Akurat

Selera Pemilih Indonesia: Tinggi-Ganteng, Merakyat, Kini Gemoy

Roni Anggara | 18 Desember 2023, 15:12 WIB
Selera Pemilih Indonesia: Tinggi-Ganteng, Merakyat, Kini Gemoy

AKURAT.CO Selera pemilih Indonesia hingga kini belum mengalami perubahan. Kalau pada 2009 senang yang tinggi dan ganteng, 2014 suka calon yang meraykat, pada 2024 suka yang gemoy.

Pengamat politik dari BRIN, Lili Romli menilai, selera pemilih tak lepas dari perilaku elite politik. Semakin sering elite pencitraan, maka rakyat boleh jadi dibuat mabuk dan tertarik dengan capres yang kapasitasnya perlu diperdebatkan.

"Mestinya politik pencitraan seperti itu harus ditinggalkan karena itu politik pembodohan. Rakyat hanya dibuat terbuai dan mabuk kepayang dengan cara-cara pencitraan seperti itu," kata Romli, di Jakarta, Senin (18/12/2023).

Baca Juga: Prabowo Sikapi Fenomena Gemoy, Bahagia Pipi Dicubit Emak-emak

Presiden SBY diyakini menang pemilu bukan hanya memposisikan diri didzalimi rezim. SBY menang pemilu pada 2009 karena dicitrakan figur tinggi dan ganteng.

Suksesornya, Megawati Soekarnoputri, dalam sejumlah kesempatan sering mengungkit hal itu. Dirinya kalah karena pemilih lebih suka sosok yang tinggi dan ganteng.

Presiden Jokowi menang Pilpres 2014 karena memposisikan diri sebagai figur yang merakyat. Turun langsung menyapa rakyat, bahkan turun ke gorong-gorong memeriksa pengerjaan proyek.

Baca Juga: Debat Capres Jadi Penentu Suara Pemilih Bimbang

Pada Pilpres 2024, Prabowo dicitrakan pemimpin yang gemoy alias menggemaskan. Publik suka Prabowo yang kerap berjoget, bukan sosok patriot dan nasionalis sebagaimana dicitrakan pada gelaran pilpres sebelumnya.

Lili berharap elite mengedukasi rakyat, karena boleh jadi publik sudah pintar dan tak mudah terbuai lagi. Namun lebih dari itu, aksi pencitraan yang tak substantif penting untuk dihindari karena meniadakan pendidikan politik.

"Yang didapat publik hanya sekadar hiburan tanpa substansi. Politik gagasan hilang. Adu visi dan program terabaikan," ujarnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.