Akurat

Selebtwit Kuak Motif Ekonomi AS Dan Sekutu Dukung Israel, Ternyata Karena Terusan Ini

M. Rahman | 6 November 2023, 15:05 WIB
Selebtwit Kuak Motif Ekonomi AS Dan Sekutu Dukung Israel, Ternyata Karena Terusan Ini

AKURAT.CO Terkuak alasan Amerika Serikat (AS), Inggris (UK) dan Perancis begitu sangat pro Israel, yakni alasan ekonomi. Tepatnya, AS dan sekutunya ingin membangun Terusan Ben Gurion yang akan menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania serta menjadi tandingan Terusan Suez.

Alexander Thian, Influencer Twitter lewat akunnya @aMrazing menjelaskan Terusan Ben Gurion akan bermula di Teluk Aqaba di Laut Merah, Eilat atau kota pelabuhan di perbatasan Israel - Yordania dan berakhir di Jalur Gaza sebelum akhirnya menuju Laut Mediterania.

Terusan Ben Gurion disebut bakal lebih canggih dibanding Terusan Suez. Nama terusan ini diambil dari Ben Gurion, Bapak Pendiri sekaligus Perdana Menteri pertama Israel di tahun 1948. 

Baca Juga: 'Disandera' usai Lumpuhkan Terusan Suez, Kapal Ever Given Bakal Dibebaskan oleh Mesir

"Mereka tidak ingin melakukannya dan membantu perekonomian Palestina, kecuali mereka mengambil alih tanah Palestina. Itulah yang terjadi, Israel ingin merebut Gaza dan mengambil alih sehingga bisa membangun terusan yang melaluinya dan AS, Inggris dan Perancis tentu saja menyetujuinya karena ini akan menghasilkan banyak uang untuk mereka dengan mengorbankan jutaan nyawa," kata Thian dikutip Senin (6/11/2023).

Menurut Thian, mengutip dokumen Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, sejak tahun 1963 pemerintah AS sudah membuat rencana rahasia untuk membantu menggali perbukitan Gurun Negev dengan 520 bom nuklir untuk membuat terusan Ben Gurion.

Rencana ini baru dipublikasikan pada tahun 1993, sehingga pada saat terjadinya Konvensi Jenewa atau perjanjian damai Perang Arab-Israel, tidak ada pihak manapun yang mengetahui rencana AS ini kecuali Jimmy Carter sendiri.

AS dan sekutu sangat ingin membangung terusan ini karena dinilai bakal menjadi ladang uang ke depan. Seperti diketahui, tanpa melewati Terusan Suez, kapal dari Asia harus memutar jauh untuk mencapai Eropa. Terusan Suez saat ini dilewati sekitar 12-15% perdagangan dunia dan 10% distribusi minyak global. 

Mesir terus meraup untung dari Terusan Suez dan bahkan puncaknya di tahun 2023 memecahkan rekor dengan mencetak pendapatan USD9,4 miliar. Bayangkan bagaimana perasaan AS, Inggris dan Perancis? Tidak senang tentunya.

Namun Terusan Suez sejatinya tidak ideal karena sebelum tahun 2014 kapal hanya bisa melewati satu arah yang artinya menghabiskan 6 jam perjalanan ke satu arah dan 6 jam lainnya untuk arah sebaliknya, sangat tidak efisien.

Selain itu Terusan Suez juga tidak cukup lebar untuk menampung beberapa kapal terbesar di dunia, seperti yang terjadi di tahun 2021 lalu saat kapal Ever Given tersangkut di Terusan Suez dan mengakibatkan kerugian hingga USD900 juta. AS sangat tidak senang dengan insiden tersebut dan Pentagon bahkan merilis pernyataan bahwa pergerakan kapal militer mereka menjadi sulit khususnya ke Israel.

Dalam rancangannya, Terusan Ben Gurion akan memiliki kedalaman hingga 50 meter, 10 meter lebih dalam dari Terusan Suez dan lebar 200 meter yang akan memfasilitasi kapal terbesar di dunia untuk bisa melewati dari dua arah. Israel memprediksi terusan saingan Terusan Suez ini akan memberikan pendapatan tahunan hingga USD6 miliar. 

Berbeda dengan Terusan Suez yang dibangun di atas pantai berpasir yang memerlukan perawatan reguler, Terusan Ben Gurion dibangun di atas tanah bertekstur batuan yang dinilai lebih ideal. 

Sayang, jika ditarik lurus peta rencana Terusan Suez tersebut berujung di Gaza. Kapal harus berputar jika ingin menghindari jalur Gaza. AS dan sekutu tentu tidak ingin kapal harus memutar dan harus menghabiskan lebih banyak waktu dan kenyamanan mereka. 

Sejarah Panjang

Terusan Suez awalnya dikelola Pemerintah Mesir, namun pada tahun 1869 mulai dikelola sebuah perusahaan milik Inggris dan Perancis dengan masa sewa 99 tahun dan dibuka untuk umum.

Awalnya PM Inggris era 1858 - 1865, Lord Palmerston menolak pembangunan Terusan Suez karena dinilai akan mengancam perekonomian Inggris secara langsung. Namun belakangan ia memutuskan untuk membeli 44% saham perusahaan pengelola Terusan Suez di tahun 1875.

Di tahun 1888, ditandatangani Konvensi Konstantinopel oleh Inggris, Jerman, Austria - Hungaria, Spanyol, Perancis, Italia, Belanda, Rusia dan Turki yang menyatakan bahwa setiap negara boleh menggunakan Terusan Suez di masa damai maupun perang.

Namun di tahun 1949, Mesir menolak akses Israel ke Terusan Suez setelah terjadinya peristiwa Nakba (lebih dari 700 ribu warga Palestina terusir dari tanah mereka), yang mana bertentangan dengan Konvensi Konstantinopel.

Kemudian di tahun 1956 bertepatan saat AS memiliki proksi perang dengan Rusia (Uni Soviet) di kawasan tersebut, Presiden Mesir saat itu Gamal Abdel Nasser memutuskan untuk menasionalisasi Terusan Suez karena AS meningkari kesepakatan sebelumnya untuk membiayai pembangunan proyek Bendungan Aswan (PLTA) di Sungai Nil untuk mengalirkan air dan listrik ke warga Mesir.

Peristiwa nasionalisasi Terusan Suez menjadi katalis besar dan bisa jadi dijadikan alasan terjadinya perang 6 hari antara Arab dengan Israel beberapa tahun berikutnya di tahun 1967. 

Usai perang tersebut dan Konvensi Jenewa, Mesir dan Israel akhirnya menandatangai perjanjian damai di Camp David, yang ditandatangani oleh Jimmy Carter, kemudian AS diberi penghargaan karena dinilai mengatur perjanjian damai tersebut.

Namun tidak banyak yang sadar bahwa saat perjanjian damai ini diteken, sebetulnya AS dan sekutu 16 tahun sebelumnya tepatnya di tahun 1960 sudah merencanakan pembangunan Terusan Ben Gurion sebagai tandingan Terusan Suez.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa