Akurat

Disenggol Gibran di Debat Cawapres, Ini Kaitan Greenflation dengan Yellow Vest

M. Rahman | 22 Januari 2024, 16:02 WIB
Disenggol Gibran di Debat Cawapres, Ini Kaitan Greenflation dengan Yellow Vest

AKURAT.CO Di sela debat cawapres semalam, cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka melontarkan pertanyaan seputar greenflation dan menyinggung aksi The Yellow Vest Movement di Perancis ke cawapres nomor urut 3 Mahfud MD.

Lantas apa kaitan keduanya?

Greenflation atau inflasi hijau adalah inflasi (kenaikan harga) yang ditimbulkan dari kebijakan transisi energi ke energi hijau. Inflasi hijau menangkap pengertian bahwa kenaikan harga dapat terjadi dalam jangka panjang, karena negara-negara berusaha untuk memenuhi komitmen lingkungan mereka.

Baca Juga: Sikap Mahfud Tak Mau Jawab Pertanyaan Gibran Soal Inflasi Hijau Disorot, Netizen: Bukan Gak Mau, tapi Gak Tau!

Meningkatnya pengeluaran untuk teknologi bebas karbon menyebabkan kenaikan harga material strategis untuk infrastruktur ini.

Sementara itu, semakin ketatnya peraturan lingkungan yang membatasi investasi di proyek-proyek pertambangan yang sangat berpolusi juga membatasi penawaran bahan baku, yang juga mengakibatkan kenaikan harga. Oleh karena itu, transisi hijau menjadi lebih mahal seiring diimplementasi secara meluas.

Apa saja contoh inflasi hijau? Mengutip Philonomist, salah satu contoh inflasi hijau adalah aluminium, yang digunakan untuk memproduksi energi surya dan angin, yang harganya naik dua kali lipat antara tahun 2021 dan 2022, dan mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Tren ini juga diperkirakan akan terus berlanjut karena China yang memproduksi 60% dari seluruh aluminium, telah memutuskan untuk membatasi produksi pabrik baru yang sangat berpolusi, untuk mencapai netralitas karbon.

Dalam hal logam strategis, harga lithium yang digunakan untuk membuat baterai mobil listrik meningkat 400% pada tahun 2021. Tren ini akan terus berlanjut, sementara permintaan lithium diperkirakan akan berlipat ganda hingga 40 kali lipat pada tahun 2040.

Isu inflasi hijau ini bahkan turut membawa dilema bagi bank-bank sentral haruskah mereka melakukan intervensi untuk membatasi kenaikan harga yang merugikan rumah tangga dan perusahaan?

Atau haruskah mereka membiarkan siklus inflasi berjalan dengan sendirinya, dan dengan demikian mengantarkan transisi menuju energi hijau? Anggota direktori ECB, Isabel Schnabel menilai bahwa kebutuhan untuk mengintensifkan perjuangan melawan perubahan iklim dapat berarti bahwa harga bahan bakar fosil tidak hanya akan tetap tinggi.

"Bahkan bisa terus meningkat, jika kita ingin mencapai tujuan Perjanjian Iklim Paris," ujarnya dikutip Senin (22/1/2024).

Contoh lain dari inflasi energi adalah pajak karbon yang mengerek harga bensin. Pajak karbon pula yang memicu gerakan protes Rompi Kuning di Prancis pada tahun 2018 atau The Yellow Vest Movement. 

Pada 17 November 2018, sekitar 290.000 demonstran dari seluruh Prancis memulai aksi yang akan menjadi aksi pertama dari sekian banyak aksi protes menentang kenaikan pajak karbon yang diusulkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dikenal sebagai Rompi Kuning, para demonstran ini menjadi pusat perhatian dunia dan bergabung dalam debat perubahan iklim selama beberapa waktu pada akhir 2018 dan awal 2019. Meskipun para demonstran berhasil memengaruhi Macron untuk mencabut kenaikan pajaknya, mereka sebagian besar menghilang dari perhatian publik pada paruh kedua tahun 2019.

Perlu dicatat bahwa Rompi Kuning tidak menentang reformasi perubahan iklim. Dalam daftar 42 tuntutan mereka, mereka secara khusus menyerukan penciptaan industri mobil hidrogen dan pajak atas bahan bakar dan minyak tanah untuk kapal dan pesawat terbang.

Rompi Kuning memang menentang pemaksaan kelas bawah untuk membayar industrialisasi kelas atas yang meningkat pesat, dan dari sinilah kita dapat belajar banyak pelajaran berharga tentang perdebatan global tentang tantangan biaya perubahan iklim.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa