KNKT Ungkap Hasil Investagasi Kecelakaan Kereta Api di Cicalengka, Ternyata Karena Ini

AKURAT.CO Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap hasil investigasi terkait kecelakaan kereta api KA 350 CL Bandung Raya dan KA 65A Turangga di St. Cicalengka dan St. Haurpugur.
Plt Kasubkom Investigator KNKT, Gusnaedi Rachmanas mengatakan kecelakaan disebabkan oleh sinyal yang tidak sesuai dari sistem interface tanpa perintah peralatan blok mekanik.
Rekaman event data logger persinyalan elektrik St. Haurpugur menunjukkan adanya sinyal tidak diinginkan saat proses pemberian "warta masuk" KA 121 Malabar. Gusnaedi mengungkapkan sinyal tersebut terjadi akibat efek transien tegangan yang memengaruhi operasi pensaklaran relay sistem interface St. Cicalengka.
Baca Juga: Jasa Raharja dan KAI Serahkan Santunan Korban Kecelakaan Kereta Api di Cicalengka, Segini Nilainya
Setelah St. Haurpugur mengirim sinyal "warta lepas," indikator blok mekanik St. Cicalengka berubah menunjukkan "Blok Ke HRP," membuat petak jalan ke arah St. Haurpugur aman untuk dilalui KA.
"Uncommanded signal tersebut kemudian ditampilkan pada layar monitor Stasiun Haurpugur sebagai indikasi seolah-olah telah diberi "blok aman" oleh Stasiun Cicalengka," kata Gusnaedi dalam Zoom Meeting konferensi pers Laporan Akhir Hasil Investigasi Kecelakaan Perkeretaapian, Jakarta, Jumat (16/2/2024).
KNKT menemukan anomali serupa telah terjadi sejak Agustus 2023 tanpa teridentifikasi sebagai gangguan blok. Kesadaran terhadap potensi bahaya anomali tersebut dinilai kurang.
Baca Juga: KNKT Bentuk Tim Investigasi Kecelakaan Kereta Api di Cicalengka
"Kondisi ini menunjukkan kurangnya kesadaran terhadap potensi bahaya yang dapat ditimbulkan dari anomali tersebut," ucapnya.
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengakui faktor manusia dan peralatan mekanik yang sudah tua memengaruhi insiden tersebut.
"Memang ini keterlibatan faktor manusia, kontribusi manusia memang ada tapi di sini peralatan di Cicalengka mekanik yang sudah tua," timpalnya.
Gangguan Sinyal
Dilanjutkan Gusnaedi, tubrukan KA Turangga dan KRL Bandung Raya di kilometer 181+700 di jalur antara Cicalengka dan Haurpugur, Bandung, pada 5 Januari 2024 juga disebabkan bias konfirmasi sinyal dan kecelakaan tersebut terjadi karena adanya sinyal yang tidak sesuai yang dikirim oleh sistem interface Stasiun Cicalengka, tanpa perintah dari peralatan blok mekanik.
"Kecelakaan ini terjadi akibat adanya sinyal yang dikirim sistem interface tanpa perintah peralatan blok mekanik atau uncommanded signal Stasiun Cicalengka yang terproses oleh sistem interlocking blok elektrik Stasiun Haurpugur," imbuh Gusnaedi.
Gusnaedi menjelaskan lebih lanjut bahwa sinyal yang tidak sesuai tersebut kemudian ditampilkan di layar monitor Stasiun Haurpugur, menimbulkan kesan seolah-olah telah diberi konfirmasi blok aman oleh Stasiun Cicalengka. Hal ini memengaruhi proses pengambilan keputusan untuk memberangkatkan KA dari kedua stasiun tersebut.
Ketika KA 350 CL Bandung Raya meninggalkan Stasiun Haurpugur, sistem persinyalan elektrik mengirim sinyal warta lepas ke Stasiun Cicalengka, yang mengakibatkan perubahan indikator blok mekanik Stasiun Cicalengka. Ini memungkinkan KA 65A Turangga untuk melanjutkan perjalanannya ke Stasiun Haurpugur.
"Karena secara sistem, Stasiun Haurpugur dapat memberangkatkan KA 350 CL Bandung Raya menuju Stasiun Cicalengka," ucap Gusnaedi
Sehingga, tabrakan terjadi beberapa saat kemudian di depan sinyal masuk Stasiun Cicalengka, menyebabkan kecelakaan yang fatal. Sebelumnya, pada tanggal 5 Januari 2024, kecelakaan serupa terjadi di lokasi yang sama, menewaskan empat orang dan melukai 37 orang.
"Beberapa saat kemudian terjadi tabrakan kedua kereta di depan sinyal masuk Stasiun Cicalengka," tutur Gusnaedi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










