Bagaimana Cara Melakukan Wawancara yang Baik? Berikut Tips yang Akurat

AKURAT.CO Melakukan wawancara bukan sekadar bertanya dan mencatat jawaban. Proses ini membutuhkan persiapan matang, teknik komunikasi yang tepat, serta kemampuan menjaga alur percakapan agar informasi yang diperoleh benar-benar akurat. Wawancara biasanya digunakan untuk kepentingan riset, penulisan artikel, penyusunan laporan, hingga peliputan berita. Karena itu, memahami cara melakukan wawancara yang baik menjadi keterampilan penting di berbagai bidang.
Dalam Metodologi Penelitian Ilmiah: Panduan Praktis untuk Penelitian Berkualitas, Ari Riswanto menegaskan bahwa wawancara menuntut kemampuan komunikasi yang solid dan pendekatan yang nyaman bagi narasumber agar data yang diberikan jujur dan relevan. Jika dilakukan dengan benar, wawancara dapat menggali informasi yang tidak dapat ditemukan lewat penelitian tertulis.
Artikel ini merangkum panduan lengkap tentang langkah-langkah wawancara yang efektif, cara membangun kenyamanan dengan narasumber, serta tips teknis agar proses wawancara berjalan lancar dari awal hingga akhir.
Mengapa Memahami Cara Wawancara yang Baik Itu Penting?
Wawancara yang dilakukan dengan asal-asalan berpotensi menghasilkan data tidak lengkap, melebar dari topik, atau bahkan membuat narasumber enggan berbicara terbuka. Sebaliknya, wawancara yang terstruktur dan dipersiapkan dengan baik akan memberikan informasi yang tajam, kredibel, dan mudah diolah menjadi bahan tulisan atau laporan.
Selain itu, pewawancara yang mampu menciptakan suasana nyaman akan membuat narasumber lebih spontan dalam memberikan jawaban, sehingga hasilnya lebih kaya dan bernilai.
1. Memahami Inti Pertanyaan: Bagaimana Cara Melakukan Wawancara yang Baik?
Sebelum menyiapkan daftar pertanyaan, ada tahap dasar yang harus dilakukan agar wawancara tidak keluar jalur. Proses ini dimulai dari memilih topik, memahami masalah, hingga menentukan narasumber yang tepat.
Tentukan topik wawancara secara jelas
Langkah awal adalah menentukan topik atau tema besar wawancara. Topik yang tepat memudahkan Anda menyusun panduan pertanyaan dan memastikan informasi yang diperoleh relevan. Misalnya, jika ingin membahas isu pendidikan, Anda bisa menentukan fokus seperti kurikulum, fasilitas sekolah, atau pengalaman mengajar.
Pelajari masalah atau konteks yang ingin digali
Sebelum bertemu narasumber, pahami dulu isu yang akan dibahas. Tujuannya agar Anda mengetahui masalah inti, tidak salah arah dalam bertanya, dan bisa menyiapkan pertanyaan sesuai kebutuhan informasi.
Memahami konteks membuat Anda tampak lebih profesional dan membantu narasumber merasa dihargai.
Pilih narasumber yang kompeten
Narasumber adalah kunci utama kualitas wawancara. Pilihlah orang yang benar-benar memahami topik yang ingin dibahas. Jika narasumber memiliki pengalaman langsung, hasil wawancara biasanya lebih kaya dan mendalam.
2. Menjalin Kontak Awal dan Menyiapkan Pertemuan
Setelah menentukan narasumber, langkah berikutnya adalah menghubungi mereka secara sopan dan profesional.
Buat janji dengan etika yang baik
Hubungi narasumber jauh sebelum hari wawancara. Jelaskan maksud wawancara, waktu yang Anda butuhkan, serta media apa yang akan digunakan (langsung, video call, atau telepon). Pastikan jadwal, lokasi, dan format pertemuan jelas agar tidak terjadi miskomunikasi.
Susun daftar pertanyaan sesuai kebutuhan
Pertanyaan memegang peran penting dalam menjaga alur wawancara. Gunakan metode 5W + 1H — what, who, when, where, why, dan how — untuk membantu menyusun materi wawancara yang terarah. Pertanyaan terbuka lebih disarankan karena memberi ruang bagi narasumber menjelaskan secara lebih luas.
Usahakan untuk membuat setidaknya 10–15 pertanyaan inti agar wawancara tetap terstruktur.
Persiapkan perlengkapan yang dibutuhkan
Sediakan alat tulis, buku catatan, dan perekam suara jika diperlukan. Namun, pastikan untuk meminta izin sebelum merekam, karena hal ini menyangkut privasi dan kenyamanan narasumber.
Penampilan rapi, datang lebih awal, serta memastikan perangkat siap digunakan akan membantu Anda terlihat profesional.
3. Membangun Kesan Pertama yang Baik
Kontak pertama saat bertemu narasumber sangat menentukan suasana wawancara.
Mulailah dengan jabat tangan yang mantap, senyuman, dan memperkenalkan diri secara singkat. Tindakan sederhana ini dapat mencairkan suasana dan membuat narasumber lebih terbuka.
Perhatikan pula bahasa tubuh: duduk tegak, lakukan kontak mata sewajarnya, dan tunjukkan bahwa Anda benar-benar tertarik pada topik yang akan dibahas.
4. Melakukan Wawancara dengan Alur yang Terarah
Saat wawancara berlangsung, kemampuan mendengarkan menjadi senjata utama.
Dengarkan dengan aktif dan jangan memotong pembicaraan
Jangan buru-buru menyela saat narasumber menjawab. Beri waktu bagi mereka menyelesaikan penjelasan. Jika ada jawaban yang belum jelas, Anda bisa meminta klarifikasi dengan sopan.
Gunakan pertanyaan lanjutan untuk menggali informasi penting
Terkadang, narasumber memberikan jawaban yang terlalu umum. Di sinilah peran pertanyaan lanjutan penting. Anda bisa mengajukan pertanyaan spesifik untuk memperdalam informasi sehingga insight yang diperoleh semakin kaya.
Jaga alur percakapan agar tidak melebar
Salah satu tantangan terbesar pewawancara adalah menjaga percakapan tetap terarah. Ketika narasumber mulai membahas hal yang kurang relevan, arahkan kembali dengan pertanyaan yang lebih fokus. Lakukan dengan halus agar tidak memutus suasana nyaman.
5. Menggunakan Strategi Nonverbal dan Membaca Situasi
Interaksi dalam wawancara bukan hanya soal kata-kata. Bahasa tubuh juga memainkan peran besar.
Beberapa strategi yang bisa diterapkan:
-
Dengarkan lebih banyak, berbicara secukupnya
-
Perhatikan gesture, intonasi, dan ekspresi narasumber
-
Hindari menatap layar atau catatan terlalu lama
-
Catat poin penting secara terorganisasi
Strategi ini membantu Anda menilai apakah narasumber merasa nyaman, bingung, atau perlu waktu sebelum menjawab.
6. Melakukan Koordinasi Jika Wawancara Dilakukan Oleh Lebih dari Satu Pewawancara
Dalam beberapa situasi, wawancara dilakukan oleh tim. Koordinasi menjadi hal wajib agar pertanyaan tidak tumpang tindih.
Setiap pewawancara bisa memiliki peran tertentu. Misalnya, satu fokus pada pertanyaan teknis, sementara yang lain menangani pertanyaan terkait pengalaman pribadi. Dengan begitu, proses wawancara menjadi lebih tertata.
7. Menutup Wawancara dengan Profesional
Setelah semua pertanyaan selesai, jangan buru-buru pergi.
Akhiri dengan ucapan terima kasih dan apresiasi atas waktu yang diberikan narasumber. Jika relevan, Anda bisa menanyakan apakah narasumber ingin menerima hasil wawancara atau ada langkah lanjutan yang perlu dilakukan.
Penutupan yang positif meninggalkan kesan profesional dan membuka kemungkinan kolaborasi di masa depan.
8. Menyusun Hasil Wawancara Setelah Sesi Berakhir
Segera setelah wawancara selesai, tuliskan kembali catatan atau transkrip berdasarkan rekaman. Menyusun ringkasan sesegera mungkin akan menghindarkan Anda dari lupa terhadap detail penting.
Catatan yang rapi sangat membantu terutama jika wawancara digunakan sebagai bahan laporan atau artikel jurnalistik.
Kesimpulan: Kunci Wawancara yang Baik Ada pada Persiapan dan Sikap Profesional
Cara melakukan wawancara yang baik sebenarnya tidak rumit, tetapi membutuhkan persiapan menyeluruh, kemampuan mendengarkan, serta sikap profesional sejak awal hingga akhir. Mulai dari menentukan topik, memilih narasumber, menyiapkan pertanyaan, hingga menyusun hasil wawancara, semuanya berperan penting dalam menghasilkan data yang akurat.
Jika Anda ingin wawancara berjalan lancar dan memberikan insight berharga, ikuti langkah-langkah di atas secara konsisten.
Kalau kamu ingin mendapatkan panduan lainnya seputar penulisan, riset, atau wawancara, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Panduan Lengkap Menjawab Pertanyaan Wawancara Kerja untuk Fresh GraduateFAQ
1. Apa tujuan utama dari wawancara?
Wawancara bertujuan untuk memperoleh informasi langsung dari narasumber yang memiliki pengetahuan atau pengalaman terkait suatu topik. Informasi ini biasanya digunakan untuk riset, pembuatan artikel, laporan, tugas akademik, hingga keperluan profesional lainnya.
2. Apa yang harus dipersiapkan sebelum melakukan wawancara?
Sebelum wawancara, persiapkan topik, rumusan masalah, daftar pertanyaan, serta pelajari profil narasumber. Selain itu, pastikan perlengkapan seperti alat tulis atau perekam sudah siap, dan tentukan waktu serta tempat wawancara dengan jelas.
3. Bagaimana cara memilih narasumber yang tepat?
Narasumber yang ideal adalah orang yang memiliki keahlian, pengalaman, atau keterlibatan langsung dengan topik yang akan dibahas. Semakin kompeten narasumber, semakin berkualitas informasi yang kamu dapatkan.
4. Apakah saya harus membuat janji terlebih dahulu sebelum wawancara?
Ya. Menghubungi narasumber untuk membuat janji merupakan bagian penting dari etika wawancara. Tentukan waktu dan lokasi dengan jelas, dan sampaikan tujuan wawancara secara sopan.
5. Bagaimana menyusun pertanyaan wawancara yang efektif?
Susun pertanyaan berdasarkan metode 5W + 1H (what, who, when, where, why, how). Mulailah dengan pertanyaan ringan agar suasana cair, lalu lanjutkan ke pertanyaan yang lebih mendalam sesuai topik.
6. Apa yang harus dilakukan saat wawancara berlangsung?
Dengarkan jawaban narasumber secara aktif, jaga kontak mata, bersikap sopan, dan jangan memotong pembicaraan kecuali untuk klarifikasi. Jika muncul poin menarik, gali lebih dalam dengan pertanyaan lanjutan.
7. Apakah perlu mencatat meskipun sudah merekam wawancara?
Tetap perlu. Catatan membantu menangkap poin penting, gesture, atau konteks yang mungkin tidak terekam. Catatan juga memudahkan penyusunan hasil wawancara setelah sesi selesai.
8. Bagaimana menjaga alur percakapan agar tetap terarah?
Pastikan pertanyaanmu mengikuti urutan yang logis dan relevan. Gunakan transisi halus antar-topik dan hindari terlalu banyak menyela. Jika pembicaraan melebar, kembalikan ke topik inti dengan pertanyaan terfokus.
9. Apa yang harus dilakukan setelah wawancara selesai?
Segera susun hasil catatan dan rekaman menjadi ringkasan atau narasi yang rapi. Jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada narasumber dan sampaikan tindak lanjut jika ada kebutuhan lanjutan.
10. Apa kesalahan umum yang sering terjadi saat wawancara?
Beberapa kesalahan yang kerap terjadi antara lain: datang terlambat, tidak mempersiapkan pertanyaan, gagal menjaga alur pembicaraan, terlalu banyak berbicara, atau mengabaikan etika saat merekam. Kesalahan ini dapat mengganggu kenyamanan narasumber dan membuat data tidak optimal.
11. Bagaimana membuat narasumber merasa nyaman?
Mulai dengan sapaan hangat, senyuman, dan kontak mata. Tunjukkan apresiasi atas waktu mereka dan hindari gaya bertanya yang mengintimidasi. Suasana nyaman membuat narasumber lebih terbuka memberikan informasi.
12. Apakah boleh me-rekam wawancara tanpa izin?
Tidak. Rekaman harus dilakukan dengan seizin narasumber. Selain menghargai privasi mereka, hal ini juga merupakan etika dasar dalam proses wawancara profesional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








