Akurat

Analisa CSIS Soal Faktor Kemenangan Prabowo-Gibran

Paskalis Rubedanto | 21 Februari 2024, 22:54 WIB
Analisa CSIS Soal Faktor Kemenangan Prabowo-Gibran

 

AKURAT.CO Centre for Strategic and International Studies (CSIS) melakukan analisa kemenangan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024.

Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes, menjelaskan, kemenangan Prabowo-Gibran dipengaruhi oleh sejumlah hal.

Salah satunya terlihat dari angka split ticket voting yang terjadi pada pendukung partai koalisi Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud.

Adapun split ticket voting adalah seorang pemilih yang memilih calon yang berbeda untuk beberapa jenis pemilihan itu, disebut sebagai split-ticket voting.

Contohnya seorang pemilih memilih Partai PDIP, sementara untuk pemilu presiden, memilih calon yang diusung oleh Partai Gerindra.

"Kondisi tersebut tentu menguntungkan Prabowo. Ia tidak hanya mendapatkan suara dari basis partai pendukungnya tetapi juga mendapatkan suara dari partai koalisi lainnya," ujar Arya dalam keterangannya, Rabu (21/2/2024).

Baca Juga: Saksi Pilpres Prabowo-Gibran Jadi Korban Penganiayaan di Tapanuli Tengah, Pelaku Diduga dari Kubu yang Kalah

Selain itu, yang turut menyumbang angka kemenangan Prabowo-Gibran juga didapat dari persepsi positif masyarakat terhadap kinerja pemerintah serta situasi ekonomi yang dinilai baik. 

Menurut Arya, masyarakat melihat itu dari alokasi anggaran program bantuan sosial yang meningkat.

Catatan CSIS dalam survei pada Desember 2023, sebanyak 86,1 persen responden percaya kepada presiden. 

"Kemenangan Prabowo-Gibran juga dapat dilihat dari perubahan strategi tim kampanye yang menyasar kampanye di platform TikTok serta keterlibatan influencer berpengaruh dalam tim kampanye nasional. Konten-konten Prabowo yang direproduksi di TikTok hampir selalu menjadi viral dan ditonton puluhan juta orang," jelasnya.

Kendati demikian, Arya menyebut potensi kemenangan Prabowo-Gibran sebetulnya telah terdeteksi sejak awal.

Apalagi bila merujuk pada hasil survei yang signifikasi sejak November 2023. 

Ia menuturkan, peta elektoral yang dinamis jelang pemilu membuat tim dari pasangan calon lain mesti berpikir strategis, bahkan menekankan narasi pemilu berjalan lebih dari satu putaran.

"Dengan gap suara yang tinggi menjadi sangat sulit bagi Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD untuk mengejar suara Prabowo-Gibran yang terus meroket. Hal yang masih mungkin diusahakan saat itu adalah memaksa pemilu presiden bisa berlangsung dua putaran," jelas Arya.

Baca Juga: Quick Count CSIS Konfirmasi Prabowo-Gibran Menang Satu Putaran: Demokrasi Masih Pilihan Terbaik

CSIS menganalisa bahwa dalam strategi memenangkan hati pemilih, paslon nomor urut 1 dan 3 juga melancarkan gerakan yang relatif berbeda menjelang akhir masa kampanye.

"Untuk mempengaruhi sikap pemilih di akhir masa kampanye, Anies Baswedan memilih mengendurkan serangannya pada debat pamungkas calon presiden. Sebaliknya, Ganjar justru semakin agresif menyerang," pungkas Arya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.