Akurat

Menperin Curhat 2 Batu Sandungan Industri Manufaktur

M. Rahman | 2 Januari 2024, 23:51 WIB
Menperin Curhat 2 Batu Sandungan Industri Manufaktur

AKURAT.CO Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dan pengendalian impor yang belum maksimal menjadi batu sandungan bagi industri manufaktur tanah air.

Menurutnya, masih banyak perusahaan industri yang belum menerima manfaat harga gas USD6 per MMBTU. Pada tahun 2023 sendiri, hanya 76,95% di Jawa Bagian Barat atau hanya sekitar 939,4 BBTUD dibayar dengan harga USD6,5 per MMBTU, sisanya harus dibayar dengan harga normal sebesar USD9,12 per MMBTU.

Tak hanya itu, dalam pelaksanaannya masih banyak sektor industri yang memperoleh volume gas lebih rendah atau tidak sesuai dengan jumlah yang sudah menjadi kontrak antara industri dan pihak penyedia.

Baca Juga: Bantah Indonesia Deindustrialisasi, Menperin Beberkan Data Pendukung

"Kebijakan HGBT memang dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang kami inginkan, jauh dari ideal di mata kami. Oleh karenanya, carut marut terkait HGBT ini tentu mengurangi daya saing industri kita," kata Agus dikutip Selasa (2/1/2024).

Ditambahkan, kebijakan lainnya yang dibutuhkan adalah pengendalian impor. Diyakini, PMI bisa jauh lebih tinggi apabila pelaksanaan HGBT berjalan baik, dan pengendalian impor berjalan baik. Sebab, ada opportunity lost yang dihadapi sektor manufaktur kita akibat kedua hal tersebut.

"Selain itu, perlu didukung kebijakan untuk menjaga ketersediaan bahan baku sehingga sektor industri manufaktur kita tetap berproduksi dengan baik dalam memenuhi pasar domestik dan ekspor," imbuhnya.

Diketahui, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis oleh S&P Global, pada bulan Desember berada di posisi 52,2 atau naik 0,5 poin dibanding bulan November yang menempati level 51,7.

PMI Manufaktur Indonesia tetap berada dalam fase ekspansi selama 28 bulan berturut-turut. Capaian ini hanya Indonesia dan India yang mampu mempertahankan level di atas 50 poin selama lebih dari 25 bulan.

Dalam laporannya, S&P Global menyatakan, ekspansi PMI Manufaktur Indonesia pada bulan terakhir 2023 karena adanya permintaan yang cukup tinggi, termasuk dari luar negeri. Ini mendorong pertumbuhan produksi lebih cepat dan penambahan jumlah tenaga kerja.

Catatan positif PMI Manufaktur Indonesia pada akhir tahun sejalan dengan hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI) di Desember 2023 yang telah dilansir sebelumnya oleh Kementerian Perindustrian, dengan mencapai 51,32 poin atau konsisten selama lebih dari 13 bulan sejak diluncurkan IKI, masih berada dalam fase ekspansi.

Kemenperin membidik target pertumbuhan industri pengolahan manufaktur sebesar 5,8% pada 2024 atau Tahun Naga Kayu, lebih tinggi dari target 4,81% di tahun 2023.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa