Akurat

Bagaimana Propaganda Perang Membentuk Persepsi Musuh dan Kawan

Eko Krisyanto | 25 Desember 2025, 21:08 WIB
Bagaimana Propaganda Perang Membentuk Persepsi Musuh dan Kawan

AKURAT.CO Pada abad ke-20, propaganda politik menjelma menjadi senjata strategis yang menentukan arah dukungan publik, loyalitas tentara, hingga daya tahan moral suatu bangsa.

Era Perang Dunia menjadi tonggak penting dalam sejarah propaganda modern.

Negara-negara yang terlibat menyadari bahwa kemenangan tidak cukup diraih dengan kekuatan militer semata. Mereka membutuhkan legitimasi, semangat kolektif, dan kontrol atas informasi. Dari sinilah propaganda berkembang secara sistematis, terorganisasi, dan masif.

Baca Juga: Prancis Tangkap 3 Terduga Mata-Mata Rusia di Paris, Diduga Sebarkan Propaganda Pro-Kremlin

Apa Itu Propaganda Politik dalam Konteks Perang?

Propaganda politik adalah upaya terencana untuk memengaruhi opini, emosi, dan perilaku masyarakat demi kepentingan kekuasaan.

Dalam konteks perang dunia, propaganda digunakan untuk berbagai tujuan: membangun citra musuh, membangkitkan patriotisme, menekan perlawanan internal, hingga memanipulasi persepsi internasional.

Media yang digunakan pun beragam, mulai dari poster, pamflet, surat kabar, radio, film, hingga pidato publik. Pesannya sering kali disederhanakan, emosional, dan berulang, agar mudah diterima oleh massa dari berbagai latar belakang pendidikan.

Perang Dunia I Awal Propaganda Modern yang Terorganisasi

Perang Dunia I (1914–1918) menandai lahirnya propaganda modern berskala negara. Konflik ini melibatkan jutaan tentara dan masyarakat sipil dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemerintah menyadari bahwa dukungan rakyat mutlak diperlukan untuk mempertahankan perang yang panjang dan melelahkan.

Di Eropa dan Amerika Serikat, propaganda digunakan untuk menggambarkan musuh sebagai sosok barbar, tidak berperikemanusiaan, dan mengancam peradaban. Narasi ini bertujuan membenarkan perang serta meredam kritik dari dalam negeri.

Poster-poster perekrutan tentara, kampanye penghematan pangan, dan ajakan membeli obligasi perang membanjiri ruang publik.

Pada saat yang sama, kebebasan pers mulai dibatasi.

Berita kekalahan atau korban besar sering disensor agar tidak melemahkan moral publik. Informasi menjadi komoditas yang dikendalikan negara.

Perang Dunia II, Puncak Kejayaan Mesin Propaganda

Jika Perang Dunia I menjadi awal, maka Perang Dunia II adalah puncak perkembangan propaganda politik.

Hampir semua negara yang terlibat membangun lembaga khusus untuk mengelola informasi dan pesan perang.

Propaganda tidak lagi bersifat sporadis, melainkan dirancang secara ilmiah dengan memanfaatkan psikologi massa.

Di Jerman Nazi, propaganda berada di bawah kendali ketat negara dan menjadi bagian dari ideologi.

Musuh digambarkan secara ekstrem, sementara pemimpin diposisikan sebagai simbol keselamatan bangsa.

Media digunakan untuk membangun kultus, menanamkan rasa takut, dan menghapus ruang kritik.

Di pihak Sekutu, propaganda juga berkembang pesat, meski dengan pendekatan yang berbeda.

Pesan-pesan yang disebarkan menekankan persatuan, pengorbanan, dan kewajiban moral melawan tirani.

Film, siaran radio, dan poster visual dirancang untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan dan anak-anak.

Menariknya, propaganda tidak hanya ditujukan kepada warga sendiri, tetapi juga kepada musuh.

Operasi propaganda rahasia dilakukan untuk melemahkan semangat tempur lawan, menebar keraguan, dan memicu perpecahan internal.

Baca Juga: Surat Prajurit Perang Dunia I Ditemukan di Pantai Australia Setelah 108 Tahun

Bagaimana Propaganda Bekerja?

Propaganda di era Perang Dunia bekerja dengan beberapa pola utama. Pertama, penyederhanaan pesan.

Dunia dibagi secara tegas antara “kita” dan “mereka.” Kedua, penggunaan emosi diutamakan daripada argumen rasional. Ketiga, pengulangan terus-menerus agar pesan tertanam dalam kesadaran publik.

Simbol visual memainkan peran penting. Warna, ekspresi wajah, dan slogan singkat dirancang untuk langsung memicu respons emosional.

Radio, sebagai teknologi baru saat itu, menjadi alat efektif untuk menjangkau masyarakat luas secara cepat dan serempak.

Siapa Target Utama Propaganda?

Propaganda politik di era Perang Dunia menyasar berbagai kelompok.

Tentara menjadi target utama untuk menjaga moral dan ketaatan.

Warga sipil diarahkan untuk mendukung perang melalui kerja, penghematan, dan kepatuhan.

Bahkan negara netral pun menjadi sasaran propaganda internasional untuk memengaruhi sikap politik mereka.

Kelompok minoritas dan oposisi internal sering kali menjadi korban propaganda negatif. Mereka digambarkan sebagai ancaman dari dalam, yang harus diawasi atau disingkirkan demi keamanan nasional.

Dampak Jangka Panjang Propaganda Perang

Warisan propaganda Perang Dunia tidak berakhir ketika senjata terdiam.

Banyak stereotip, trauma kolektif, dan narasi permusuhan bertahan lama setelah perang usai.

Propaganda juga meninggalkan pelajaran penting tentang betapa kuatnya pengaruh informasi yang dikendalikan negara.

Di sisi lain, pengalaman ini mendorong lahirnya kesadaran kritis terhadap media.

Setelah Perang Dunia II, dunia mulai mendiskusikan etika informasi, kebebasan pers, dan bahaya manipulasi massal meski tantangan itu tidak pernah benar-benar hilang.

Mengapa Sejarah Ini Relevan Hari Ini?

Di era digital, propaganda tidak lagi bergantung pada poster atau radio. Namun prinsip dasarnya tetap sama: mengendalikan narasi untuk memengaruhi opini publik. Media sosial, algoritma, dan konten viral menjadi wajah baru propaganda politik.

Mempelajari sejarah propaganda di era Perang Dunia membantu kita memahami bahwa manipulasi informasi bukan fenomena baru. Itu adalah bagian dari sejarah kekuasaan yang terus beradaptasi dengan teknologi.

Sejarah propaganda politik di era Perang Dunia menunjukkan bahwa perang tidak hanya dimenangkan di medan tempur, tetapi juga di ruang pikiran manusia.

Informasi dapat menjadi alat pembebasan, tetapi juga senjata yang melumpuhkan nalar.

Mutiara MY (Magang)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R