Akurat

Apa Isi Buku Jokowi's White Paper yang Ditulis Roy Suryo CS? Ini Sederet Fakta Menariknya

Titania Isnaenin | 19 Agustus 2025, 11:20 WIB
Apa Isi Buku Jokowi's White Paper yang Ditulis Roy Suryo CS? Ini Sederet Fakta Menariknya

AKURAT.CO Buku berjudul Jokowi's White Paper: Kajian Digital Forensik, Telematika, dan Neuropolitika atas Keabsahan Dokumen dan Perilaku Kekuasaan telah diluncurkan oleh Roy Suryo bersama Rismon Sianipar dan Tiffauzia Tiyassuma (dr Tifa).

Buku setebal hampir 700 halaman ini menuangkan hasil analisis ilmiah kolaboratif ketiganya dalam mengusut keaslian ijazah sarjana UGM Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Roy Suryo menegaskan bahwa judul Jokowi's White Paper dipilih sebagai upaya untuk membersihkan nama Universitas Gadjah Mada (UGM), kampus almamater ketiga penulis.

Mereka bertiga merupakan lulusan UGM, baik S1 maupun S2. Roy Suryo mengungkapkan kesedihannya saat ini mengenai UGM dan ingin membersihkan kampus tersebut dari isu yang mengotorinya.

Fakta dan Isi Buku Jokowi's White Paper

1. Dokumentasi Kronologi Isu Ijazah Palsu

Buku ini memuat dokumentasi lengkap mengenai perjalanan isu dugaan ijazah palsu milik Jokowi, sejak pertama kali mencuat.

Roy Suryo banyak menyoroti sisi kronologis polemik ijazah ini, mendokumentasikan rangkaian peristiwa sejak tuduhan ijazah palsu muncul.

2. Momen Pemicu Perdebatan Publik

Salah satu momen awal yang diuraikan dalam buku adalah seminar di Kampus Terpadu UII yang menghadirkan Mahfud Md, Buya Syafii Maarif, serta Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Dalam acara dialog yang dipandu Rosiana Silalahi, terjadi dialog santai mengenai indeks prestasi (IP) untuk menjadi presiden.

Mahfud Md menyebut IP-nya 3,8, sementara Jokowi mengatakan IP-nya 2, yang memicu orang-orang untuk berpikir kritis.

3. Kriminalisasi Tokoh Kritis

Dari momen tersebut, lahir tokoh-tokoh kritis seperti Bambang Trimulyono dan Sugi Nur Raharja (Gus Nur) yang kemudian mempertanyakan isu tersebut.

Roy Suryo menuliskan dalam buku bahwa mereka sempat mempertanyakan hal tersebut, namun justru dikriminalisasi.

4. Penelitian Skripsi di UGM

Isi buku juga memuat perjalanan ketiga penulis saat mendatangi Fakultas Kehutanan UGM pada April 2025 lalu untuk meneliti langsung salinan skripsi yang ditulis Jokowi.

Roy Suryo secara pribadi memegang skripsi tersebut dan menelitinya langsung.

Buku ini juga menjelaskan makna dari Declaration of Human Rights, Undang-Undang Dasar 45 Pasal 28, dan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik tahun 2018 terkait dengan penelitian tersebut.

5. Analisis Digital Forensik

Buku ini menyajikan analisis digital forensik yang dilakukan oleh Rismon Sianipar termasuk perbandingan ijazah Jokowi dengan milik alumni UGM lainnya, seperti Hari Mulyono, Pronojiwo, dan Srimurtiningsih.

Terdapat temuan overlapping detection berupa reposisi buruk pada watermark logo UGM hingga tanda tangan pengesahan.

Analisis juga mencakup penggunaan perbandingan dengan RGB (Red, Green, Blue) atau CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, and Black) untuk mengkaji secara detail.

Rismon juga menyajikan analisis spektrum warna untuk menganalisis stempel pada pas ijazah Jokowi.

6. Analisis Behavioral Neuroscience

Selain itu, dr Tifa memberikan analisis dengan metode Behavioral Neuroscience untuk meneliti pola perilaku seseorang dan mengaitkannya dengan politik.

 

Proses Penerbitan dan Distribusi Buku Jokowi's White Paper

Buku ini dicetak dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris.

Soft-launching buku ini telah dilakukan di University Club (UC) Coffee Shop, UGM, Sleman, DIY, pada 18 Agustus 2025.

Grand launching rencananya akan digelar di Jakarta pada 27 Agustus 2025.

Cetakan pertama buku ini direncanakan berjumlah lima ribu buah.

Selain itu, buku ini juga akan tersedia dalam format e-book, sehingga orang bisa membacanya dalam format PDF yang dapat diunduh.

Dengan bantuan Forum Diaspora Indonesia (FDI), buku Jokowi's White Paper akan didistribusikan hingga 25 negara.

Roy Suryo berharap buku ini akan menjadi referensi yang sangat menarik karena disusun dengan bahasa teknis namun populer, menyerupai popular science.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.