Isu Polusi Udara Jakarta Kembali Memanas, Segini Kerugian Ekonominya
AKURAT.CO Polusi udara merugikan kesehatan dan perekonomian suatu kota. Kalimat tersebut merupakan sebuah keniscayaan. Tak ayal, tema tersebut khususnya polusi udara Jakarta menjadi salah satu isu terpanas debat perdana capres kemarin. Ada penyelewengan kekuasaan dari tingkat pusat hingga daerah yang memicu terjadinya polusi udara Jakarta.
Saat debat, Prabowo menyenggol Anies soal posisi Gubernur DKI Jakarta yang kala itu didudukinya dengan APBD salah satu yang terbesar sekitar Rp80 triliun pertahun namun tak banyak berbuat demi mengurai polusi udara Jakarta.
Anies menjawab bahwa polusi udara Jakarta ibarat angin yang tak memiliki KTP (identitas). Menurutnya, bisa jadi kota lain juga mengalami isu yang sama namun tidak seperti Jakarta yang memiliki indikator atau alat monitor, isu tersebut tak terdeteksi.
Baca Juga: Uji Emisi Terus Jadi Kebijakan Pemprov DKI Jakarta Atasi Polusi Udara, Apakah Efektif?
"Ketika polutan yang muncul dari pembangkit listrik tenaga uap mengalir ke Jakarta maka Jakarta punya indikator, karena itu Jakarta mengatakan ada polusi udara. Ketika anginnya bergerak ke arah Lampung, ke arah Sumatera, ke arah Laut Jawa, di sana tidak ada alat monitor maka tidak muncul, dan Jakarta pada saat itu bersih," ujar Anies belum lama ini.
Lantas berapa kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh polusi udara?
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga S. Uno mengatakan dampak ekonomi polusi udara meluas tidak hanya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif atau parekraf, namun ke subsektor ekonomi lainnya. Ditaksir, kerugian yang ditimbulkan berkisar antara Rp20-30 triliun.
Perhitungan Sandi memang tak sembarangan. Berdasarkan data IQAir dan Greenpeace Asia Tenggara, kerugian ekonomi dari polusi udara di Jakarta diestimasikan sebesar USD2,3 miliar setara Rp35,1 triliun per tahun. Estimasi tersebut berdasarkan gabungan data kualitas udara saat ini, model risiko ilmiah, serta demografi dan kesehatan di Jakarta.
Angka tersebut bahkan lebih tinggi dari sejumlah kota di dunia seperti Hong Kong (USD2,1 miliar), Sydney (USD1,7 miliar), Johannesburg (USD1,3 miliar), Taipei (USD1,3 miliar), Algiers (USD160 juta), Canberra (USD160 juta), dan Nairobi (USD110 juta).
Secara lengkap, berikut peringkat kota dengan kerugian ekonomi terbesar akibat polusi udara.
- New York (USD30 miliar)
- Tokyo (USD29 miliar)
- Los Angeles (USD16 miliar)
- Shanghai (USD11 miliar)
- Beijing (USD10 miliar)
- Seoul (USD7,3 miliar)
- London (USD7 miliar)
- Mexico (USD6,1 miliar)
- Toronto (USD5,8 miliar)
- Moscow (USD5,3 miliar)
- Guangzhou (USD4,9 miliar)
- Sao Paolo (USD4,9 miliar)
- Berlin (USD4,1 miliar)
- Dubai USD3,4 miliar)
- Madrid (USD3,3 miliar)
- New Delhi (USD3,1 miliar)
- Istanbul (USD2,8 miliar)
- Bangkok (USD2,7 miliar)
- Riyadh (USD2,6 miliar)
- Mumbai (USD2,4 miliar)
- Jakarta (USD2,3 miliar)
- Hong Kong (USD2,1 miliar)
- Sydney (USD1,7 miliar)
- Johannesburg (USD1,3 miliar)
- Taipei (USD1,3 miliar)
- Algiers (USD160 juta)
- Canberra (USD160 juta)
- Nairobi (USD110 juta)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










