EBITDA GOTO Masih Merah, Ekonom: Terbebani Biaya Promosi Tokopedia

AKURAT.CO Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang disesuaikan (EBITDA) GOTO masih minus sebesat USD59,3 juta di kuartal III-2023. Hal ini berbanding dengan ride hailing kompetitor, GRAB yang berhasil mencetak EBITDA USD29 juta.
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai capaian tersebut wajar mengingat beban marketing GOTO yang terlalu berat karena harus menanggung belanja promosi on demand services sekaligus e-commerce.
Berbeda dengan kompetitornya, GRAB yang memang fokus pada industri transportasi online semata. Beban marketing yang tidak terlalu berat ini menjadi sebuah keuntungan tersendiri dibandingkan dengan GOTO.
Baca Juga: GOTO Belum Mampu Cetak Laba Seperti GRAB, Analis: Lebih Cocok Untuk Trading
"GOTO dengan adanya demand service dan ecommerce cukup berat. Terutama di ecommerce yang saingannya sangat ketat," kata Nailul kepada Akurat.co, Senin (13/11/2023).
Ditambahkan, persaingan promosi dan marketing di industri e-commerce sedang berdarah-darah menyusul Shopee dan terbaru, TikTok Shop yang sempat tak hentinya membakar uang sebelum akhirnya ditutup izin operasinya oleh pemerintah.
"Di pasar demand service seperti transportasi online juga ada persaingan dengan platform lain seperti indrive ataupun maxim yang menawarkan harga sangat sangat murah, terutama untuk daerah tier 3 dan 4," imbuh Nailul.
Tambahan informasi, GOTO secara besar-besaran memangkas biaya iklan dan pemasarannya di sepanjang kuartal III-2023. Tercatat, pos promosi turun 53,4% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp1,5 trilun.
Beberapa biaya yang dipangkas di antaranya beban umum dan administrasi yang berkurang hingga 57% menjadi Rp4,61 triliun dari periode sebelumnya Rp8,63 triliun. Beban lainnya yakni beban penjualan dan pemasaran juga berkurang sebesar 47% menjadi Rp 4,82 triliun, dari sebelumnya Rp11,27 triliun.
Namun, langkah efisiensi yang dilakukan berdampak pada nilai transaksi pada bisnis jasa ride hailing dan e-commerce. Secara kuartalan, nilai transaksi kotor (GTV) susut 6% yoy. Hal itu disebabkan oleh penurunan insentif dan pemasaran produk.
Sementara GRAB yang telah lebih dulu mengalami perlambatan pertumbuhan transaksi memutuskan untuk fokus ke profitabilitas dan pengendalian biaya. Alhasil, Grab membukukan adjusted EBITDA mencapai US$29 juta di kuartal III-2023.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










