Akurat

Apa Itu Disinformasi Publik? Pengertian, Ciri-Ciri, dan Dampaknya bagi Masyarakat

Eko Krisyanto | 2 Februari 2026, 23:06 WIB
Apa Itu Disinformasi Publik? Pengertian, Ciri-Ciri, dan Dampaknya bagi Masyarakat

AKURAT.CO Di era digital, arus informasi menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial, portal berita, dan aplikasi pesan instan.

Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Salah satu masalah serius yang sering muncul adalah disinformasi publik, yaitu penyebaran informasi palsu yang dapat menyesatkan masyarakat luas.

Kurangnya literasi digital membuat disinformasi publik mudah diterima dan dibagikan tanpa verifikasi. Akibatnya, opini publik dapat terbentuk berdasarkan informasi yang keliru.

Lantas, apa itu disinformasi publik dan mengapa hal ini berbahaya? Artikel ini akan menjelaskannya secara lebih lanjut.

Baca Juga: Isu Pembatasan BBM Disebut Hoaks, Pertamina Imbau Masyarakat Waspada Disinformasi

Apa Itu Disinformasi Publik?

Disinformasi publik adalah informasi yang salah atau menyesatkan yang disebarkan secara sengaja kepada masyarakat dengan tujuan tertentu, seperti memengaruhi opini, menciptakan kepanikan, merusak reputasi, atau kepentingan politik dan ekonomi.

Berbeda dengan misinformasi yang terjadi karena ketidaktahuan, disinformasi dibuat dan disebarkan dengan niat. Konten ini sering dikemas menyerupai fakta agar terlihat meyakinkan dan mudah dipercaya oleh publik.

Ciri-ciri Disinformasi Publik

Disinformasi publik memiliki ciri khas yang dapat dikenali untuk membedakannya dari informasi yang valid. Tanda-tanda ini sering muncul di media sosial maupun berita online dan perlu diwaspadai oleh masyarakat.

1. Judul Provokatif dan Sensasional

Judul dibuat bombastis untuk menarik perhatian secara cepat dan memicu klik impulsif, sering kali tidak sesuai dengan isi sebenarnya.

2. Tidak Mencantumkan Sumber yang Jelas atau Kredibel

Informasi tidak disertai rujukan ke media resmi, data pemerintah, lembaga terpercaya, atau sumber jurnal yang dapat diverifikasi.

3. Menggunakan Data atau Gambar yang Dipelintir

Fakta disajikan di luar konteks atau disertai gambar editan untuk mendukung narasi yang menyesatkan.

4. Mengandung Muatan Emosi Berlebihan

Konten sengaja memanfaatkan emosi seperti ketakutan, kemarahan, atau kebencian untuk memengaruhi cara berpikir pembaca.

5. Mengajak untuk Segera Menyebarkan Informasi

Terdapat dorongan untuk langsung membagikan informasi tanpa proses verifikasi, sehingga mempercepat penyebaran disinformasi.

Mengenali ciri-ciri disinformasi publik dapat membantu masyarakat lebih berhati-hati sebelum mempercayai atau membagikan suatu informasi.

Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Platform Digital Wajib Patuhi Hukum Soal Disinformasi, Fitnah dan Kebencian

Dampak Disinformasi Publik

Disinformasi publik dapat menimbulkan dampak negatif yang luas terhadap masyarakat dan stabilitas sosial.

Berikut beberapa dampak utama yang kerap terjadi di era digital:

1. Menyesatkan Opini Publik

Informasi palsu dapat membentuk persepsi yang keliru dan memengaruhi sikap masyarakat terhadap isu-isu penting, seperti politik, kesehatan, dan kebijakan publik.

2. Menurunkan Kepercayaan Publik

Penyebaran disinformasi secara berulang dapat merusak tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media, pemerintah, serta institusi resmi.

3. Memicu Konflik Sosial

Narasi yang bersifat provokatif berpotensi memicu perpecahan, meningkatkan kebencian, hingga menimbulkan konflik antarkelompok di masyarakat.

4. Membahayakan Keselamatan Publik

Dalam isu kesehatan atau bencana, disinformasi dapat menyebabkan keputusan yang berisiko dan membahayakan nyawa.

Untuk meminimalkan dampak tersebut, diperlukan peran aktif masyarakat dalam mencegah penyebaran disinformasi. 

Cara Mencegah Disinformasi Publik

Masyarakat dapat membantu mencegah penyebaran disinformasi dengan membiasakan verifikasi informasi.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

1. Memeriksa Informasi dari Sumber Tepercaya

Pastikan kebenaran informasi dengan melakukan pengecekan silang melalui situs pemerintah, media arus utama yang kredibel, atau lembaga pemeriksa fakta sebelum mempercayai suatu konten.

2. Tidak Langsung Menyebarkan Informasi

Hindari kebiasaan membagikan informasi secara tergesa-gesa. Luangkan waktu untuk memastikan kebenaran isi sebelum menyebarkannya kepada orang lain.

3. Membandingkan Berita dari Berbagai Sumber

Membaca berita dari beberapa sumber tepercaya dapat membantu melihat konsistensi informasi dan mengurangi risiko menerima narasi yang menyesatkan.

4. Meningkatkan Literasi Digital

Mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui edukasi literasi digital, termasuk pemahaman tentang manipulasi media dan konten hasil rekayasa digital.

5. Melaporkan Konten Menyesatkan

Manfaatkan fitur pelaporan pada platform digital seperti X, Instagram, atau WhatsApp untuk membantu menghentikan peredaran konten palsu.

Disinformasi publik adalah ancaman serius di era digital karena dapat memengaruhi opini, merusak kepercayaan, dan menimbulkan dampak sosial yang luas.

Dengan memahami apa itu disinformasi publik, ciri-cirinya, serta dampaknya, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Meningkatkan literasi digital dan sikap kritis menjadi kunci utama dalam melindungi ruang publik dari pengaruh disinformasi yang merugikan.

Vidhia Ramadhanti (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R