Ditanya DPR Soal Swasembada, Dirjen Industri Agro Curhat 3 Masalah Utama Industri Gula Nasional
AKURAT.CO Pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi pada 2028 dan gula produksi pada 2030, sesuai amanat Perpres Nomor 40 Tahun 2023.
Namun demikian, target yang akan dicapai melalui kolaborasi lintas kementerian/ lembada, Pemda, BUMN/ BUMD dan swasta ini bukan tanpa rintangan.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika membeberkan setidaknya ada 3 masalah yang dihadapi pelaku industri gula nasional untuk menggapai target swasembada gula.
Baca Juga: Sinergi Pemerintah dan Swasta Percepat Target Swasembada Gula Konsumsi 2028
Isu pertama terkait on farm. Masalah di lahan meliputi potensi rendemen dan produktivitas tebu petani rendah (produktivitas di bawah 75 ton/ha dan rendemen di bawah 8%), penataan varietas masih belum sesuai dengan kondisi agroklimat dan tanaman tebu rakyat Sebagian besar adalah tanaman keprasan, idealnya tanaman tebu dapat dikepras sampai tiga kali, namun masih banyak petani yang memelihara lebih dari keprasan ketiga.
"Juga ada pergeseran penggunaan lahan tebu oleh petani ke lahan marginal yang memiliki kandungan hara terbatas sehingga menyebabkan produktivitas tebu relatif rendah," kata Putu dalam RDP dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Senin (4/12/2023).
Masalah kedua terkait off farm. Masalah di luar lahan meliputi sebagian besar pabrik gula berbasis tebu eksisting merupakan pabrik gula (PG) yang sudah berumur sangat tua sehingga produktifitas nya relatif rendah dan kinerja sebagian besar PG BUMN masih rendah (efisiensi PG kurang dari 75% dari standar minimal 80%) sehingga terjadi inefisiensi proses pengolahan.
Kemudian belum semua PG (terutama PG BUMN) menetapkan rendemen secara transparan dan melakukan analisis rendemen individu (ARI), sehingga menimbulkan ketidakpercayaan petani tebu.
Isu terakhir terkait minimnya investasi baru. Masalah investasi ini meliputi minimnya ketersediaan bahan baku dan infrastruktur.
Dalam mengakses ketersedian bahan baku, investor kerap kesulitan memperoleh lahan yang clean & clear, lahan perkebunan tebu di Pulau Jawa sudah semakin menurun dan masih sulit memperoleh sarana produksi (saprodi) tebu seperti bibit dan pupuk.
"Untuk pengembangan industri gula di luar Pulau Jawa juga masih terkendala infrastruktur yang masih minim," ujar Putu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK









