Akurat

Sejarah, Arti, dan Contoh Politik Gentong Babi di Indonesia

Yusuf | 5 September 2025, 14:23 WIB
Sejarah, Arti, dan Contoh Politik Gentong Babi di Indonesia

AKURAT.CO Asal-usul istilah gentong babi dapat ditelusuri sejak awal 1700-an. Istilah ini merujuk pada daging babi yang diasinkan dan diawetkan dalam gentong kayu besar, dengan kapasitas lebih dari 30 galon, sebelum proses pendinginan dilakukan.

Pada 1863, penulis dan sejarawan Edward Everett Hale menerbitkan cerita berjudul The Children of the Public yang menggambarkan pengeluaran pemerintah untuk rakyat.

Sekitar 10 tahun kemudian, muncul istilah politik gentong babi, yang merujuk pada kucuran dana publik oleh seorang politikus untuk kepentingan sekelompok kecil golongan dengan tujuan mendapatkan dukungan berupa suara atau sumbangan kampanye.

Di era modern, gentong babi kemudian diartikan sebagai pengeluaran boros untuk proyek-proyek pekerjaan umum lokal yang nilainya meragukan atau mencurigakan, yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang ingin memengaruhi pemilih.

Baca Juga: Apa Itu Politik Gentong Babi yang Disinggung di Film Dokumenter Dirty Vote, Ini Penjelasannya

Politik Gentong Babi

Politik gentong babi, atau dikenal juga sebagai pork barrel, menjadi sorotan publik setelah dibahas dalam Film Dokumenter Dirty Vote. Film berdurasi sekitar dua jam ini menyoroti pernyataan ahli hukum tata negara, Bivitri Susanti, yang menyebut bahwa konsep gentong babi kerap diterapkan pemerintah Indonesia, khususnya dalam program bantuan sosial (bansos).

Menurut Bivitri, Mengapa bansos juga dijadikan alat berpolitik? Dalam ilmu politik, ada satu konsep yang relevan, yakni gentong babi atau pork barrel politics ujarnya dalam film tersebut.

Menurut jurnal Politik Pork Barrel di Indonesia (2011) oleh Antonius Saragintan dan Syahrul Hidayat, politik gentong babi adalah cara petahana membagikan dana tertentu untuk tujuan politik, terutama agar bisa terpilih kembali dalam pemilihan umum.

Tujuannya adalah agar sang petahana biaa terpilih kembali dalam pemilihan umum dan mempertahankan jabatannya untuk beberapa tahun ke depan.

Menurut Annie Duke dalam bukunya Quit (2022), politik gentong babi adalah praktik mengalokasikan dana publik untuk kepentingan politik, di mana anggaran diarahkan sedemikian rupa agar memberikan keuntungan bagi pihak tertentu secara politik.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa politik gentong babi atau pork barrel merupakan praktik mengalokasikan dana publik untuk kepentingan politik tertentu agar petahana bisa terpilih kembali dan mempertahankan jabatannya.

Baca Juga: Segera Cek Bansos Kemensos PKH September 2025, Apakah Kamu Termasuk Penerima?

Contoh Politik Gentong Babi

Dilansir dari laman Seknas Fitra dosen hukum kepemiluan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Titi Anggraini, menjelaskan bahwa politik gentong babi sering diwujudkan melalui program bantuan jangka pendek yang langsung memengaruhi pemilih, seperti bansos, bantuan tunai, hibah, atau proyek infrastruktur. Program ini biasanya dijalankan berdekatan dengan hari pemungutan suara dan diklaim sebagai inisiatif pribadi politikus atau kandidat.

Titi menekankan, praktik ini berisiko menyesatkan publik karena informasi yang disampaikan tidak utuh.

Politik gentong babi sudah lama terjadi di Indonesia, terutama ketika inkumben berusaha mencalonkan diri kembali atau jikalau kerabat inkumben ikut bertarung, sehingga publik sulit membedakan program negara dari kepentingan politik tertentu, dan hal ini merugikan peserta pemilu yang tidak memiliki akses serupa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf
R