Antasari Azhar Wafat, KPK: Semoga Ikhtiarnya Memberantas Korupsi Jadi Amal Ibadah

AKURAT.CO Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Antasari Azhar, Pimpinan KPK periode 2007–2009.
Ucapan belasungkawa disampaikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan dedikasi almarhum, dalam memperkuat lembaga antirasuah di masa-masa awal perjuangannya.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan bahwa seluruh insan KPK merasa kehilangan atas berpulangnya salah satu tokoh penting dalam sejarah lembaga tersebut.
Baca Juga: Kisah Panjang Antasari Azhar: Dari Penjarakan Besan SBY hingga Kasus Pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Segenap insan Komisi Pemberantasan Korupsi menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Bapak Antasari Azhar, Pimpinan KPK periode tahun 2007–2009," ujar Budi dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/11/2025).
Menurutnya, insan KPK mendoakan agar segala pengabdian dan perjuangan almarhum dalam memperjuangkan integritas serta pemberantasan korupsi di Indonesia, diterima sebagai amal ibadah oleh Allah SWT.
"Semoga ikhtiarnya dalam pemberantasan korupsi di Indonesia menjadi amal ibadah yang melapangkan di surga Allah SWT," tambahnya.
Antasari Azhar dikenal sebagai figur berintegritas tinggi, dan memiliki peran penting dalam menegakkan nilai-nilai kejujuran serta keberanian di lembaga KPK. Di bawah kepemimpinannya, sejumlah langkah progresif dalam pengungkapan kasus korupsi besar menjadi bagian penting dari sejarah penegakan hukum di Tanah Air.
Sosok Antasari Azhar dikenal sebagai salah satu pimpinan KPK yang berani dan tegas dalam menjalankan tugasnya.
Salah satu langkah kontroversial dan bersejarah pada masa kepemimpinannya, adalah ketika KPK menetapkan Aulia Pohan, besan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai tersangka kasus korupsi pada tahun 2008.
Penetapan Aulia Pohan sebagai tersangka kala itu menjadi sorotan nasional. Dia dijerat dalam kasus dugaan korupsi penyaluran dana Bank Indonesia (BI) kepada sejumlah pihak, termasuk anggota DPR.
Kasus tersebut menguak praktik gratifikasi yang melibatkan pejabat tinggi negara, dan memperlihatkan ketegasan KPK di bawah kepemimpinan Antasari dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Langkah KPK saat itu menuai banyak tekanan politik dan perhatian publik. Namun, Antasari tetap berpegang pada prinsip hukum dan integritas lembaga. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa KPK bekerja berdasarkan bukti, bukan kepentingan politik.
Keberaniannya menegakkan hukum terhadap tokoh berpengaruh menjadi simbol independensi lembaga antirasuah tersebut.
Kasus yang menjerat Aulia Pohan pun berujung pada vonis pengadilan. Dia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara, karena terbukti terlibat dalam penyaluran dana BI secara melawan hukum.
Momen itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan KPK, sekaligus mengukuhkan reputasi Antasari sebagai pimpinan yang konsisten menegakkan prinsip 'no one above the law'.
Kini, saat Antasari Azhar berpulang, publik kembali mengenang kiprah dan keberaniannya dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia.
Keputusan-keputusan tegas yang diambilnya, termasuk dalam kasus Aulia Pohan, menjadi bukti bahwa komitmen terhadap keadilan pernah ditegakkan dengan keberanian yang luar biasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








