Apindo: Pengusaha Kecil Lebih Optimis 5 Tahun ke Depan

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2024 sejatinya semakin menantang dengan tren perlambatan ekonomi global yang masih terus terjadi dan momentum melemah pasca pemilu serta lebaran yang telah menopang ekonomi pada awal tahun.
Di mana pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 sebesar 5,11% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 5,049 (yoy). Namun pertanyaan besarnya adalah, bagaimana kondisi dunia usaha di tengah ekspansi yang bergantung kepada stabilitas makroekonomi dan ketersediaan dana untuk investasi dan beroperasi.
Merespon hal tersebut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menjelaskan bahwa berdasarkan survei roadmap perekonomian Apindo 2024 hingga 2029 mayoritas perusahaan meyakini bahwa perusahaan akan tetap bertumbuh di atas 3% selama lima tahun kedepan.
"Namun sekitar 22,93 persen menilai tumbuh di bawah 3 persen dan sekitar 15,45 persen menilai tidak akan tumbuh atau justru turun selama 5 tahun kedepan," paparnya pada saat webinar AKURAT.CO dengan judul Pertumbuhan Kredit di Tengah Ancaman Risiko Global di Jakarta, Selasa (25/6/2024), yang didukung oleh BNI dan Jamkrindo.
Baca Juga: NPL UMKM Naik, Ekonom: Dampak Suku Bunga Tinggi
Lebih detail, tambahnya, usaha skala kecil cenderung lebih optimis daripada perusahaan skala besar untuk proyeksi pertumbuhan lima tahun kedepan dengan persentase UKM lebih besar sebesar 62,56% meyakini pertumbuhan di atas 3%, dibandingkan perusahaan skala besar dengan capaian nilai sebesar 58,62%. Sedangkan untuk presentasi UKM yang meyakini tidak akan tumbuh hanya sebesar 15,19% dibandingkan dengan perusahaan skala besar dengan nilai 17,24%.
"Sehingga dapat disimpulkan bahwa modal usaha atau sumber pembiayaan menjadi determinan, secara tidak langsung perusahaan skala besar menjadikan persaingan yang sangat tinggi sebagai determinant factor untuk tidak melakukan rencana ekspansi dalam lima tahun kedepan diikuti dengan peluang pasar yang terbatas. sedangkan bagi para UKM modal usaha menjadi salah satu kendala utama untuk tidak melakukan rencana ekspansi dalam limat tahun kedepan diikuti dengan persaingan yang sangat tinggi dan peluang pasar yang terbatas," paparnya kembali.
Kemudian berdasarkan hasil survei Apindo, lanjutnya, sekitar 95,02% perusahaan mengandalkan sumber pembiayaan yang berasal dari dalam negeri. Sedangkan sumber pembiayaan pendanaan usaha lainnya berasal dari Modal pemilik dengan capaian nilai sebesar 49,35%, perbankan sebesar 39,63 %, pasar modal sebesar 4,25 %, peer to peer lending 1,44 % dan sekitar 5,33% menggunakan sumber pembiayaan lainnya.
"Beralih ke fokus kredit, tentunya kami melihat harus diberikan pada sektor-sektor prioritas, seperti sektor manufaktur dan perdagangan memiliki kontribusi besar terhadap PDB namun memiliki pertumbuhan kredit (yoy) yang kecil. Pertumbuhan kredit pada sektor pada modal sangat tinggi sedangkan pada sektor pada karya justru sebaliknya," ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Shinta, jika dapat disimpulkan maka Apindo melihat ada dua hal yang sangat dibutuhkan oleh dunia usaha, yakni suku bunga pinjaman yang kompetitif serta kemudahan akses pinjaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










