Pembagian Wilayah Setelah Perang Dunia II: Lahirnya Blok Timur dan Blok Barat

AKURAT.CO Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, tatanan geopolitik dunia berubah secara drastis.
Namun bukan berubah menjadi perdamaian, justru dunia terbelah menjadi dua kekuatan besar yang saling bersaing.
Blok Barat dipimpin oleh Amerika Serikat dengan ideologi kapitalisme dan demokrasi, serta Blok Timur dipimpin oleh Uni Soviet dengan ideologi komunisme.
Perang Dunia II di Eropa resmi berakhir pada 8 Mei 1945 setelah Jerman menyerah tanpa syarat, mengakhiri satu dekade konflik besar yang menghancurkan banyak negara.
Pascaperang ini, para pemenang seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet berpengaruh besar terhadap tatanan Eropa dan dunia yang sedang dibangun kembali.
Konferensi besar seperti Konferensi Yalta (Februari 1945) dan Konferensi Potsdam (Juli-Agustus 1945) bertujuan membahas pembagian wilayah serta masa depan politik Eropa.
Namun, perbedaan kepentingan segera muncul antara kekuatan Sekutu, terutama antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Inggris, AS, dan Prancis ingin demokrasi serta rekonstruksi ekonomi pascaperang, sedangkan Uni Soviet bersikeras pada keamanan dan kendali atas wilayah yang menjadi buffer atau zona pengaruhnya.
Pembentukan Dua Kubu Ideologis
1. Blok Barat: Kapitalisme dan Demokrasi
Blok Barat merupakan sekumpulan negara yang mengadopsi sistem kapitalis serta demokrasi liberal.
AS memimpin blok ini dengan sekutu seperti Inggris, Perancis, Kanada, dan lainnya. Inti dari ideologi ini yaitu pasar bebas, hak individu, serta pemerintahan demokratis yang dibentuk melalui pemilihan umum.
Demi menjaga keamanan bersama dan menghadapi kemungkinan ekspansi Soviet, Blok Barat membentuk North Atlantic Treaty Organization pada 1949, yakni sebuah aliansi militer yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
2. Blok Timur: Komunisme dan Kontrol Terpusat
Blok Timur dipimpin oleh Uni Soviet yang menyebarkan ideologi komunisme Marxis-Leninis. Negara-negara Eropa Timur seperti Polandia, Cekoslovakia, Hongaria, Rumania, Bulgaria, serta Jerman Timur diberi tekanan politik dan militer untuk mengadopsi sistem ekonomi terencana dan pemerintahan satu partai.
Sebagai respons terhadap NATO, Uni Soviet membentuk Pakta Warsawa pada 1955, yakni aliansi militer negara-negara komunis yang bertujuan mengkoordinasikan pertahanan dan kekuatan militer antar anggota Blok Timur.
Simbol Pembelahan: Tirai Besi dan Tembok Berlin
Perpecahan ini tidak hanya bersifat politis maupun ideologis, tetapi juga terlihat secara fisik di Eropa. Istilah "Tirai Besi" menggambarkan garis imajiner yang memisahkan wilayah Eropa Timur yang komunis dengan Eropa Barat yang demokratis.
Simbol paling mencolok dari pembelahan ini yaitu Tembok Berlin yang dibangun oleh pemerintah Jerman Timur pada 1961 untuk mencegah warganya melarikan diri ke Berlin Barat yang lebih makmur dan bebas.
Tembok ini berdiri sebagai batas nyata antara dua dunia berbeda hingga akhirnya runtuh pada 1989, menandai perubahan besar dalam hubungan Blok Timur-Blok Barat.
Dampak Global dari Polarisasi Blok
Konfrontasi antara kedua blok ini menghasilkan Perang Proksi di berbagai wilayah dunia. Konflik ini terjadi bukan antara AS dan Uni Soviet secara langsung tetapi melalui dukungan kepada pihak yang bertikai di berbagai negara seperti Korea, Vietnam, dan Afghanistan.
Pada tingkat ekonomi, program seperti Rencana Marshall (European Recovery Program) yang diluncurkan pada 1948 untuk membantu pemulihan ekonomi Eropa Barat sekaligus memperkuat pengaruh ideologi demokrasi pasar bebas.
Sebaliknya, negara-negara Blok Timur memusatkan ekonomi mereka sesuai dengan prinsip perencanaan terpusat di bawah kendali Soviet.
Pembagian dunia menjadi Blok Timur dan Blok Barat pasca-Perang Dunia II bukan sekadar garis geografis tetapi merupakan manifestasi perbedaan ideologi, kepentingan politik, dan strategi militer yang bertahan hampir sepanjang abad ke-20.
Mulai dari konferensi pascaperang seperti Yalta dan Potsdam hingga pembentukan aliansi besar seperti NATO dan Pakta Warsawa, semua langkah itu memperkuat polarisasi global yang dikenal sebagai Perang Dingin. Warisan dari kedua blok ini masih memengaruhi hubungan internasional dan geopolitik dunia hingga saat ini.
Laporan: Marina Yeremin Sindika Sari/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









