Akurat

Bikin Portofolio Visualmu Stand Out! Tips untuk Mahasiswa Jurusan Desain

Eko Krisyanto | 29 Oktober 2025, 12:32 WIB
Bikin Portofolio Visualmu Stand Out! Tips untuk Mahasiswa Jurusan Desain

AKURAT.CO Portofolio berperan sebagai cerminan dari kemampuan berpikir visual, pemahaman konsep serta kepribadian seorang desainer.

Bagi mahasiswa jurusan desain, memiliki portofolio visual yang baik merupakan langkah awal menuju dunia profesional, baik untuk keperluan magang, lomba, pameran maupun pekerjaan tetap.

Portofolio berfungsi sebagai bukti nyata dari proses belajar dan kreativitas yang telah dikembangkan.

Melalui portofolio, seseorang dapat menampilkan tidak hanya hasil akhirnya tetapi juga kemampuan teknis dan cara berpikir yang mendasari setiap karya.

Karena itu, pembuatan portofolio visual perlu direncanakan secara matang agar mampu memberikan kesan profesional dan menarik perhatian pembaca.

Mengapa Portofolio Visual Penting

Portofolio visual menjadi media utama untuk menilai kompetensi mahasiswa desain.

Di dalamnya, tersimpan bukti kemampuan dalam menerapkan teori, memahami kebutuhan audiens hingga menyelesaikan permasalahan desain secara kreatif.

Bagi mahasiswa tingkat akhir, portofolio juga menjadi dokumen penting dalam menghadapi dunia kerja.

Saat melamar magang atau posisi desain, portofolio berfungsi menunjukkan keahlian dan ciri khas yang dimiliki.

Sementara bagi mahasiswa semester awal, portofolio dapat menjadi alat refleksi untuk menilai perkembangan kemampuan selama masa studi.

Portofolio yang baik bukan hanya menampilkan karya dengan tampilan menarik, tetapi juga menonjolkan struktur berpikir yang logis dan konsisten.

Dengan begitu, pembaca dapat memahami proses di balik karya tersebut, mulai dari riset, perancangan hingga hasil akhir.

Langkah-langkah Membuat Portofolio Visual

1. Tentukan Tujuan Pembuatan Portofolio

Sebelum mulai menyusun, tentukan terlebih dahulu tujuan dari pembuatan portofolio.

Portofolio untuk keperluan magang tentu memiliki format berbeda dengan portofolio untuk pameran atau lomba desain.

Menentukan tujuan akan membantu dalam memilih karya yang relevan dan menentukan gaya penyajian yang tepat.

2. Pilih Karya Terbaik dan Relevan

Tidak semua karya perlu dimasukkan dalam portofolio. Pilihlah 6-10 karya terbaik yang benar-benar menggambarkan kemampuan dan karakter visualmu.

Pastikan karya tersebut relevan dengan bidang desain yang kamu tekuni, seperti desain grafis, ilustrasi, UI/UX, desain interior atau fotografi.

Hindari menampilkan karya yang masih setengah jadi atau tidak sejalan dengan tujuan portofolio. Fokus pada kualitas, bukan kuantitas.

3. Susun Alur dan Urutan yang Logis

Setelah menentukan karya, susun urutannya dengan alur yang mudah dipahami. Biasanya, portofolio diawali dengan karya yang paling kuat secara visual, diikuti proyek dengan tingkat kompleksitas atau variasi yang berbeda.

Untuk setiap karya, berikan keterangan singkat mengenai konsep, proses pengerjaan serta hasil akhir.

Alur penyajian yang sistematis akan membantu pembaca memahami perjalanan kreatif secara menyeluruh.

4. Gunakan Desain Layout yang Bersih dan Konsisten

Portofolio visual harus mencerminkan kemampuan dalam tata letak dan estetika. Gunakan desain yang rapi, proporsi yang seimbang, serta tipografi yang mudah dibaca.

Hindari penggunaan efek visual yang berlebihan agar karya utama tetap menjadi pusat perhatian. Konsistensi juga menjadi aspek penting.

Gunakan gaya visual yang sama pada setiap halaman mulai dari warna latar, ukuran huruf hingga penempatan judul. Hal ini akan memperlihatkan profesionalitas dan kepekaan desain yang matang.

5. Tambahkan Identitas Diri dan Informasi Kontak

Di bagian awal atau akhir portofolio, cantumkan profil singkat yang berisi nama lengkap, jurusan, minat desain serta kontak yang dapat dihubungi.

Jika portofolio dibuat dalam bentuk digital, sertakan pula tautan menuju media sosial profesional seperti LinkedIn atau akun portofolio daring di Behance, Dribbble atau Instagram khusus karya.

6. Tampilkan Proses dan Konsep di Balik Karya

Salah satu hal yang membedakan portofolio profesional dengan sekadar kumpulan gambar adalah penjelasan konsep dan proses di baliknya.

Jelaskan bagaimana ide muncul, apa permasalahan yang ingin dipecahkan, dan bagaimana hasil akhir menjawab kebutuhan tersebut.

Penjelasan proses juga membantu menunjukkan kemampuan analitis dan pemecahan masala, dua hal penting dalam dunia desain profesional.

7. Gunakan Platform Digital yang Tepat

Di era digital, portofolio tidak harus berbentuk cetak. Banyak mahasiswa kini menggunakan platform daring seperti Behance, Dribbble atau situs web pribadi untuk menampilkan karya.

Platform ini tidak hanya mudah diakses tetapi juga memungkinkan karya dilihat oleh audiens global dan calon pemberi kerja potensial.

Tantangan yang Sering Dihadapi Mahasiswa Desain

Pembuatan portofolio visual kerap menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa desain.

Beberapa kendala umum yang sering muncul antara lain:

1. Kebingungan Menentukan Karya yang Layak Ditampilkan

Banyak mahasiswa merasa semua karya harus dimasukkan, padahal tidak semuanya merepresentasikan kemampuan terbaik. Kesulitan ini sering disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap tujuan portofolio.

Solusinya adalah memilih karya yang paling kuat secara konsep dan visual, serta menunjukkan variasi kemampuan.

2. Kesulitan Menyusun Tata Letak yang Profesional

Meskipun belajar desain, tidak semua mahasiswa terbiasa merancang portofolio dengan standar industri. Banyak yang terjebak dalam desain berlebihan dan mengabaikan aspek keterbacaan.

Untuk mengatasinya, penting untuk mempelajari prinsip dasar tata letak dan melihat contoh portofolio profesional sebagai referensi.

3. Keterbatasan Perangkat dan Software

Tidak semua mahasiswa memiliki perangkat desain canggih atau lisensi software profesional. Namun, keterbatasan ini dapat diatasi dengan memanfaatkan alternatif gratis seperti Canva, Figma atau Photopea.

Prinsip utama portofolio adalah kreativitas dalam menyampaikan ide, bukan kemewahan alat yang digunakan.

4. Kurangnya Dokumentasi Karya secara Konsisten

Banyak mahasiswa lupa mendokumentasikan proses pengerjaan karya, padahal hal tersebut sangat penting untuk portofolio.

Dokumentasi yang rapi dapat menunjukkan proses berpikir kreatif serta evolusi desain dari awal hingga akhir.

5. Kurangnya Pemutakhiran Portofolio

Portofolio bukan dokumen yang selesai sekali buat. Mahasiswa sering kali menunda memperbarui portofolio setelah menyelesaikan proyek baru.

Padahal, memperbarui isi portofolio secara berkala membantu menunjukkan perkembangan kemampuan dan profesionalitas yang terus meningkat.

Agar Portofolio Lebih Efektif dan Menarik

• Gunakan visual yang jelas dan berkualitas tinggi agar detail karya terlihat sempurna.
• Tambahkan deskripsi singkat untuk setiap proyek tanpa berlebihan.
• Hindari memasukkan karya yang tidak sesuai dengan bidang yang dituju.
• Perhatikan ejaan dan tata bahasa pada setiap teks penjelas.
• Buat versi digital dan cetak agar mudah disesuaikan dengan kebutuhan.

Portofolio visual menggambarkan cara berpikir, selera estetika dan kemampuan teknis yang dimiliki. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian, pemilihan karya yang selektif, serta kemampuan menyusun narasi visual yang menarik.

Dalam menyusun portofolio, mahasiswa tidak perlu menunggu karya yang sempurna.

Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai, mengevaluasi, dan terus memperbaiki seiring bertambahnya pengalaman.

Dengan perencanaan yang matang dan pembaruan rutin, portofolio visual dapat menjadi jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan dunia profesional serta membuka peluang karier yang lebih luas di bidang desain.

Laporan: Mutiara MY/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK