Akurat

CPOPC: ISPO Sudah Penuhi Syarat Berkelanjutan

Demi Ermansyah | 21 Mei 2024, 17:52 WIB
CPOPC: ISPO Sudah Penuhi Syarat Berkelanjutan

AKURAT.CO Dewan Negara-negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC) menyatakan bahwa komoditas kelapa sawit yang ada di Indonesia sudah menerapkan pola sustainability (keberlanjutan), di antaranya melalui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal CPOPC, Rizal Affandi Lukman. Dirinya menjelaskan bahwa melalui sertifikasi ISPO sudah memenuhi syarat berkelanjutan. "Jadi ISPO sudah memenuhi syarat berkelanjutan," kata Sekretaris Jenderal CPOPC Rizal Affandi Lukman di Jakarta, Selasa (21/5/2024).

Lebih lanjut dirinya menyampaikan bahwa perlunya mendorong sertifikasi ISPO adalah untuk membuktikan bahwa kelapa sawit pola budidaya yang diterapkan telah memenuhi syarat sustainable, terlebih itu menjadi syarat untuk bisa tetap melakukan ekspor ke negara uni Eropa (UE).

Seperti yang diketahui, di tahun 2023 lalu, Indonesia dan Malaysia merupakan eksportir minyak sawit terbesar dunia yang masing-masing sebesar 28,6 juta ton (56%) dan 15,1 juta ton (29,6%).

Rizal menyatakan walaupun ekspor ke UE tidaklah besar tapi akan memberikan dampak signifikan terhadap petani sawit, sebab ada kesenjangan antara regulasi EUDR dan kondisi di lapangan yang dihadapi petani sawit sehari-hari.
 
Baca Juga: BPDPKS Bakal Berdayakan UKM Sawit

Regulasi tersebut memberlakukan benchmarking atau pengelompokan negara eksportir berdasarkan tingkat risiko deforestasi, yakni risiko tinggi, risiko menengah dan risiko rendah. "Sehingga dalam hal ini kita pastikan jangan sampai petani sawit tertinggal, jadi kita meminta kepada pihak UE untuk bisa tetap memperhatikan perhatian terhadap petani," katanya

Sementara itu, menurut Tim Penguatan dan Pelaksanaan ISPO, Rismansyah Danasaputra sawit berkelanjutan adalah keniscayaan, bukan desakan global. "Sertifikasi berkelanjutan ISPO menjadi salah satu panduan berharga dalam membangun daya saing sawit di tingkat nasional, regional dan global," ujarnya.

Mantan Direktur di Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian itu memaparkan pada 2022 tujuan ekspor utama minyak sawit Indonesia adalah China sebesar 16,72%, India sebesar 11,13% dan AS sebesar 6,07% sedangkan ke negara UE hanya 12,7%.

Kadiv Perusahaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Achmad Maulizal Sutawijaya menambahan terkait pentingnya sertifikasi ISPO untuk pembuktian bahwa kelapa sawit di Indonesia telah sustainable.

Saat ini sekitar 2,4 juta petani swadaya yang melibatkan 4,6 juta pekerja pada sektor kelapa sawit, lanjutnya, artinya jika sampai komoditas kelapa sawit terpukul oleh aturan EUDR maka akan ada jutaan petani dan pekerja yang ikut merasakan dampaknya.

Untuk itu, dia menambahkan, selain mendorong sertifikasi ISPO kampanye positif juga harus semakin agresif dilakukan terhadap negara-negara yang selama ini diskriminatif dalam perdagangan minyak sawit, seperti negara-negara Uni Eropa.

"Kami sudah menyiapkan strategi kampanye positif di Uni Eropa. Ini sekaligus untuk mengimbangi opini terkait sawit yang masih negatif di kalangan masyarakat dan pengambil kebijakan di Eropa," katanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.