Akurat

Menko Zulhas: MBG Butuh 82,9 Juta Telur dan Ikan per Hari

Esha Tri Wahyuni | 12 Februari 2026, 14:12 WIB
Menko Zulhas: MBG Butuh 82,9 Juta Telur dan Ikan per Hari

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat pada akhir tahun ini. Lonjakan target tersebut membuat pemerintah menyiapkan strategi besar di sektor pangan, mulai dari produksi telur, ikan, sayuran, hingga penguatan lahan sawah berkelanjutan. 

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan, keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada distribusi, tetapi juga pada ketersediaan bahan baku di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 
 
Dengan jumlah penerima yang terus bertambah dari 55,1 juta orang saat ini, kebutuhan komoditas pangan nasional dipastikan melonjak signifikan dan membutuhkan dukungan produksi dalam negeri secara masif dan terukur.

Target MBG 82,9 Juta Orang, Kebutuhan Pangan Naik Drastis

Menko Pangan Zulkifli Hasan mengatakan proyeksi peningkatan penerima manfaat MBG harus diimbangi kesiapan pasokan bahan baku. Jika target 82,9 juta orang tercapai, kebutuhan pangan harian akan meningkat tajam.
 
 
“Tahun ini dilipatgandakan produksi ikan, telor, terus juga sayur, karena bayangkan kalau SPPG tahun ini penerimanya (manfaat MBG) ada 82,9 juta orang, jadi telur kami perlu 82,9 juta butir, perlu 82,9 juta potong ikan satu hari ya, dan sayur 82,9 juta juga,” kata Zulhas usai meninjau operasional SPPG Panggungrejo di Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (12/2/2026).
 
Lonjakan kebutuhan tersebut menempatkan sektor perikanan, peternakan, dan hortikultura sebagai tulang punggung utama keberlanjutan program MBG.

Strategi Pemerintah: Kampung Nelayan hingga Bioflok

Zulhas menegaskan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk memastikan rantai pasok pangan tetap terjaga.
 
Untuk sektor perikanan, pemerintah mengimplementasikan pembentukan Kampung Nelayan Merah Putih. Sementara untuk komoditas lain, optimalisasi teknologi seperti bioflok turut didorong guna meningkatkan produktivitas. “Untuk beras kita sudah swasembada. Terus ada bioflok, ini semua harus dipastikan,” ujarnya.
 
Langkah ini sekaligus memperkuat narasi ketahanan pangan nasional agar tidak bergantung pada impor, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan program sosial berskala besar seperti MBG.

Pastikan Operasional SPPG Aman dan Tepat Sasaran

Dalam kunjungan kerjanya di Jawa Timur, Zulhas mendapat mandat langsung dari Presiden untuk memastikan operasional SPPG berjalan sesuai ketentuan. Ia dijadwalkan turun ke lapangan selama satu pekan guna mengevaluasi implementasi program.
 
“Saya nanti cek penerima manfaat, anak-anak sekolah itu ya untuk menanyakan pendapat mereka tentang bagaimana ini (MBG),” ucapnya.
 
Selain meninjau SPPG Panggungrejo, Zulhas juga mengunjungi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya integrasi antara program gizi dan penguatan ekonomi desa.

Sawah Tak Boleh Dialihfungsikan

Di tengah ambisi memperluas cakupan MBG, pemerintah juga menegaskan komitmen menjaga lahan pertanian. Zulhas menekankan sawah tidak boleh lagi dialihfungsikan.
 
“Ketiga, kami harus memastikan pangan. Sawah itu tidak boleh lagi diubah-ubah. Kami sedang menyelesaikan namanya lahan sawah berkelanjutan, tidak boleh dipergunakan untuk apapun,” tuturnya.
 
Kebijakan lahan sawah berkelanjutan ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas produksi beras dan menopang kebutuhan pangan nasional dalam jangka panjang.

MBG dan Tantangan Ketahanan Pangan Nasional

Dengan penerima manfaat yang saat ini telah mencapai 55,1 juta orang dan diproyeksikan naik menjadi 82,9 juta orang, Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu intervensi sosial terbesar pemerintah. Skala ini menuntut koordinasi lintas sektor, mulai dari produksi, distribusi, hingga pengawasan kualitas pangan.
 
Kunjungan lanjutan Menko Pangan ke Kota Malang dan Kota Batu pada Jumat (13/2/2026) menjadi bagian dari monitoring langsung di lapangan untuk memastikan program berjalan efektif.
 
Peningkatan target MBG bukan sekadar angka. Ia menjadi ujian nyata bagi kapasitas produksi pangan nasional. Jika rantai pasok terjaga dan lahan pertanian terlindungi, program ini berpotensi menjadi fondasi penguatan gizi sekaligus ketahanan pangan Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.