Akurat

Sosok Kang Emil di Mata Imam Shamsi Ali: Religius, Humanis dan Anak Restu Ibu

Editor Jatim | 20 September 2024, 07:56 WIB
Sosok Kang Emil di Mata Imam Shamsi Ali: Religius, Humanis dan Anak Restu Ibu

AKURAT.CO – Shamsi Ali, Imam Besar di Masjid Islamic Center of New York, melukiskan sosok dan perjalanan karir politik Ridwan Kamil atau Kang Emil.

Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun lalu, tokoh agama dan ulama ini mengungkapkan momen berharga ketika bertemu Kang Emil di Bandung.

Ketika itu, Imam Shamsi diundang oleh Dompet Dhuafa untuk sejumlah agenda, termasuk bertemu dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bandung dan memberi ceramah di Masjid Trans. Dalam kesempatan tersebut, ia bertemu dengan Anis Matta, yang saat itu merupakan Sekjen PKS. Kang Emil mendekat dan memperkenalkan diri, meminta doa untuk langkah politiknya.

"Beliau meminta didoakan, 'doakan Ustadz, saya akan maju', cerita Imam Shamsi dalam sebuah tulisannya beberapa waktu lalu.

“Sejujurnya, saya tidak mengerti maksud 'maju' saat itu. Namun belakangan saya baru tahu bahwa Kang Emil berniat untuk maju dalam kontestasi Pilkada Bandung,” ujar Imam Shamsi.

Baca Juga: Ridwan Kamil Siap Gratiskan Sekolah Swasta di Jakarta Bagi Siswa dari Keluarga Kurang Mampu

Kang Emil memang bukan orang baru dan asing bagi Imam Shamsi.

Imam Shamsi mengenang Kang Emil sebagai sosok yang tidak hanya dekat dengan komunitas Islam, tetapi juga aktif dalam pengembangan masjid di New York pada tahun 98-99.

Diceritakannya, Kang Emil adalah jamaah dia di Masjid Al-Hikmah New York di tahun 98-99 itu. Kang Emil bahkan aktif membantu di kepengurusan Masjid, khususnya di bidang Humas dan publikasi.

"Kami ketika itu menerbitkan majalah komunitas bernama Al-Hikmah dan beliau (Kang Emil) bersama pak Ahmad Kusaeni (Perwakilan Antara di NY) penanggung jawab utama," ujar Imam Shamsi.

Lebih jauh lagi, ujar Imam Shamsi, isteri beliau tercinta, Ibu Atalia juga sangat aktif bahkan menjadi guru anak-anak di sekolah akhir pekan (Saturday School) di Masjid.

"Tidak lama setelah itu Kang Emil mendapatkan beasiswa untuk lanjut kuliah S2 di San Francisco. Dan sejak itu pula kami terputus hubungan hingga pertemuan di Bandung bertahun-tahun kemudian," kenang Imam Shamsi.

Ulama yang berasal dari Makassar ini menilai Kang Emil sebagai orang yang penuh makna dalam setiap ucapannya dan memiliki rasa seni yang tinggi, terutama dalam bidang arsitektur.

"Kang Emil itu orangnya tidak banyak bicara. Tapi kalau bicara selalu terasa segar dan penuh makna. Hal itu karena selain pikirannya yang konstan berputar, rasa batin beliau juga cukup tajam. Kemampuan rasa itulah yang mengantar beliau menjadi seorang arsitektur yang berhasil. Rasa batin yang terefleksi dalam karya seni (architectural design)," kata Imam Shamsi.

Rasa itu pulalah yang menjadikan Kang Emil “highly humanis” dan mudah bergaul (easy going). Di saat berbicara akan terasa segar dengan candaan dan joke-joke yang penuh makna. Menurut Imam Shamsi, rasa itu pula yang menjadikan Kang Emil mampu merangkai kata dalam mengkomunikasikan ide-idenya, baik pada bidangnya sebagai arsitektur maupun pada bidang lainnya sebagai politisi.

Dalam pandangan Imam Shamsi, karakter humanis Kang Emil sangat dipengaruhi oleh kesadaran beragamanya. "Beliau adalah seorang Muslim yang taat. Bahkan di saat Walikota Bandung beliau mengadakan program (if not mistaken) Bandung mengaji dan program sholat subuh keliling," katanya.

Kang Emil juga dikenal sangat menghormati ibunya, dengan keputusan politik yang sering kali mengedepankan restu sang ibu. "Yang lebih menarik perhatian saya pribadi adalah komitmen agama Kang Emil dalam relasinya kepada sang Ibu," ujar Shamsi.

"Ibu Kang Emil adalah seorang Ibu yang hebat. Dan Kang Emil punya kasih sayang dan respek yang luar biasa kepada sang Ibu. Sampai-sampai keputusan politik yang akan diambilnya selalu dengan restu sang Ibu. Saya pun beberapa kali berkesempatan ketemu dengan beliau," lanjut Imam Shamsi.

Setelah melanglang buana di Jabar, baik sebagai Walikota Bandung maupun sebagai Gubernur Jabar, Kang Emil kini bersiap untuk berkompetisi dalam Pilkada DKI Jakarta.

Bagi Imam Shamsi, ikhtiar Kang Emil maju di Pilkada DKI Jakarta tidak lepas dari takdir sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Secara kalkulasi politik, peluang menang Kang Emil di Jawa Barat tentu lebih menjanjikan ketimbang Jakarta. "Tapi ketika keputusan telah terjadi maka beliau terima sebagai takdir (keputusan dari Allah SWT)," ujar Imam Shamsi.

Imam Shamsi berharap Kang Emil terus berjuang untuk kebaikan dan kemanfaatan masyarakat. Hal itu selaras dengan filsafat hidup beliau “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada sesama manusia” (hadits).

Dalam menghadapi segala tantangan dalam ikhtiar di Pilkada DKI Jakarta, Imam Shamsi memberikan saran agar Kang Emil menghadapinya dengan serius tapi santai.

“Politik adalah seni yang serius, namun harus disikapi dengan santai,” ujar Shamsi.

Menurut Imam Shamsi, politik dihadapi dengan serius karena politik itu menyangkut kehidupan orang banyak. Hanya saja riak-riak dan hiruk pikuk yang terjadi dalam politik harus disikapi secara santai. "Biar semua dapat dilalui dengan riang gembira dan penuh senyum," katanya.

Tokoh agama dan ulama dari Indonesia yang berkiprah bayak di luar negeri ini berharap agar Kang Emil selalu diberi kemudahan dalam setiap langkahnya dalam kontestasi politik di Pilkada DKI Jakarta.

Banyak yang berharap Kang Emil akan terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat terutama kalau terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2024-2029.

"Kang Emil, teruslah melangkah dengan niat baik untuk menebar kebaikan dan kemanfaatan. Posisi politik hanya satu dari pintu-pintu kebaikan dan kemanfaatan itu. Dalam perjalanannya tidak semua akan menjadi senang dan terpuaskan. Tapi selalulah berusaha agar Allah ridho (senang). Dan jika Allah ridho, manusia akan ridho. InsyaAllah!," tutup Imam Shamsi. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
Reporter
Editor Jatim
A