8 Hewan dengan Indra Super Peka terhadap Cuaca Buruk

AKURAT.CO Hewan sering kali bereaksi lebih cepat daripada manusia ketika cuaca buruk sedang mendekat. Bukan karena mereka meramal, tetapi karena tubuh mereka memang peka terhadap perubahan kecil di alam, perubahan yang bahkan tak kita sadari.
Beberapa hewan bisa merasakan turunnya tekanan udara jauh sebelum awan gelap terlihat.
Ada yang sensitif terhadap peningkatan kelembapan, ada yang menangkap getaran halus di tanah, ada pula yang membaca perubahan arus atau suhu di perairan.
Bagi manusia, semua itu nyaris tak terdeteksi, tetapi bagi hewan, tanda-tanda kecil itu adalah alarm biologis yang sudah tertanam sejak ribuan tahun lalu.
Pada dasarnya, merka bereaksi cepat karena bertahan hidup memang menuntut mereka begitu; berpindah tempat sebelum badai datang, mencari tempat aman sebelum hujan besar turun, atau naik ke daratan ketika gelombang laut mulai tak stabil.
1. Burung
Burung adalah hewan pertama yang biasanya menunjukkan tanda-tanda cuaca buruk.
Mereka sangat sensitif terhadap perubahan tekanan udara. Saat tekanan turun burung akan menurunkan ketinggian terbangnya, mencari tempat berlindung, atau bergerak menuju vegetasi yang lebih rapat.
Sebaliknya, saat cuaca stabil, mereka terbang tinggi atau bermigrasi dalam jarak jauh. Pola migrasi massal burung sering menjadi petunjuk bahwa musim ekstrem sedang mengintai.
2. Semut dan Serangga Tanah
Dari semua hewan darat, semut termasuk “peramal cuaca” yang paling aktif.
Antena mereka sangat peka terhadap peningkatan kelembapan dan penurunan tekanan udara yang terjadi beberapa jam sebelum hujan lebat.
Ketika tanda-tanda itu muncul, koloni semut biasanya melakukan hal-hal berikut:
- Menutup pintu sarang dengan tanah atau pasir,
- Memindahkan telur ke bagian sarang yang lebih tinggi,
- Keluar beramai-ramai membawa material untuk memperkuat terowongan.
Rayap, jangkrik, dan kumbang tanah juga menunjukkan perilaku serupa. Bahkan rayap dapat merasakan perubahan getaran mikro pada tanah yang tak kasat mata.
3. Sapi dan Kambing
Di banyak pedesaan, petani sering memperhatikan sapi atau kambing yang tiba-tiba berbaring lama sebelum hujan. Kebiasaan ini sudah terjadi bertahun-tahun dan punya dasar ilmiah.
Sapi bukan hanya sensitif terhadap kelembapan pada rumput, tetapi juga terhadap perubahan elektromagnetik di udara yang mendahului badai.
Saat tekanan udara turun, suhu tanah berubah, dan sapi merespons dengan cara mempertahankan energi.
Hewan ternak seperti kuda dan bahkan anjing juga sering menunjukkan kegelisahan saat badai akan datang mereka bisa merasakan frekuensi infrasonik yang tidak terdengar oleh manusia.
4. Lebah
Lebah menjadi salah satu indikator paling jelas untuk memprediksi perubahan cuaca ekstrem. Ketika tekanan udara turun, lebah akan:
- Kembali ke sarang lebih cepat,
- Menutup pintu masuk dengan lilin atau propolis,
- Mengurangi aktivitas terbang secara drastis.
Peternak lebah menganggap perilaku ini sebagai “alarm alam” bahwa hujan lebat atau angin kencang akan segera datang.
5. Cacing Tanah
Cacing tanah termasuk hewan yang paling cepat bereaksi terhadap perubahan kelembapan dan suhu tanah.
Sebelum hujan turun, tanah menjadi lebih lembut akibat peningkatan kelembapan di lapisan atas.
Beberapa jam sebelum air benar-benar turun, cacing biasanya sudah muncul ke permukaan untuk mencegah sarangnya tergenang air.
Mereka juga bisa merasakan getaran dari jarak yang sangat jauh salah satu kemampuan yang disinyalir membuat mereka sensitif terhadap gempa ringan atau tekanan atmosfer sebelum badai.
6. Katak dan Amfibi
Katak dikenal dengan kemampuannya merasakan perubahan suhu dan kelembaban udara.
Ketika udara menjadi sangat lembap mereka akan lebih sering mengeluarkan suara, bahkan kadang-kadang berpindah ke tempat lebih tinggi.
Banyak komunitas lokal di berbagai negara percaya bahwa suara katak yang lebih keras atau lebih sering menandakan hujan lebat akan datang.
Dari sudut pandang biologi, suara itu terkait dengan perubahan tekanan udara yang merangsang mereka untuk mencari pasangan sebelum musim basah dimulai.
7. Ikan Perairan Laut Dalam
Tidak hanya hewan darat, hewan laut pun mampu membaca gejala alam.
Ikan-ikan tertentu diketahui bergerak ke dasar laut ketika badai besar atau gelombang tinggi mendekat. Mereka sangat sensitif terhadap:
- Perubahan tekanan air,
- Turunnya kadar oksigen,
- Perubahan suhu permukaan laut.
Beberapa spesies, seperti tuna, hiu kecil, dan ikan karang, sering menghindar ke zona lebih tenang jauh sebelum kapal nelayan menyadari adanya pergeseran cuaca.
Baca Juga: Hukum Memakan Katak dalam Islam
8. Lumba-Lumba dan Paus
Mamalia laut ini memiliki kemampuan sonar (echolocation) yang luar biasa. Ketika gelombang ekstrem atau badai terjadi, pola suara di laut berubah, dan lumba-lumba sering bergerak menjauhi permukaan jauh lebih awal.
Ditemukannya lumba-lumba yang tiba-tiba bermigrasi atau menjauh dari suatu wilayah kerap dianggap sebagai tanda bahwa kondisi laut sedang tidak stabil.
Di tengah teknologi cuaca yang semakin modern, perilaku hewan tetap menjadi indikator alami yang tak bisa sepenuhnya diabaikan.
Dari darat, laut, hingga bawah tanah, setiap perubahan kecil yang mereka rasakan adalah bagian dari mekanisme bertahan hidup.
Dan sering kali, sebelum radar cuaca mengumumkan peringatan, hewan-hewan itu sudah lebih dahulu bergerak.
Mutiara MY(magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









