Akurat

Deforestasi: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Fakta Terbaru yang Perlu Kamu Tahu

Naufal Lanten | 27 Oktober 2025, 14:14 WIB
Deforestasi: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Fakta Terbaru yang Perlu Kamu Tahu

AKURAT.CO Deforestasi bukan sekadar menebang pohon. Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), deforestasi adalah konversi permanen lahan berhutan menjadi penggunaan lain — seperti pertanian, permukiman, atau tambang. Jadi, kalau suatu area kehilangan pohon tapi kemudian tumbuh kembali, itu tidak selalu disebut deforestasi.

FAO menegaskan, “Deforestation refers to the conversion of forest to other land use, independently of whether it is human-induced or not.”

Namun, data dari berbagai lembaga seperti University of Maryland (UMD) dan Global Forest Watch (GFW) sering menampilkan angka “tree cover loss” (kehilangan tutupan pohon), yang tidak selalu identik dengan deforestasi. Misalnya, hilangnya tutupan pohon akibat kebakaran sementara akan masuk hitungan “loss”, walaupun hutan bisa pulih kembali beberapa tahun kemudian.

Perbedaan definisi inilah yang sering menimbulkan kebingungan publik tentang seberapa besar sebenarnya hutan dunia yang hilang setiap tahun.


Seberapa Besar Skala Deforestasi Dunia?

Data Global Forest Watch mencatat sejak 2001 hingga 2024, dunia telah kehilangan sekitar 517 juta hektar tutupan pohon, setara dengan 13% area berhutan pada tahun 2000. Kehilangan ini menghasilkan sekitar 220 gigaton emisi CO₂ — angka yang sangat besar dalam konteks perubahan iklim global.

Sementara laporan FAO Global Forest Resources Assessment 2020 memperkirakan, laju deforestasi bersih global antara 2015–2020 mencapai sekitar 10 juta hektar per tahun. Artinya, setelah dikurangi upaya reforestasi dan penanaman kembali, hutan dunia tetap menyusut dalam jumlah signifikan setiap tahun.

Satelit UMD dan analisis WRI menunjukkan fluktuasi: kehilangan tutupan pohon global naik dari 22,8 juta hektar pada 2022 menjadi 28,3 juta hektar pada 2023. Namun angka ini bervariasi antarwilayah — di Brasil misalnya, terjadi penurunan, sementara di kawasan Afrika dan Asia Tenggara justru meningkat.


Dari Revolusi Agraris ke Era Industri: Akar Sejarah Deforestasi

Fenomena deforestasi bukan hal baru. Sejak revolusi agraris ribuan tahun lalu, manusia sudah menebang hutan untuk lahan pertanian. Namun, abad ke-20 hingga kini menjadi periode paling destruktif, ketika pembukaan hutan besar-besaran terjadi untuk kebutuhan industri, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi komoditas global seperti sawit, kedelai, daging sapi, serta kertas dan pulp.

FAO mencatat, luas hutan primer terus menurun, sementara hutan tanaman (plantation forest) meningkat. Ini menunjukkan bahwa banyak hutan alami yang digantikan oleh tanaman homogen yang secara ekologis tidak bisa menggantikan fungsi hutan asli.


Penyebab Utama Deforestasi: Dari Sawit hingga Pertambangan

Secara umum, penyebab deforestasi dibagi menjadi dua kategori besar: pendorong langsung dan pendorong struktural.

1. Pendorong Langsung

  • Ekspansi pertanian: Baik perkebunan besar (sawit, kedelai) maupun pertanian kecil dan peternakan sapi. Inilah faktor utama di wilayah tropis seperti Amazon, Kalimantan, dan Kongo.

  • Penebangan (legal dan ilegal): Kebutuhan kayu, pulp, dan bahan bakar kayu menjadi alasan utama banyaknya hutan ditebang.

  • Kebakaran hutan: Banyak kebakaran dilakukan untuk membuka lahan, terutama di musim kering dan saat fenomena El Niño.

  • Pertambangan: Aktivitas ekstraksi mineral, batubara, dan emas sering mengubah bentang alam secara drastis.

  • Konflik dan migrasi: Di beberapa negara seperti Republik Demokratik Kongo (DRC), konflik bersenjata membuat banyak warga membuka lahan untuk bertahan hidup.

2. Pendorong Struktural

  • Permintaan global atas komoditas.

  • Lemahnya penegakan hukum dan tata kelola lahan.

  • Keterbatasan alternatif ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.


Dampak Deforestasi: Dari Krisis Iklim hingga Kehidupan Masyarakat

Deforestasi bukan cuma persoalan lingkungan — ini masalah multidimensi yang berdampak pada iklim, keanekaragaman hayati, air, tanah, hingga kehidupan sosial-ekonomi jutaan orang.

Dampak Iklim

Hutan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika hutan ditebang, karbon itu dilepaskan ke atmosfer sebagai CO₂, memperburuk efek rumah kaca. Global Forest Watch memperkirakan, kehilangan tutupan pohon sejak 2001 menghasilkan lebih dari 200 gigaton CO₂, menjadikan deforestasi salah satu penyumbang utama krisis iklim.

Dampak Keanekaragaman Hayati

Hutan tropis menampung lebih dari setengah spesies makhluk hidup di bumi. Saat hutan hilang, habitat mereka ikut lenyap — menyebabkan penurunan populasi spesies, bahkan kepunahan lokal.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Deforestasi sering menimbulkan konflik agraria, penggusuran masyarakat adat, dan ketimpangan ekonomi. Di sisi lain, beberapa komunitas mendapatkan keuntungan jangka pendek dari konversi lahan, namun kehilangan jaminan keberlanjutan jangka panjang.


Tren Deforestasi Terbaru di Dunia (2023–2025)

Situasi deforestasi terus berubah mengikuti dinamika politik dan ekonomi global.

  • Brasil dan Kolombia berhasil menurunkan laju deforestasi pada 2023 berkat kebijakan proteksi hutan dan penegakan hukum yang lebih ketat.

  • Kongo (DRC) justru menghadapi peningkatan kehilangan hutan akibat konflik dan pembukaan lahan untuk energi biomassa.

  • Tahun 2024 mencatat kebakaran besar di Kanada, Bolivia, dan Amerika Selatan yang ikut mendongkrak angka kehilangan hutan global.

Laporan lembaga konservasi pada 2024–2025 menyebutkan bahwa beberapa wilayah Amerika Latin dan Afrika Tengah mencatat rekor kehilangan hutan baru akibat gabungan faktor iklim ekstrem dan ekspansi pertanian.


Kontroversi dan Perdebatan Kebijakan

Salah satu perdebatan terbesar dalam studi kehutanan modern adalah perbedaan antara istilah “tree cover loss” dan “deforestation”. Banyak laporan media mengutip angka kehilangan tutupan pohon tanpa menjelaskan konteks permanensi lahan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman publik.

Selain itu, ada juga perdebatan antara pembangunan ekonomi vs konservasi lingkungan. Sebagian pihak menilai pembukaan hutan perlu untuk menciptakan lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan pangan. Namun, ilmuwan menegaskan bahwa kehilangan hutan membawa biaya sosial dan lingkungan jangka panjang yang jauh lebih besar.

Perusahaan global pun kini dituntut lebih bertanggung jawab lewat kebijakan “no-deforestation commitments” dalam rantai pasok komoditas seperti sawit dan kedelai. Tapi pelaksanaannya masih penuh tantangan karena lemahnya sistem verifikasi dan potensi perpindahan tekanan deforestasi ke wilayah lain (leakage effect).

Isu lain yang semakin mengemuka adalah hak masyarakat adat. Banyak penelitian menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola oleh komunitas adat memiliki tingkat deforestasi lebih rendah, namun pengakuan hukum terhadap hak tanah mereka masih terbatas di banyak negara.


Solusi dan Upaya Mengurangi Deforestasi

Berbagai inisiatif berbasis ilmu pengetahuan dan kebijakan terus dilakukan untuk menekan laju deforestasi. Beberapa di antaranya:

  • Perlindungan kawasan konservasi dan penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan.

  • Penguatan hak masyarakat adat, yang terbukti efektif menjaga hutan tetap lestari.

  • Pendekatan lanskap terpadu, yaitu mengatur tata guna lahan secara seimbang antara kebutuhan produksi, konservasi, dan pembangunan.

  • Kebijakan rantai pasok berkelanjutan yang memastikan produk yang dijual ke pasar internasional bebas dari jejak deforestasi.

  • Restorasi dan reforestasi hutan untuk memulihkan fungsi ekologis. Namun, perlu dicatat bahwa tanaman monokultur tidak bisa menggantikan hutan primer dari segi keanekaragaman hayati maupun kapasitas penyerapan karbon.


Masa Depan Hutan Dunia

IPCC menegaskan bahwa menghentikan deforestasi adalah kunci mencapai target iklim global (net-zero emission). Tanpa perlindungan hutan, mustahil menahan kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C.

Namun, tantangan besar masih ada: kebakaran ekstrem, perubahan iklim yang memperpanjang musim kering, dan tekanan komoditas global bisa mempercepat kehilangan hutan di banyak wilayah.

Laporan The Guardian (2024–2025) bahkan menyebutkan munculnya titik panas baru di Amerika Latin dan Afrika Tengah yang berisiko kehilangan hutan dalam skala besar jika tidak segera ada intervensi.


Kesimpulan

Deforestasi adalah proses hilangnya hutan secara permanen akibat konversi lahan. Berdasarkan data FAO dan Global Forest Watch, dunia kehilangan puluhan juta hektar hutan setiap tahun, sebagian besar untuk ekspansi pertanian dan aktivitas industri.

Dampaknya mencakup perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, krisis air, dan konflik sosial.
Meski berbagai negara sudah memperkuat kebijakan perlindungan, tantangan global tetap besar — terutama dalam menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan konservasi lingkungan.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan isu lingkungan dan perubahan iklim, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO agar tidak ketinggalan informasi terbaru seputar masa depan hutan dunia.

Baca Juga: Polda Riau Tangkap Gordon, Pemilik Lahan Ilegal di Kawasan Hutan Konservasi Bengkalis

Baca Juga: Putusan MK Soal Masyarakat Adat Boleh Berkebun di Hutan Sesuai dengan Undang-undang

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan deforestasi?

Deforestasi adalah hilangnya hutan secara permanen karena perubahan fungsi lahan menjadi non-hutan, seperti untuk pertanian, permukiman, atau tambang. Definisi ini mengacu pada FAO (Food and Agriculture Organization). Jika pohon hilang sementara karena kebakaran lalu tumbuh kembali, itu tidak termasuk deforestasi permanen.


2. Apa perbedaan deforestasi dan kehilangan tutupan pohon (tree cover loss)?

Keduanya sering disamakan, padahal berbeda.

  • Deforestasi berarti perubahan fungsi hutan secara permanen.

  • Tree cover loss mencakup semua kehilangan pohon, baik sementara maupun permanen.
    Contohnya, area hutan yang terbakar dan tumbuh kembali tetap dihitung sebagai tree cover loss, tetapi bukan deforestasi menurut FAO.


3. Berapa luas hutan yang hilang di dunia setiap tahun?

Menurut FAO, rata-rata deforestasi global mencapai sekitar 10 juta hektar per tahun (periode 2015–2020).
Sementara data satelit dari Global Forest Watch menunjukkan kehilangan tutupan pohon mencapai lebih dari 500 juta hektar sejak 2001, meski tidak semuanya merupakan deforestasi permanen.


4. Apa penyebab utama deforestasi?

Beberapa penyebab utama deforestasi antara lain:

  • Ekspansi pertanian dan perkebunan (sawit, kedelai, dan peternakan sapi).

  • Penebangan hutan untuk kayu dan pulp.

  • Kebakaran hutan, terutama saat musim kering dan fenomena El Niño.

  • Pertambangan dan pembangunan infrastruktur.

  • Permintaan global terhadap komoditas hutan serta lemahnya penegakan hukum.


5. Bagaimana dampak deforestasi terhadap lingkungan?

Dampaknya sangat luas, antara lain:

  • Peningkatan emisi CO₂ yang mempercepat perubahan iklim.

  • Kehilangan keanekaragaman hayati akibat hilangnya habitat alami.

  • Kerusakan siklus air dan tanah, yang memengaruhi pertanian dan ketersediaan air.

  • Konflik sosial dan hilangnya sumber penghidupan masyarakat adat.


6. Negara mana yang paling terdampak deforestasi?

Negara dengan tingkat deforestasi tinggi biasanya berada di wilayah tropis, seperti Brasil, Indonesia, Republik Demokratik Kongo (DRC), dan Bolivia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir Brasil dan Kolombia menunjukkan penurunan signifikan berkat kebijakan proteksi hutan yang lebih ketat.


7. Apakah reforestasi bisa menggantikan hutan yang hilang?

Reforestasi membantu memulihkan sebagian fungsi ekosistem, tetapi tidak bisa sepenuhnya menggantikan hutan primer. Hutan alami memiliki keanekaragaman hayati dan sistem ekologis yang jauh lebih kompleks dibanding hutan tanaman monokultur.


8. Apa hubungan deforestasi dengan perubahan iklim?

Hutan berfungsi menyerap karbon dari atmosfer. Ketika hutan ditebang, karbon di pohon dan tanah dilepaskan sebagai CO₂, yang memperburuk efek rumah kaca. Karena itu, deforestasi merupakan salah satu penyumbang utama krisis iklim global.


9. Apa solusi yang bisa dilakukan untuk mengurangi deforestasi?

Beberapa langkah penting yang direkomendasikan oleh FAO, IPCC, dan WWF meliputi:

  • Perlindungan kawasan hutan dan penegakan hukum.

  • Pengakuan hak tanah masyarakat adat.

  • Penerapan rantai pasok berkelanjutan (tanpa jejak deforestasi).

  • Reforestasi dan restorasi hutan.

  • Edukasi publik dan kebijakan konsumsi berkelanjutan.


10. Mengapa isu deforestasi penting untuk masa depan?

Karena hutan adalah penyangga kehidupan bumi: penyimpan karbon, pengatur air, dan rumah bagi jutaan spesies. Tanpa hutan, bumi akan kehilangan kestabilan iklim, sumber pangan, dan keanekaragaman hayati. Itulah sebabnya, menghentikan deforestasi menjadi kunci menuju masa depan yang berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.