Tokoh-Tokoh Pendidikan Internasional yang Mempengaruhi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

AKURAT.CO Sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara dikenal bukan hanya sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan, tetapi juga sebagai pelopor sistem pendidikan yang menekankan kebebasan, karakter, dan kemanusiaan. Pemikirannya tentang pendidikan yang memerdekakan manusia dari penindasan lahir dan batin tidak lahir begitu saja. Ia banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh pendidikan internasional yang memperjuangkan konsep serupa di berbagai belahan dunia.
Tiga tokoh besar yang berperan besar dalam membentuk pandangan pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah Friedrich Froebel, Maria Montessori, dan Rabindranath Tagore. Ketiganya memiliki pandangan progresif tentang bagaimana pendidikan seharusnya memanusiakan manusia, bukan sekadar mengajarkan pengetahuan.
Friedrich Froebel: Pencetus Konsep Taman Kanak-Kanak
Friedrich Wilhelm August Froebel, pendidik asal Jerman yang hidup pada abad ke-19, dikenal sebagai pencetus konsep “kindergarten” atau taman kanak-kanak pertama di dunia pada tahun 1840. Froebel percaya bahwa masa kanak-kanak adalah fase penting dalam pembentukan karakter dan kreativitas manusia.
Baginya, bermain bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan bagian dari proses belajar yang mendalam. Ia bahkan pernah berkata, “Play is the highest expression of human development in childhood.” Dari gagasan inilah lahir metode pembelajaran berbasis permainan yang menjadi dasar pendidikan anak usia dini modern di seluruh dunia.
Pengaruh Froebel terlihat jelas dalam sistem pendidikan Ki Hadjar Dewantara, terutama pada lembaga Taman Siswa, yang juga menekankan pembelajaran yang menyenangkan, bebas, dan sesuai dengan kodrat alam anak.
Maria Montessori: Pendidikan yang Berpusat pada Anak
Maria Montessori, seorang dokter sekaligus pendidik asal Italia, turut memberikan pengaruh besar pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Ia mengembangkan metode Montessori, yaitu pendekatan pembelajaran yang berfokus pada kemandirian dan kebebasan anak dalam mengeksplorasi dunia sekitarnya.
Montessori percaya bahwa setiap anak memiliki potensi kreatif dan kemampuan belajar alami yang luar biasa. Peran guru, dalam pandangannya, adalah menjadi pembimbing dan penuntun, bukan pengendali. Anak diberi ruang untuk belajar secara mandiri, memilih aktivitasnya sendiri, dan mengembangkan kemampuan sosial melalui interaksi dengan lingkungan belajar yang terstruktur.
Pendekatan ini sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran. Dalam sistem Taman Siswa, guru bukan penguasa kelas, melainkan pamong yang “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” — menjadi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan di belakang.
Rabindranath Tagore: Kebebasan dan Alam sebagai Guru
Rabindranath Tagore, penyair dan filsuf asal Bengal, India, juga menjadi sumber inspirasi penting bagi Ki Hadjar Dewantara. Tagore dikenal sebagai peraih Nobel Sastra pertama dari luar Eropa, dan sosok yang menentang sistem pendidikan kolonial yang kaku dan menindas.
Filosofi pendidikan Tagore menekankan “metode alam”, yaitu belajar melalui pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar. Menurutnya, kebebasan adalah inti dari proses belajar. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan alam, menemukan makna melalui observasi, dan menumbuhkan rasa ingin tahu secara alami.
Pendekatan humanis dan penuh kebebasan ini menarik perhatian Ki Hadjar Dewantara. Setelah pulang dari Belanda, ia banyak terinspirasi oleh Tagore dalam mengembangkan Taman Siswa. Bahkan, pada tahun 1927, Tagore sempat berkunjung ke Yogyakarta dan melihat langsung bagaimana gagasan-gagasannya terimplementasi di lembaga pendidikan tersebut.
Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Merdeka Lahir dan Batin
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tidak hanya dipengaruhi oleh tokoh luar, tetapi juga diolah sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan Indonesia. Menurutnya, pendidikan adalah “upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak.”
Tujuan pendidikan versi Ki Hadjar mencakup tiga hal penting: membentuk karakter yang halus budi, meningkatkan kecerdasan pikiran, dan menjaga kesehatan jasmani. Pendidikan, baginya, bukan alat untuk mencetak manusia patuh, melainkan cara untuk menumbuhkan manusia merdeka yang beradab.
Ia menolak sistem pendidikan Barat yang terlalu menekankan disiplin dan hukuman. Sebaliknya, pendidikan harus menanamkan nilai kasih sayang, kejujuran, kedamaian, dan penghargaan terhadap kemerdekaan orang lain.
Asas dan Nilai Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Landasan pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara dikenal dengan Pancadharma, yang meliputi lima asas utama:
-
Kodrat Alam – pendidikan harus sesuai dengan kodrat dan potensi alami anak.
-
Kemerdekaan – anak didik harus dibimbing agar merdeka lahir dan batin.
-
Kebudayaan – pendidikan harus selaras dengan perkembangan budaya dan zaman.
-
Kebangsaan – pendidikan harus menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menghargai perbedaan.
-
Kemanusiaan – pendidikan harus membentuk manusia yang menghormati dan bersahabat dengan bangsa lain.
Konsep-konsep inilah yang kemudian menjadikan sistem pendidikan Ki Hadjar Dewantara relevan hingga kini. Ia tidak hanya membebaskan manusia dari kebodohan, tetapi juga dari ketergantungan dan penindasan batin.
Warisan Pemikiran untuk Dunia Pendidikan Modern
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang dipengaruhi oleh Froebel, Montessori, dan Tagore membuktikan bahwa pendidikan adalah hasil dialog lintas budaya dan peradaban. Ia menggabungkan semangat kebebasan, nilai kemanusiaan, serta kasih sayang menjadi satu sistem pendidikan yang sesuai dengan kepribadian bangsa.
Nilai-nilai seperti Tut Wuri Handayani bukan sekadar semboyan, tetapi panduan moral untuk setiap pendidik di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa mendidik bukan berarti memerintah, melainkan menuntun dan menumbuhkan potensi anak agar menjadi manusia yang utuh.
Penutup:
Ki Hadjar Dewantara telah menempatkan Indonesia dalam peta pemikiran pendidikan dunia. Dengan menggabungkan gagasan dari Friedrich Froebel, Maria Montessori, dan Rabindranath Tagore, ia melahirkan filosofi pendidikan yang humanis, membebaskan, dan sesuai dengan jati diri bangsa.
Kalau kamu tertarik memperdalam gagasan Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya bagi pendidikan masa kini, pantau terus artikel menarik lainnya seputar dunia pendidikan di AKURAT.CO.
Baca Juga: Contoh Jawaban 'Bagaimana Kesadaran Guru Ketika Berefleksi?' di Modul PMM
FAQ
1. Siapa saja tokoh pendidikan internasional yang memengaruhi pemikiran Ki Hadjar Dewantara?
Tiga tokoh pendidikan dunia yang berpengaruh besar terhadap Ki Hadjar Dewantara adalah Friedrich Froebel, Maria Montessori, dan Rabindranath Tagore. Ketiganya dikenal dengan gagasan pendidikan yang menekankan kebebasan, kreativitas, dan pembentukan karakter anak.
2. Apa kontribusi Friedrich Froebel dalam dunia pendidikan?
Friedrich Froebel adalah pendidik asal Jerman yang menciptakan konsep “kindergarten” atau taman kanak-kanak pertama pada tahun 1840. Ia percaya bahwa bermain adalah sarana belajar utama bagi anak-anak. Pemikirannya menjadi dasar bagi pendidikan anak usia dini di seluruh dunia.
3. Bagaimana pengaruh Maria Montessori terhadap pemikiran Ki Hadjar Dewantara?
Maria Montessori memperkenalkan metode pendidikan yang berfokus pada pembelajaran mandiri dan berpusat pada anak. Ki Hadjar terinspirasi oleh konsep ini dan mengadaptasikannya dalam sistem Taman Siswa, di mana guru berperan sebagai pamong yang menuntun, bukan mengatur.
4. Apa peran Rabindranath Tagore dalam perkembangan pendidikan Ki Hadjar Dewantara?
Rabindranath Tagore, penyair dan filsuf asal India, menekankan pentingnya kebebasan dan interaksi langsung dengan alam dalam pendidikan. Gagasan ini sejalan dengan pandangan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan harus memerdekakan dan menumbuhkan potensi alami peserta didik.
5. Mengapa Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional?
Ki Hadjar Dewantara diberi gelar Bapak Pendidikan Nasional karena ia merumuskan sistem pendidikan Indonesia yang menekankan nilai kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Ia juga mendirikan Taman Siswa, lembaga pendidikan yang memajukan hak belajar rakyat pribumi di masa penjajahan.
6. Apa makna semboyan “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”?
Semboyan ini menggambarkan peran ideal seorang pendidik:
-
Ing ngarsa sung tuladha – di depan memberi teladan,
-
Ing madya mangun karsa – di tengah membangun semangat,
-
Tut wuri handayani – di belakang memberi dorongan.
Konsep ini menjadi dasar filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
7. Apa yang dimaksud dengan Pancadharma dalam pendidikan Ki Hadjar Dewantara?
Pancadharma adalah lima asas pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yaitu kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kelima asas ini menjadi pondasi sistem pendidikan nasional yang menumbuhkan manusia merdeka dan beradab.
8. Apa tujuan utama pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara?
Menurut Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak agar menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin. Pendidikan tidak boleh menindas atau memaksa, melainkan menuntun anak agar berkembang sesuai kodratnya.
9. Bagaimana Ki Hadjar Dewantara memandang sistem pendidikan Barat?
Ia menilai sistem pendidikan Barat pada masa kolonial terlalu kaku dan berorientasi pada hukuman serta perintah. Ki Hadjar menawarkan alternatif melalui pendidikan yang berlandaskan kasih sayang, kebebasan berpikir, dan penghormatan terhadap kemerdekaan individu.
10. Apakah tokoh-tokoh seperti Tagore dan Montessori pernah berhubungan langsung dengan Taman Siswa?
Ya, Rabindranath Tagore pernah berkunjung ke Taman Siswa Yogyakarta pada tahun 1927 dan melihat langsung sistem pendidikan yang dirintis Ki Hadjar Dewantara. Kedua tokoh memiliki pandangan yang sama tentang pentingnya kebebasan dalam belajar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









