Demokrasi Indonesia Berjalan Tanpa Nilai

AKURAT.CO Demokrasi Indonesia berjalan tanpa nilai. Esensi demokrasi yang menitikberatkan pada perlindungan terhadap kelompok minoritas, mengeliminasi diskriminasi dan kekerasan, belum berdiri tegak, kalau tak mau disebut stagnan.
Akademisi Musdah Mulia menyebutkan, rendahnya kualitas demokrasi sudah terpantau sejak 2007, atau selama dirinya terlibat aktif dalam tim penyusun indeks demokrasi hingga 2019. Hasilnya, demokrasi yang berjalan sekarang ini sebatas prosedural, belum substansial.
"Kami menyatakan demokrasi kita berkembang tanpa nilai," kata Musdah, dalam acara diskusi yang digelar di Jakarta, Jumat (22/12/2023).
Baca Juga: Petaka Demokrasi Dimulai dari Partai Politik
Menurutnya ada tiga indikator untuk mengukur kualitas demokrasi yakni tata tertib hukum, administrasi, dan tata kelola pemerintahan (good governance). Dari ketiga indikasi tersebut, publik bisa melakukan penilaian.
"Jadi indikasinya ada di sana, berkembang enggak? Bagaimana good governance kita?" tuturnya.
Dirinya mengingatkan pula selama terjadi diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan, maka demokrasi Indonesia belum berjalan baik. Sebab terdapat nilai-nilai (etika) yang perlu dikedepankan untuk membangun masyarakat demokrasi yang harus terpancar dari para elite.
Baca Juga: Catatan Akhir Tahun: Demokrasi Indonesia Sudah di Pinggir Jurang
Selama pemantauan, ujarnya, demokrasi Indonesia berkembang hanya pada tataran prosedural pelaksanaan pemilu yang digelar secara rutin. Sedangkan esensi yang menunjukkan suksesnya demokrasi tidak terlihat.
Musdah menyebut, Demokrasi harus dilengkapi dengan nilai-nilai universal seperti keadaban (etik/civil virtue). "Jadi nilai-nilai yang universal tidak berkembang, hanya perangkat-perangkatnya saja, pelaksanaan pemilu. Aneh kan?" ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









