Denny JA Optimis Prabowo Bawa Indonesia Menuju Ekonomi Top 10 Dunia

AKURAT.CO Denny JA, pengamat politik sekaligus pendiri LSI Denny JA, mengungkapkan pandangannya yang optimis tentang kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto setelah resmi dilantik sebagai Presiden RI ke-8.
Dalam tulisannya di media sosial, Denny menyampaikan harapannya bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk dalam jajaran ekonomi terbesar dunia.
Menurut Denny, skenario terbaik yang bisa dicapai Prabowo adalah membawa Indonesia naik tiga peringkat ekonomi dunia dalam masa jabatan pertamanya, dari posisi ke-16 ke posisi ke-13 pada tahun 2029.
Jika terpilih kembali untuk periode kedua, Prabowo diharapkan mampu mengangkat Indonesia ke posisi Top 10 ekonomi dunia pada tahun 2034.
Baca Juga: Mengenal MV3 Garuda Limousine yang Dinaiki Prabowo Subianto Setelah Pelantikan Presiden
"Skenario terbaik Prabowo adalah mengangkat peringkat ekonomi Indonesia dari posisi ke-16 menjadi posisi ke-13 pada akhir jabatannya yang pertama. Kemudian, di periode kedua, jika terpilih kembali, membawa Indonesia masuk ke dalam Top 10 negara terbesar dunia secara ekonomi pada tahun 2034," ujar Denny JA, Minggu (20/10/2024).
Denny mendasarkan optimisme ini pada prediksi lembaga-lembaga kredibel seperti Bank Dunia dan McKinsey, yang menyatakan bahwa Indonesia berpotensi menjadi ekonomi terbesar ke-4 dunia pada tahun 2045-2050, bergabung dengan negara-negara besar seperti Cina, India, dan Amerika Serikat.
Meskipun optimis, Denny juga menyoroti dua tantangan besar yang perlu dihadapi oleh pemerintahan Prabowo, yaitu masalah korupsi dan penurunan kualitas demokrasi.
Menurut Denny, korupsi bukan hanya masalah moral, tetapi juga masalah sistemik yang menghambat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Baca Juga: Spesifikasi Maung Garuda Produksi Pindad, Jadi Kendaraan Presiden Prabowo Menuju Istana!
"Korupsi adalah karat yang menggerogoti mesin negara. Ketika dana publik disalahgunakan, pembangunan terhambat, investasi tidak datang, dan masyarakat tidak mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi," tegas Denny.
Denny juga menyoroti bahwa berdasarkan data Transparency International, skor persepsi korupsi Indonesia stagnan di angka 34 sejak 2014, namun peringkatnya menurun dari posisi 107 menjadi 115 pada tahun 2023.
Ini menunjukkan perlunya upaya yang lebih serius dalam memberantas korupsi di Indonesia.
Di sisi lain, Denny menilai bahwa kualitas demokrasi di Indonesia juga mengalami penurunan.
Berdasarkan indeks demokrasi yang dirilis oleh Economist Intelligence Unit, skor demokrasi Indonesia turun dari 6,95 pada 2014 ke 6,53 pada 2023, dengan peringkat yang juga turun dari 49 ke 56.
"Kelemahan demokrasi terlihat dari melemahnya lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi penyeimbang kekuasaan, seperti DPR dan partai politik. Demokrasi yang sehat adalah fondasi penting untuk mencapai kemajuan ekonomi yang berkelanjutan," jelasnya.
Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, Denny menyarankan agar Prabowo segera melakukan reshuffle kabinet dalam enam bulan hingga satu tahun pertama pemerintahannya.
Menurutnya, hal ini penting untuk memastikan bahwa kementerian diisi oleh orang-orang yang kompeten dan memiliki integritas tinggi.
"Jika ada menteri yang tidak mampu menjalankan visi besar untuk Indonesia, maka mereka harus segera diganti. Ini akan memberikan sinyal kuat bahwa Prabowo memiliki standar yang tinggi dalam mewujudkan pemerintahan yang efektif dan bersih," tambah Denny.
Baca Juga: Pelantikan Presiden dan Paket Tantangan Ekonomi
Denny juga mengingatkan pentingnya belajar dari kepemimpinan Lee Kuan Yew di Singapura, yang menerapkan kebijakan keras terhadap korupsi dan membangun pemerintahan yang efisien dan bersih.
Keberhasilan Lee Kuan Yew menunjukkan bahwa kepemimpinan yang bersih adalah kunci kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.
Denny JA juga mengungkapkan bahwa hasil survei LSI Denny JA pada Oktober 2024 menunjukkan tingkat favourability Prabowo mencapai lebih dari 90 persen.
Menurutnya, ini adalah capaian tertinggi sejak 2009 dan menjadi bukti tingginya harapan publik terhadap kepemimpinan Prabowo.
Namun, Denny mengingatkan, harapan publik yang tinggi juga merupakan tantangan besar. Jika dalam 100 hari pertama, enam bulan pertama, atau satu tahun pertama belum ada tanda-tanda prestasi signifikan dari Prabowo, harapan tersebut bisa cepat memudar.
Baca Juga: Pesta Rakyat Pelantikan Prabowo-Gibran Berakhir, Warga Sudah Tinggalkan Bundaran HI
"Harapan publik yang tinggi adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi basis legitimasi bagi Presiden Prabowo untuk berani membuat kebijakan keras seperti zero tolerance terhadap korupsi. Namun, jika harapan itu tidak segera diwujudkan, publik bisa cepat kecewa," kata Denny.
Denny JA menegaskan, jika Prabowo berhasil menjalankan visi besar ini, bukan hanya sebagai seorang presiden, tetapi ia akan dikenang sebagai pemimpin yang memandu Indonesia menuju kebangkitan baru di panggung global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 5Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Masuki Usia 8 Tahun, Pindar UKU Bidik Pertumbuhan Lewat Penguatan Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









