Soal Senggolan Greenflation, Pengamat Energi Sebut Banyak Isu Substantif Terlewatkan

AKURAT.CO Debat cawapres semalam dinilai banyak melewatkan isu substantif. Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan secara substansi beberapa hal di sektor energi yang menjadi masalah krusial justru terlewat.
Misalnya, bagaimana mengurai atau detail gagasan mengurangi konsumsi energi fosil yang hari ini masih dominan di kisaran 85-87% ke energi hijau atau biru lainnya, justru tidak dibahas para cawapres baik dari nomor urut 1 (Muhaimin Iskandar), nomor urut 2 (Gibran Rakabuming Raka) dan nomor urut 3 (Mahfud MD).
Menurut Komaidi, cawapres nomor urut 2 atau Gibran dari sisi substansi sudah menyampaikan beberapa data dan fakta yang sifatnya statistik teknis dan sulit dibantah. Meskipun data dan fakta tersebut juga masih harus ditinjau ulang apa memang diperlukan atau justru sudah masuk ranah lebel di atasnya atau tahapan policy (kebijakan).
Baca Juga: Disenggol Gibran di Debat Cawapres, Ini Kaitan Greenflation dengan Yellow Vest
Sementara gagasan cawapres nomor urut 1 atau Muhaimin dan 3 atau Mahfud seringkali masih sifatnya agak di luar atau belum terlalu dalam (masuk ke detail).
"Mungkin juga karena memang waktunya terbatas. Misalkan kalau di sektor energi, semalam langsung diskusinya ke transisi energi sementara menuju transisinya kan terlewat atau tidak dipikirkan secara detail," ujar Komaidi di Jakarta, Senin (22/1/2024).
Ditambahkan, tema transisi energi sendiri sebenarnya unsurnya. Sayangnya yang disampaikan oleh cawapres semalam hanya di seputar EV atau mobil listrik. Misalkan pertanyaan yang dilontarkan Gibran ke Muhaimin seputar baterai tipe LPF (Lithium, Fero, Phospate) dan membantah bahwa Tesla saat ini juga masih menggunakan baterai berjenis nikel tepatnya tipe NMC (Nikel, Mangan, Cobalt).
"Padahal kan yang namanya transisi banyak. Ada energi hijau yang lain, energi biru yang lain kemudian juga listriknya dari sumber yang mana, itu agak kelewat justru. Karena bobot terbesarnya dengan waktu yang terbatas itu ya di baterai dominannya (pembahasannya)," imbuh Komaidi.
Komaidi juga menyoroti pertanyaan Gibran ke Mahfud soal greenflation yang sebetulnya secara substansi bagus, dalam arti merupakan isu yang tengah dihadapi dunia.
Dijelaskan Komaidi, maksud pertanyaan Gibran adalah bagaimana solusi untuk isu transisi energi fosil ke EBT (energi baru terbarukan) yang lebih mahal, akankah dibebankan ke rakyat, ditanggung negara atau bagaimana?
"Kalau kita transisi ke EBT itukan harganya lebih mahal dibanding yang fosil, misalkan kita mau pakai energi panas bumi atau surya. Itu secara in total nanti di harga akhir untuk konsumen itu lebih mahal dibandingkan harga let say batu bara. Kemudian yang dibahas itu lebih ke singkatan yang mana cawapres nomor urut 3 jawabannya enggak ke situ. Kemudian dibalik lagi, sesuatu yang sudah benar dan penting tidak dibahas untuk mendapatkan gagasan, tetapi lebih untuk jadi personal," sorotnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










