bisa dijual dan diekspor. Kita ajari mereka menanam yang bagus. Kemudian pemerintah menyediakan infrastruktur, pinjaman dan lainnya seperti di Thailand. Kami juga melakukan pendampingan dan pelatihan ke petani, termasuk penyediaan bibit. Jadi harapan saya selain kelapa sawit, buah-buahan kita bisa lah jadi andalan," terangnya.

Inovatif

Asal tahu, GGF lewat entitasnya, Great Giant Pineapple (GGP) sudah menguasai pasar global khususnya untuk kategori nanas. GGP menjadi salah satu pemain terbesar, melewati Thailand, dengan nilai ekspor tahunan tembus Rp151 miliar dan volume lebih dari 13.000 kontainer atau 700.000 metrik ton per tahun.

Namun berbeda dengan pasar global, menurut Tommy untuk bisa menaklukan pasar Indonesia dibutuhkan inovasi secara berkelanjutan. Sebagai entitas Gunung Sewu Group yang memiliki lini bisnis makanan yang terintegrasi secara vertikal, GGF senantiasa melakukan trial and error, salah satunya lewat produk turunan berupa chips (keripik) dan jus dalam cane (kaleng).

Pemilihan rasa jus dalam kalengpun tak sembarangan melainkan melalui riset mendalam (memakan waktu satu tahun). Jadi GGF tak serta merta menurunkan semua produk buah-buahan menjadi jus dalam kaleng. Untuk rasa yang tidak populer seperti durian misalnya, mereka hindari.

"Durian itu love and hate nya tinggi dan urutan konsumsinya di Indonesia cuma nomor 13-14. Jadi nomor satu itu pisang, kedua papaya, ketiga jeruk. Nah untuk nanas itu kami harapannya dicampur dengan yang lain. Karena kalau untuk bikin 100% itu kan mahal (ongkos produksi). Pilihannya yang murah kalau enggak apple ya appleorange juice kalau mau 100 persen," tukasnya.

Baca Juga: Great Giant Pineapple Teken Kerjasama Inovasi Produk Dengan FIRDI

"Kebetulan kita kan punya nanas banyak. Dan ini kalau tidak habis diekspor ya dibikin jus. Jadi saya bisa bikin 100 persen jus. Mereka kompetitor boleh saja compete tapi yang benar-benar bikin 100 persen jus rasanya enggak banyak," imbuhnya.

Inovasi produk jus dalam kaleng di bawah merek Sunpride (semula Duta) ini bersambut dengan perubahan perilaku konsumen Indonesia yang sejak pasca Covid-19 banyak melirik produk yang lebih sehat. "Saya yakin kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesehatan semakin bagus. Anak-anak kita sekarang juga lebih kritis tentang ingredient (bahan baku), tentang Kesehatan. Harganya sudah pasti akan sedikit premium. Tapi dari pada minum dengan komposisi yang banyak gula buatan, konsentrat, pewarna, flavour?," kata Tommy.

Kandungan 100% jus atau kemurnian juga menjadi diferensiasi GGF di segmen ini. Pasalnya, mayoritas minuman jus dalam kemasan yang beredar di pasar banyak campurannya mulai dari pemanis buatan, nitric acid (asam nitrat), flavour (perisa), preservative (pengawet) dan sebagainya.

"Kita diferensiasi pasti. Produk kita berbeda dengan sekarang yang ada di pasar. Kita produksi ini langsung dari plantation di Lampung di dekat Way Kambas, benar-benar murni on farm production," jelasnya.

Inovasi juga nampak dari varian rasa yang ditawaran oleh jus dalam kaleng GGF. Mulai dari rasa nanas murni, hingga rasa nanas campuran. Pihaknya siap mendistribusikan produk ini ke pasar pada akhir Juli 2024 dengan strategi harga promo 6 kaleng Rp50.000 saja (setara secangkir kopi Starbuck) atau harga normal Rp12.000 per kaleng. "Bisa minum Starbuck setiap hari harusnya bisa minum ini," kelakar Tommy.

Inovasi GGF lainnya, termasuk penggunan teknologi berbeda untuk setiap lini produk. Misalkan untuk minuman jus dalam kaleng Sunpride yang menggunakan pasteurisasi, sehingga tidak menggunakan preservative (pengawet) dan pemanis buatan. Berkat teknologi ini, jus tersebut kadaluwarsanya bisa sampai setahun lebih sehingga lebih bisa menjangkau masyarakat luas untuk minuman sehari-hari pengganti kopi.

Sementara untuk minuman dengan merek Re.juve mereka, teknologi yang digunakan adalah cold-pressed layaknya hiperbarik yang ditekan dengan tekanan udara agar semua bakterinya mati. Minuman ini hanya tahan lama 21 hari saja sehingga tidak diedarkan lewat ritel dan tidak menjangkau seluruh Indonesia.

Investasi

CEO of Consumer Branded Business GGF, Stephanie V. Gondokusumo menambahkan, untuk memproduksi jus dalam kaleng Sunpride, GGF telah berinvestasi setidaknya USD1,5 juta setara Rp24,5 miliar (kurs Rp16.341 per dolar AS) untuk menambah fasilitas baru di Lampung. Fasilitas ini saat ini belum terutilisasi penuh dan baru akan memproduksi sekitar 1,2 juta kaleng jus hingga akhir tahun 2024. Nantinya akan digenjot menjadi 5-6 juta kaleng per tahun pada 2025.

"Fasilitas ini untuk memastikan kualitas yang lebih tinggi dari sebelumnya. Kita ada rencana produksinya nanti lebih besar secara volume. Juga untuk riset varian rasa baru ya karena kita harus memastikan formulasinya enak terlebih dahulu. Yang pineapple mix ini saja cukup lama (risetnya) sekitar 1 tahun untuk memastikan balance betul, rasanya masih enak, manisnya dapat tapi asamnya juga dapat," tukasnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa