Akurat Logo

Memangkas Pasokan Gas ke Singapura Dinilai Jadi Langkah Berani Bahlil

Putri Dinda Permata Sari | 2 November 2026, 07:25 WIB
Memangkas Pasokan Gas ke Singapura Dinilai Jadi Langkah Berani Bahlil
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia.

AKURAT.CO Indonesia Political Opinion (IPO) meminta publik menilai kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara objektif dan berimbang.

Penilaian terhadap pejabat publik dinilai perlu mempertimbangkan capaian kebijakan, bukan hanya kekurangannya.

Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, mengatakan perbedaan hasil penilaian antara IPO dan Center of Economic and Law Studies (Celios) terhadap kinerja Bahlil dapat dipengaruhi oleh metodologi penelitian yang digunakan masing-masing lembaga.

"Perbedaan dengan Celios sangat mungkin karena metodologi yang digunakan juga berbeda. IPO menggunakan pengambilan sampel secara acak dan proporsional, sementara Celios menggunakan sampling purposif. Purposif itu artinya sampel ditentukan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan peneliti," ujar Dedi dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).

Menurut Dedi, karakteristik responden dan kelompok yang dilibatkan dalam penelitian turut memengaruhi hasil pengukuran.

Karena itu, publik perlu memahami metode penelitian sebelum menjadikan hasil survei sebagai gambaran menyeluruh mengenai kinerja seorang pejabat.

Dedi juga menyoroti keterlibatan kelompok Kabinet Bayangan dalam kajian Celios. Ia menilai latar belakang dan orientasi kelompok yang terlibat perlu menjadi perhatian ketika membaca hasil penilaian tersebut.

"Tentu jika tujuannya kritik, bisa dipastikan hanya melihat sisi buruk," tegasnya.

Sebagai pembanding, hasil pengukuran IPO mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Bahlil mencapai 31,1 persen.

Angka tersebut disebut menjadi yang tertinggi di antara para menteri yang membidangi sektor ekonomi.

Dedi menyebut hasil tersebut turut ditopang popularitas Bahlil yang relatif tinggi di tengah masyarakat.

Sementara itu, Celios sebelumnya menempatkan Bahlil sebagai salah satu menteri dengan penilaian kinerja terburuk.

Dalam kajian yang berlangsung pada 15 September hingga 9 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.142 responden, Bahlil memperoleh skor minus 159.

Celios menggunakan pendekatan berbeda dalam pengumpulan penilaian dari responden masyarakat umum dan kelompok ahli.

Di luar perbedaan hasil kajian tersebut, Dedi menilai Bahlil memiliki keberanian dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan dan kedaulatan energi nasional. Salah satunya adalah pengurangan sebagian pasokan gas bumi ke Singapura.

Menurut Dedi, kebijakan tersebut menunjukkan keberanian pemerintah dalam memprioritaskan kebutuhan energi domestik.

"Keputusan pemerintah memotong ekspor gas ke Singapura dalam beberapa waktu terakhir ini, saya kira suatu langkah yang cukup berani dan kita belum pernah punya presiden yang berani mengambil kebijakan serupa hanya untuk menunjukkan kedaulatan termasuk juga nasionalisme yang tinggi," kata Dedi.

Ia menilai pengurangan pasokan gas tersebut layak didukung apabila memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

"Kalau pemotongan gas ke Singapura itu diperlukan karena faktor kebutuhan dalam negeri yang memang saat ini krusial saya kira ini adalah kebijakan yang cukup layak untuk didukung," ujarnya.

Dedi juga menilai Bahlil termasuk menteri yang cepat dan berani mengambil keputusan dengan konsekuensi besar, sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

"Dan terpenting adalah dari sekian banyak menteri di kabinet merah putih Bahlil Lahadalia adalah satu-satunya menteri yang menurut saya gerak cepat punya keberanian serupa dengan presiden jangan jangan justru Bahlil lah satu-satunya menteri yang memahami konsekuensi kebijakan presiden sehingga dia tepat berani di sisi presiden dalam hal resiko yang cukup besar seperti sekarang," tuturnya.

Baca Juga: Indodax Pastikan Aset Member Aman Usai Anomali Keamanan

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.