Fakta Ilmiah di Balik Salinitas Laut dan Ketawaran Air Danau

AKURAT.CO Jika kamu pernah menelan air laut saat berenang, rasa asin itu hampir pasti langsung tertinggal di lidah. Namun begitu berpindah ke danau atau sungai, sensasinya berbeda total segar, ringan, dan tentu saja tidak asin.
Perbedaan sederhana ini sebenarnya menyimpan proses panjang yang bekerja tanpa henti selama jutaan tahun.
Baca Juga: Warga Gaza Terpaksa Mandi Pakai Air Laut Karena Kehabisan Air Bersih, Ini Dampaknya Bagi Kesehatan
Asal-Muasal Rasa Asin di Laut
Garam di laut tidak muncul begitu saja. Ia berasal dari daratan, dari batuan yang perlahan terkikis oleh hujan. Setiap kali air hujan jatuh, air yang sedikit asam akan meluruhkan mineral-mineral kecil dari permukaan batuan.
Mineral itu kemudian terpecah menjadi ion dan dibawa aliran air menuju sungai, lalu berakhir di laut.
Di lautan, ion natrium dan klorida bertemu dan membentuk garam yang kita kenal. Lautan pun terus-menerus “diisi ulang” oleh garam baru sementara tubuh air itu sendiri tidak memiliki pintu keluar.
Airnya bisa menguap menjadi awan, tetapi mineralnya tetap tinggal, membuat kadar garam makin pekat dari masa ke masa.
Itulah sebabnya laut terasa asin. Dan karena lautan tidak pernah benar-benar berhenti menerima limpasan mineral dari darat, salinitasnya stabil dalam jangka panjang.
Mengapa Air Sungai dan Danau Tetap Tawar?
Berbeda dengan laut, danau dan sungai memiliki siklus air yang cepat dan terus berganti.
Hujan yang turun langsung menjadi “pasokan segar” sehingga garam yang terbawa dari hasil erosi tidak pernah bertahan lama. Aliran sungai membawa air menuju hilir sebelum konsentrasi mineral sempat menumpuk.
Beberapa jenis danau memang bisa asin, contoh paling terkenal adalah Laut Mati atau Great Salt Lake di Utah. Tapi itu terjadi karena mereka tidak memiliki saluran keluar.
Air terus masuk tanpa pernah mengalir keluar, sehingga garam mengendap dan terkumpul. Namun mayoritas danau memiliki aliran keluar, sehingga mineral yang terbawa otomatis terbuang, membuat air tetap tawar.
Ikan Air Laut dan Ikan Air Tawar
Perbedaan salinitas juga menciptakan keanekaragaman spesies. Ikan laut seperti tuna, kakap merah, kerapu, hingga pari memiliki mekanisme tubuh yang dirancang untuk hidup di lingkungan asin. Mereka justru akan membuang garam berlebih melalui insang dan urin yang sangat pekat.
Sebaliknya, ikan air tawar seperti nila, gurami, lele, atau ikan mas hidup dalam kondisi yang justru membuat tubuh mereka cenderung menyerap terlalu banyak air.
Untuk menyeimbangkan, mereka mengeluarkan urin dalam jumlah besar dan menyimpan garam secara efisien.
Ada juga spesies yang bisa hidup di dua dunia, misalnya salmon dan sidat. Namun mereka membutuhkan waktu adaptasi biologis yang tidak singkat.
Baca Juga: Yuk Cobain Perawatan DNA Ikan Salmon yang Jadi Tren Kaum Hawa
Kelebihan dan Kekurangan Air Laut vs Air Danau
Dalam kehidupan sehari-hari, laut dan danau menawarkan manfaat yang berbeda.
Air laut mengandung mineral tinggi dan sering dipakai untuk terapi kulit, produksi garam, hingga industri perikanan berskala besar. Namun karena kadar garamnya tinggi, air ini tidak bisa diminum tanpa proses desalinasi.
Air danau serta sungai lebih mudah diolah menjadi air minum dan digunakan untuk kebutuhan domestik. Hanya saja, kualitasnya sangat bergantung pada kondisi lingkungan.
Danau yang tertutup hutan biasanya jernih, sementara yang dekat aktivitas manusia rentan tercemar.
Secara sederhana, rasa asin di laut adalah hasil jutaan tahun kerja alam: hujan mengikis batuan, mineral mengalir ke laut, air menguap, garam tertinggal.
Danau serta sungai justru terus diganti oleh air baru sehingga tidak pernah menumpuk garam. Dua proses berbeda ini menciptakan dua rasa yang bertolak belakang.
Mutiara MY(Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









