Akurat

Mengapa Akhirnya Bangsa Indonesia Melakukan Perlawanan Terhadap Penjajah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Idham Nur Indrajaya | 15 September 2025, 20:33 WIB
Mengapa Akhirnya Bangsa Indonesia Melakukan Perlawanan Terhadap Penjajah? Ini Penjelasan Lengkapnya

AKURAT.CO Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur dan kaya akan sumber daya alam, terutama rempah-rempah yang sejak lama bernilai tinggi di mata dunia. Kekayaan inilah yang membuat bangsa-bangsa asing berbondong-bondong datang ke Nusantara. Awalnya mereka berdagang, tetapi perlahan tujuan itu berubah menjadi upaya penguasaan dan penjajahan.

Seiring masuknya kolonialisme dan imperialisme, masyarakat Indonesia tidak tinggal diam. Mereka bangkit melawan dalam berbagai bentuk, baik melalui peperangan maupun gerakan sosial. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya mendorong bangsa Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah?


Kedatangan Bangsa Asing ke Nusantara

Bangsa Eropa mulai datang ke Nusantara pada abad ke-16 dengan tujuan utama berdagang rempah-rempah. Maluku, Jawa, Sumatra, hingga wilayah pesisir menjadi pusat perhatian karena melimpahnya hasil bumi.

Namun, perjalanan yang awalnya berlandaskan perdagangan berubah menjadi ekspansi kekuasaan. Sistem monopoli, perjanjian sepihak, hingga campur tangan dalam politik kerajaan lokal membuat bangsa Indonesia kehilangan kebebasan. Tanah subur dijadikan ladang keuntungan bagi penjajah, sementara rakyat dipaksa bekerja keras tanpa imbalan yang layak.


Faktor Pendorong Perlawanan Rakyat Indonesia

Menurut Nana Supriatna dkk dalam buku IPS Terpadu (2007:89), ada beberapa alasan utama yang mendorong masyarakat Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme:

  • Keserakahan bangsa Barat yang berupaya menguasai sumber daya alam dan manusia di Indonesia.

  • Keinginan rakyat untuk hidup damai sesuai adat dan budaya setempat, tanpa intervensi asing.

  • Upaya menegakkan kedaulatan di wilayah masing-masing kerajaan atau komunitas.

  • Sistem kolonialisme yang menindas, baik versi kuno maupun modern, yang sangat membelenggu kehidupan masyarakat.

Selain itu, praktik-praktik seperti tanam paksa, kerja rodi, dan diskriminasi sosial menjadi pemicu utama lahirnya api perlawanan di berbagai daerah.


Bentuk Perlawanan Bangsa Indonesia

Perlawanan yang dilakukan masyarakat Indonesia berbeda-beda di tiap daerah, tetapi semuanya berangkat dari tekad yang sama: mengusir penjajah. Ada yang berbentuk perang terbuka, ada pula yang diwujudkan dalam gerakan sosial berupa protes, perusakan fasilitas milik penjajah, hingga pemberontakan.

1. Kesultanan Demak Melawan Portugis

Demak menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa yang aktif melawan Portugis. Pada masa Raden Patah, Pati Unus memimpin serangan besar ke Malaka pada tahun 1512, meski akhirnya gagal. Namun keberanian itu membuatnya dijuluki Pangeran Sabrang Lor.

Tahun 1527, Sultan Trenggana mengutus Fatahillah dan Maulana Hasanuddin untuk menyerang Portugis di Sunda Kelapa. Serangan tersebut berhasil dan sejak itu Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta (sekarang Jakarta).

2. Perlawanan Kesultanan Aceh

Aceh menjadi salah satu kekuatan besar yang menentang Portugis. Pada masa Sultan Alaudin Riayat Syah (1537–1568), armada Aceh dipersenjatai meriam, tentara bayaran, hingga ahli perang dari Turki. Puncaknya terjadi di era Sultan Iskandar Muda (1607–1636), yang dua kali menyerang Portugis di Malaka.

3. Perlawanan Rakyat Ternate

Di Maluku, rakyat Ternate tidak tahan dengan monopoli perdagangan rempah oleh Portugis. Sultan Khairun sempat memimpin perlawanan, namun ia dibunuh secara licik. Perjuangan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Baabullah yang pada 28 Desember 1577 berhasil mengusir Portugis dari Ternate.

4. Sultan Agung Melawan VOC

Sebagai Raja Mataram (1613–1645), Sultan Agung bercita-cita mempersatukan Jawa sekaligus mengusir VOC. Ia melancarkan serangan besar ke Batavia, meski gagal. Namun semangat perlawanan Sultan Agung menjadi inspirasi rakyat Jawa dalam menghadapi Belanda.

5. Sultan Ageng Tirtayasa Melawan VOC

Di Banten, Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1684) menolak monopoli perdagangan VOC. Sayangnya, konflik internal dengan putranya, Sultan Haji, dimanfaatkan VOC untuk melemahkan kekuasaan Banten. Akhirnya Sultan Ageng ditangkap dan Sultan Haji diangkat sebagai raja di bawah kendali Belanda.

6. Sultan Hasanuddin dari Makassar

VOC juga harus menghadapi perlawanan sengit dari Sultan Hasanuddin (1653–1669). Julukannya, Ayam Jantan dari Timur, menggambarkan keberanian luar biasa dalam Perang Makassar. Meski akhirnya kalah dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya, perlawanan Hasanuddin tetap dikenang sebagai simbol heroisme rakyat Makassar.


Dari Perlawanan Lokal ke Perjuangan Nasional

Pada abad ke-19, perlawanan masyarakat masih bersifat lokal dan sering kali tidak terkoordinasi antar daerah. Meski begitu, muncul tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, dan Cut Nyak Dien yang memperkuat semangat juang rakyat.

Seiring waktu, perjuangan mulai bergeser ke arah gerakan nasional. Pemuda, pelajar, dan kaum intelektual membentuk organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, hingga Perhimpunan Indonesia. Kesadaran bahwa kemerdekaan hanya bisa diraih melalui persatuan menjadi titik balik penting dalam sejarah bangsa.


Proklamasi Kemerdekaan dan Pengakuan Kedaulatan

Momentum besar datang pada 17 Agustus 1945 ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Meski Belanda sempat kembali dengan agresi militer, rakyat Indonesia tidak menyerah.

Pertempuran terjadi di berbagai daerah, termasuk perlawanan heroik di Surabaya pada 10 November 1945. Setelah perjuangan panjang, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949.


Hikmah dari Perjuangan Melawan Penjajah

Perjalanan panjang melawan penjajahan mengajarkan bangsa Indonesia banyak hal. Persatuan, keberanian, dan cinta tanah air adalah kunci yang membuat kemerdekaan bisa diraih.

Kini, sejarah perlawanan bukan hanya sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan tidak diberikan, melainkan diperjuangkan dengan darah dan air mata. Semangat itu harus tetap dijaga agar bangsa ini terus berdiri tegak, berdaulat, dan bermartabat.


Kesimpulan

Bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadap penjajah karena tidak rela hidup dalam belenggu kolonialisme. Dari Demak hingga Aceh, dari Ternate hingga Makassar, setiap perlawanan lahir dari tekad untuk mempertahankan kedaulatan.

Perlawanan itu kemudian berkembang menjadi gerakan nasional yang akhirnya membawa Indonesia meraih kemerdekaan. Semangat persatuan dan keberanian para pejuang menjadi warisan berharga yang harus selalu kita teladani.

Kalau kamu tertarik mendalami kisah-kisah perjuangan lain dari tokoh-tokoh bangsa, pantau terus update artikel sejarah di media ini agar tidak ketinggalan informasi menarik.


Baca Juga: Perjuangan Pesantren Melawan Penjajah Belanda

Baca Juga: 5 Fakta Mengejutkan Cut Nyak Dien, Pahlawan Wanita Asal Aceh yang Ditakuti Penjajah

FAQ Seputar Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajah

1. Apa alasan utama bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadap penjajah?

Alasan utamanya adalah penindasan yang dilakukan penjajah melalui monopoli perdagangan, kerja paksa, perampasan sumber daya alam, serta intervensi dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat.

2. Bagaimana bentuk perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah?

Perlawanan dilakukan dalam dua bentuk utama, yaitu peperangan secara langsung oleh pasukan kerajaan dan gerakan sosial berupa protes, pemberontakan, serta perlawanan rakyat di berbagai daerah.

3. Siapa saja tokoh penting dalam perlawanan bangsa Indonesia?

Beberapa tokoh besar antara lain Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Sultan Agung, dan Sultan Ageng Tirtayasa. Mereka berjuang di daerah masing-masing melawan penjajah.

4. Mengapa perlawanan bangsa Indonesia pada awalnya sering gagal?

Karena sebagian besar perlawanan masih bersifat lokal dan tidak terkoordinasi antar wilayah. Selain itu, penjajah memiliki persenjataan lebih modern dan menerapkan politik adu domba.

5. Kapan bangsa Indonesia berhasil meraih kemerdekaan?

Kemerdekaan diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta. Namun, Belanda baru mengakui kedaulatan Indonesia secara penuh pada tahun 1949 setelah perjuangan panjang.

6. Apa hikmah yang bisa dipetik dari perlawanan bangsa Indonesia?

Hikmahnya adalah pentingnya persatuan, semangat juang, dan cinta tanah air. Perjuangan para pahlawan mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak diberikan, tetapi harus diperjuangkan dengan pengorbanan besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.