Produksi CPO PalmCo Tembus 2,7 Juta Ton, Produktivitas Ikut Naik

AKURAT.CO Kinerja industri kelapa sawit nasional menunjukkan sinyal penguatan pada 2025. Sub Holding PTPN III (Persero), PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, mencatatkan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar 2,7 juta ton sepanjang tahun lalu.
Capaian tersebut tumbuh sekitar 4% secara tahunan (year on year/yoy), sejalan dengan meningkatnya produktivitas lahan dan efisiensi operasional perusahaan.
Kinerja positif PalmCo ini menjadi relevan di tengah arah kebijakan industri sawit nasional yang kini menitikberatkan pada peningkatan produktivitas lahan eksisting, bukan lagi ekspansi area tanam.
Baca Juga: Kelola Rp40 T per Tahun, PalmCo Andalkan Sistem Logistik Digital
Bagi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia, efisiensi produksi menjadi kunci untuk menjaga daya saing global sekaligus memenuhi tuntutan keberlanjutan.
Produktivitas Kebun PalmCo Naik, Tembus 4,8 Ton per Hektar
Peningkatan produksi CPO PalmCo pada 2025 ditopang langsung oleh membaiknya produktivitas kebun. Sepanjang tahun lalu, produktivitas PalmCo tercatat mencapai 4,8 ton CPO per hektar, atau meningkat sekitar 4% dibandingkan 2024.
Angka ini mencerminkan perbaikan kinerja dari hulu ke hilir, mulai dari pengelolaan kebun, panen, hingga pengolahan di pabrik kelapa sawit (PKS). Efektivitas operasional yang lebih terukur dinilai menjadi faktor utama di balik kenaikan tersebut.
Baca Juga: Kayu Aro Genap Seabad, PalmCo Dorong Rebranding dan Keberlanjutan
Dalam konteks industri, peningkatan produktivitas per hektar menjadi indikator penting karena sejalan dengan agenda intensifikasi, efisiensi biaya, dan tata kelola berkelanjutan yang terus didorong pemerintah.
Kebijakan Sawit Nasional: Fokus Intensifikasi, Bukan Perluasan Lahan
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah menegaskan bahwa pertumbuhan industri sawit nasional harus bertumpu pada optimalisasi lahan yang sudah ada. Kebijakan ini sejalan dengan meningkatnya tuntutan global terhadap aspek lingkungan, keberlanjutan, dan good corporate governance.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebelumnya menekankan bahwa sektor-sektor strategis nasional, termasuk kelapa sawit, harus mampu meningkatkan produktivitas agar tetap kompetitif di pasar global.
Sawit dinilai memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional, mulai dari kontribusi terhadap devisa, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global minyak nabati.
Arahan Presiden: Produktivitas, Teknologi, dan Tata Kelola Berkelanjutan
Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa peningkatan produksi sawit ke depan tidak dapat lagi mengandalkan ekspansi lahan. Fokus utama harus diarahkan pada peningkatan hasil per hektar, pemanfaatan teknologi, serta penerapan tata kelola yang berkelanjutan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan komitmen lingkungan, sekaligus menjawab tekanan global terhadap praktik industri sawit Indonesia.
Manajemen PalmCo: Penguatan Fundamental Beri Hasil Nyata
Di tingkat korporasi, manajemen PalmCo menilai capaian 2025 sebagai hasil dari konsistensi pembenahan fundamental operasional yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, mengatakan bahwa peningkatan produksi dan produktivitas menjadi pijakan penting bagi arah pengelolaan perusahaan ke depan.
“Produksi dan produktivitas yang dicapai pada 2025 menunjukkan bahwa penguatan dasar-dasar pengelolaan kebun dan pabrik memberikan hasil nyata. Ini menjadi modal awal bagi PalmCo untuk melangkah ke fase berikutnya,” ujar Jatmiko dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Strategi 2026: Basic–Consistency–Improvement
Memasuki 2026, PalmCo menetapkan kerangka pengelolaan perusahaan dengan pendekatan Basic–Consistency–Improvement. Strategi ini dirancang untuk memastikan seluruh lini operasional berjalan disiplin dan berkelanjutan di seluruh regional kerja perusahaan.
Pada tahap Basic, PalmCo memastikan seluruh standar dasar budidaya, panen, dan pengolahan diterapkan secara menyeluruh. Consistency menekankan keseragaman penerapan standar tersebut, sementara Improvement difokuskan pada peningkatan berkelanjutan melalui inovasi, digitalisasi, dan penguatan sumber daya manusia.
"Strategi ini tidak hanya ditujukan untuk menjaga pertumbuhan produksi, tetapi juga meningkatkan efisiensi biaya dan kualitas CPO," tegas Jatmiko.
Keberlanjutan Jadi Fondasi Jangka Panjang
Selain aspek operasional, PalmCo juga menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Program peremajaan tanaman, pengelolaan lingkungan, serta pemenuhan standar tata kelola yang semakin ketat terus diperkuat.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk memastikan keberlangsungan usaha di tengah dinamika industri sawit global yang semakin menuntut transparansi dan praktik ramah lingkungan.
Dengan produktivitas lahan yang terus meningkat dan strategi pengelolaan yang lebih terarah, PalmCo optimistis dapat terus memperkuat kontribusi terhadap industri sawit nasional.
Di tengah tantangan global, peningkatan produktivitas per hektar dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga posisi Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










