Akurat

Bagaimana Proses Big Bang Terjadi? Ini Penjelasan Lengkapnya

Eko Krisyanto | 16 Desember 2025, 08:35 WIB
Bagaimana Proses Big Bang Terjadi? Ini Penjelasan Lengkapnya

AKURAT.CO Alam semesta yang kita tinggali saat ini tidak selalu sebesar sekarang. Semua galaksi, bintang, planet, dan materi yang kita kenal berawal dari kondisi yang jauh berbeda: sangat padat, sangat kecil, dan sangat panas.

Para ilmuwan meyakini bahwa seluruh isi alam semesta dulunya berada dalam sebuah titik tunggal yang disebut singularitas.

Dari sinilah segala sesuatu bermula, memicu peristiwa besar yang kini dikenal sebagai Big Bang.

Proses Big Bang bukanlah "ledakan" dalam arti umum, melainkan awal mula ekspansi ruang secara cepat dan terus menerus. Ruang itu sendiri mengembang, membawa seluruh materi di dalamnya ikut menjauh.

Peristiwa inilah yang membentuk evolusi alam semesta, dari kondisi super panas menuju keadaan seperti sekarang - penuh dengan bintang, galaksi, dan struktur kosmik lainnya.

Teori Big Bang telah menjadi model paling kuat yang menjelaskan asal-usul alam semesta berdasarkan bukti ilmiah yang konsisten.

Apa Itu Big Bang?

Big Bang adalah suatu peristiwa awal ketika alam semesta mulai mengembang dari kondisi sangat padat dan panas.

Pada saat tersebut, tidak ada ruang, waktu, atau materi seperti sekarang. Yang ada hanyalah energi luar biasa besar yang kemudian berkembang menjadi elemen-elemen dasar penyusun alam semesta.

Konsep ini menjelaskan bahwa alam semesta memiliki usia tertentu dan tidak selalu sebesar ini sejak awal.

Dengan melacak kembali proses ekspansi selama miliaran tahun, para ilmuwan dapat memperkirakan bagaimana alam semesta terbentuk dan berkembang.

Proses Terjadinya Big Bang

1. Singularitas: Titik Awal Segala Sesuatu

Segala sesuatu dimulai dari keadaan singularitas, yaitu kondisi ketika seluruh energi alam semesta terkumpul dalam satu titik yang sangat kecil.

Pada titik ini, hukum fisika modern sulit berlaku karena suhu dan tekanannya sangat ekstrem.

Meskipun alasan mengapa singularitas ini ada masih menjadi misteri, dari sinilah segala proses pembentukan alam semesta dimulai.

2. Ekspansi Cepat (Inflasi)

Beberapa saat setelah titik awal, alam semesta mengalami ekspansi yang sangat cepat. Proses ini disebut inflasi kosmik. Dalam fraksi detik, ukuran alam semesta membesar berkali-kali lipat.

Inflasi ini sangat penting karena membuat penyebaran energi menjadi merata dan menjadi dasar terbentuknya struktur alam semesta di masa depan.

3. Pendinginan dan Pembentukan Partikel Dasar

Saat alam semesta mengembang, suhunya berangsur-angsur menurun. Energi yang awalnya sangat besar mulai berubah menjadi partikel-partikel dasar seperti proton, neutron, dan elektron.

Di tahap ini, belum ada atom. Yang ada hanyalah partikel-partikel bebas yang terus bergerak cepat dalam suhu yang masih sangat panas.

4. Nukleosintesis Awal

Beberapa menit setelah Big Bang, suhu alam semesta mulai cukup stabil untuk memungkinkan proton dan neutron bergabung membentuk inti atom ringan, seperti hidrogen, helium, dan sedikit litium.

Unsur-unsur ringan inilah yang menjadi cikal bakal pembentukan bintang-bintang pertama.

5. Pembentukan Atom dan Lepasnya Cahaya Pertama

Sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang, alam semesta cukup dingin sehingga elektron mulai bergabung dengan inti atom, menciptakan atom netral.

Pada saat inilah cahaya untuk pertama kalinya dapat bergerak bebas di ruang angkasa. Radiasi inilah yang kini kita kenal sebagai Cosmic Microwave Background (CMB), "jejak panas" tertua yang masih dapat diamati.

Bukti Ilmiah bahwa Big Bag Benar Terjadi

Para ilmuwan mendukung teori Big Bang melalui beberapa bukti kuat:

1. Ekspansi Alam Semesta (Redshift Galaksi)

Pengamatan menunjukkan bahwa galaksi-galaksi di alam semesta bergerak menjauh satu sama lain.

Fenomena ini disebut redshift karena cahaya dari galaksi menjauh akan tampak bergeser ke arah merah. Ini bukti kuat bahwa ruang sedang mengembang.

2. Radiasi Latar Belakang Kosmik (Cosmic Microwave Background/CMB)

Cosmic Microwave Background (CMB) adalah sisa radiasi dari fase awal alam semesta yang masih dapat dideteksi hari ini. Radiasi ini hampir merata di seluruh langit dan sesuai dengan prediksi teori Big Bang.

3. Kelimpahan Unsur Ringan (Nukleosintesis Big Bag/BNN)

Perbandingan jumlah hidrogen, helium, dan litium yang ditemukan di alam semesta sesuai dengan model pembentukan unsur awal setelah Big Bang.

Proses Big Bang menjelaskan bagaimana alam semesta bermula dari keadaan sangat padat dan panas, lalu mengembang, mendingin, dan membentuk struktur kosmik seperti yang kita lihat sekarang.

Dengan adanya bukti seperti ekspansi alam semesta, radiasi latar belakang kosmik, dan kelimpahan unsur ringan, teori ini menjadi landasan kosmologi modern.

Walaupun banyak hal sudah dipahami, Big Bang tetap menyimpan banyak misteri - terutama mengenai keadaan sebelum peristiwa ini terjadi.

Ilmu pengetahuan terus berkembang, dan penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkapkan asal-usul terdalam alam semesta.

Laporan: Vania Tri Yuniar/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK