Korea Utara Mengeklaim Bom Klaster Mampu Meluluhlantakkan 18 Lapangan Sepak Bola

AKURAT.CO Korea Utara menyatakan bahwa mereka telah menguji hulu ledak klaster untuk rudal balistik taktis dan berencana untuk mengerahkannya sebelum akhir tahun. Senjata ini mampu menyebarkan ratusan bom kecil (bomlet) ke area yang luas dalam satu kali serangan.
Kemampuan itu membuat amunisi klaster dijuluki dengan sebutan mengerikan, yaitu "senjata iblis" dan "hujan baja."
Administrasi Rudal Korea Utara menyatakan bahwa hulu ledak klaster Tipe 2 dapat mencakup area seluas 11,9 hingga 12,9 hektare—kira-kira seukuran 18 lapangan sepak bola—dengan rentetan bomlet yang padat, demikian dilaporkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada 1 November.
Pada bulan April, Pyongyang mengklaim telah menguji coba lima rudal balistik taktis Hwasong-11Ra yang dilengkapi dengan hulu ledak klaster, yang menghantam area seluas sekitar 12,5 hingga 13 hektare. Enam bulan kemudian, mereka mengeklaim bahwa satu hulu ledak saja mampu meluluhlantakkan area dengan luas yang setara.
Korea Utara juga merilis gambar yang memperlihatkan peluncuran rudal, diikuti oleh hulu ledak yang meledak di udara dan menyebarkan ratusan bomlet ke sasaran. Rekaman tersebut tampak menunjukkan kehancuran pada struktur melengkung yang menyerupai hanggar pesawat militer Korea Selatan, depot amunisi, dan posisi artileri.
Seorang pejabat militer Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara sedang memberi sinyal niat mereka untuk mengerahkan amunisi klaster sebelum akhir tahun dan menggunakannya bersamaan dengan senjata nuklir sebagai komponen kunci dalam serangan mendadak terhadap Korea Selatan. Pejabat tersebut menggambarkan senjata-senjata ini sebagai alat pembunuh yang tidak membeda-bedakan sasaran.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyatakan pada 1 November bahwa mereka telah mendeteksi peluncuran rudal Korea Utara ke arah Laut Kuning dari wilayah Kabupaten Jeongju, Provinsi Pyongan Utara, pada 31 Oktober.
Seorang pejabat menjelaskan bahwa militer tidak segera mengungkapkan peluncuran tersebut karena memerlukan waktu lebih lama untuk mengevaluasi karakteristik penerbangan rudal itu. Meskipun peluncuran tersebut telah diantisipasi dan lintasan rudal telah dilacak, ketinggian yang rendah serta jarak tempuh yang pendek memerlukan analisis lebih mendalam, ujar pejabat tersebut.
Sumber: Donga
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 7Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 8Moto3 GP Malaysia: Hiroshi Aoyama Puji Kecerdikan Veda Ega Pratama Taklukkan Suhu Lintasan Sepang
- 9Harga Cabai Berangsur Turun Awal November
- 10Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia







