Akurat

Hidup di Jepang vs Korea Selatan, Mana yang Lebih Mengguras Dompet?

Eko Krisyanto | 29 Oktober 2025, 12:07 WIB
Hidup di Jepang vs Korea Selatan, Mana yang Lebih Mengguras Dompet?

AKURAT.CO Menuntut ilmu atau bekerja di luar negeri memang jadi impian banyak anak muda Indonesia. Dari sekian banyak negara, dua yang paling sering dilirik adalah Jepang dan Korea Selatan.

Baik Jepang dan Korea Selatan, keduanya sama-sama maju, punya budaya kuat, dan jadi pusat tren dunia.

Tapi di balik gemerlapnya, ada satu hal yang perlu diperhitungkan matang: biaya hidup yang tidak murah.

Merantau ke Jepang

Hidup di Jepang berarti hidup dengan standar tinggi. Di kota besar seperti Tokyo, Osaka, atau Yokohama, biaya hidup bisa terasa berat apalagi bagi mahasiswa yang baru pertama kali merantau.

Tempat Tinggal

Sewa apartemen kecil di Tokyo bisa mencapai 70.000-120.000 Yen per bulan (sekitar Rp7-13 juta). Di kota pelajar seperti Kyoto atau Fukuoka, biaya bisa turun menjadi 40.000-70.000 Yen (Rp4-7 juta).

Mahasiswa biasanya memilih tinggal di asrama kampus atau share house untuk menekan pengeluaran.

Biaya Makan

Harga makanan di Jepang cukup tinggi. Sekali makan di restoran sederhana sekitar 600-900 Yen (Rp65-100 ribu). Kalau rajin masak sendiri, biaya makan bisa ditekan menjadi 25.000-35.000 Yen per bulan (Rp2,7-3,8 juta).

Menariknya, banyak supermarket di Jepang memberikan diskon besar untuk makanan siap saji menjelang malam.

Akomodasi Transportasi

Kereta di Jepang terkenal sangat efisien tapi biayanya lumayan. Sekali naik sekitar 200-400 Yen dan langganan bulanan mencapai 10.000-12.000 Yen (Rp1-1,3 juta).

Mahasiswa biasanya mendapat potongan harga khusus. Total biaya hidup sebulan: sekitar 120.000-180.000 Yen (Rp13-20 juta).

Merantau ke Korea Selatan

Korea Selatan kini jadi salah satu tujuan studi paling populer di Asia.

Selain karena teknologi dan sistem pendidikannya yang maju, budaya popnya juga membuat banyak pelajar tertarik.

Biaya hidup di Korea sedikit lebih rendah dibanding Jepang, tapi tetap perlu perencanaan keuangan yang cermat.

Tempat tinggal

Asrama kampus di Korsel mematok harga 200.000-500.000 Won (Rp2,4-6 juta) per bulan.

Alternatif lain, goshiwon kamar kecil lengkap dengan fasilitas dasar berkisar 400.000-700.000 Won (Rp4,8-8,4 juta). Sementara apartemen di pusat kota bisa mencapai 1.000.000 Won (Rp12 juta) atau lebih.

Biaya Makan

Makan di restoran mahasiswa rata-rata 6.000-8.000 Won (Rp70-95 ribu) per porsi. Kalau masak sendiri, pengeluaran bisa lebih hemat, sekitar 250.000-350.000 Won (Rp3-4 juta) per bulan.

Kantin kampus juga jadi pilihan populer karena porsinya besar dan harganya bersahabat.

Transportasi

Sistem subway dan bus di Korea terkenal praktis dan murah. Sekali naik hanya 1.400-1.600 Won dan total biaya sebulan sekitar 70.000-90.000 Won (Rp850 ribu sampai Rp1 juta). Total biaya hidup sebulan: sekitar 900.000-1.500.000 Won (Rp11-18 juta).

Mana yang Lebih Ramah di Kantong?

Secara umum, biaya hidup di Jepang sedikit lebih tinggi dibanding Korea Selatan.

Tapi Jepang juga menawarkan upah kerja paruh waktu yang lebih besar sekitar 1.000 Yen per jam, sedangkan di Korsel rata-rata 10.000 Won per jam.

Jepang unggul dalam hal keteraturan dan keamanan, sementara Korea Selatan lebih unggul dalam kemudahan beradaptasi dan kehidupan sosial yang aktif.

Tantangan yang Dihadapi Mahasiswa di Luar Negeri

Tinggal di negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan bukan hanya soal biaya, tapi juga kemampuan beradaptasi dengan budaya dan ritme hidup yang berbeda.

1. Bahasa dan komunikasi

Meski sebagian besar universitas menawarkan program internasional, kemampuan berbahasa lokal tetap penting.

Di Jepang, bahasa Jepang menjadi kunci dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula bahasa Korea di Seoul dan sekitarnya.

2. Gaya hidup dan tekanan sosial

Budaya kerja keras di kedua negara sering membuat mahasiswa merasa tertekan. Jam kuliah yang padat, ditambah pekerjaan paruh waktu, bisa menimbulkan stres jika tidak diatur dengan baik.

3. Iklim dan cuaca ekstrem

Empat musim di Jepang dan Korea sering menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa asal negara tropis.

Musim dingin yang panjang dan bersalju menuntut adaptasi, baik fisik maupun finansial karena kebutuhan seperti pakaian hangat dan pemanas ruangan menambah biaya.

4. Rasa rindu kampung halaman

Jauh dari keluarga dan budaya sendiri sering kali memunculkan homesick. Karena itu, membangun komunitas dengan sesama mahasiswa internasional menjadi hal penting untuk menjaga semangat.

Laporan: Mutiara MY/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK