Arti dan Terjemahan Kata “Wilujeng” dalam Bahasa Indonesia, Salam Penuh Doa dalam Budaya Sunda
Ratu Tiara | 3 Agustus 2025, 12:06 WIB

AKURAT.CO Dalam budaya masyarakat Sunda, kata “wilujeng” memiliki makna yang sangat dalam dan luas. Kata ini bukan hanya sekadar sapaan formal, tetapi juga simbol dari doa, harapan, dan kesantunan yang melekat erat dalam keseharian masyarakat Sunda.
Secara harfiah, “wilujeng” berarti “selamat” atau “semoga selamat” dalam bahasa Indonesia. Namun, maknanya tak berhenti di situ saja. Dalam setiap pengucapan kata “wilujeng”, tersimpan makna spiritual dan emosional berupa:
- Doa agar seseorang selalu dilindungi dari marabahaya.
- Harapan agar lawan bicara mendapat kebaikan.
- Bentuk perhatian dan kepedulian dalam komunikasi antarpribadi.
- Doa agar seseorang selalu dilindungi dari marabahaya.
- Harapan agar lawan bicara mendapat kebaikan.
- Bentuk perhatian dan kepedulian dalam komunikasi antarpribadi.
Lebih dari Sekadar Sapaan
“Wilujeng” biasa digunakan sebagai salam pembuka maupun penutup dalam berbagai momen kehidupan, seperti:
- Saat menyambut tamu (wilujeng sumping)
- Saat bertemu di pagi hari (wilujeng enjing)
- Saat berpamitan (wilujeng jalan)
- Saat bertemu di pagi hari (wilujeng enjing)
- Saat berpamitan (wilujeng jalan)
Kata ini menyiratkan nilai-nilai luhur dalam budaya Sunda, yakni rasa hormat kepada orang lain, kehangatan sosial, serta pentingnya menjaga harmoni dalam bertutur kata.
Contoh Penggunaan Kata “Wilujeng” dan Artinya
Penggunaan kata “wilujeng” sangat fleksibel, bisa diucapkan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang tua, baik dalam situasi formal seperti di sekolah atau kantor, maupun dalam percakapan santai sehari-hari.
Bayangkan seorang anak mengucapkan, “Wilujeng enjing, bu guru!” Setiap pagi di sekolah. Kalimat sederhana ini bukan hanya menandakan sapaan biasa, tetapi juga wujud rasa hormat, kasih sayang, dan nilai etika yang ditanamkan sejak dini.
Kata wilujeng dapat digabungkan dengan keterangan waktu atau situasi tertentu. Berikut daftar penggunaannya yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari:
Bahasa Sunda Arti - Bahasa Indonesia
1. Wilujeng enjing : Selamat pagi
2. Wilujeng siang : Selamat siang
3. Wilujeng sonten : Selamat sore
4. Wilujeng wengi : Selamat malam
5. Wilujeng sumping : Selamat datang
6. Wilujeng jalan : Selamat jalan
7. Wilujeng tepang deui : Senang bertemu lagi/Sampai jumpa
Asal-usul dan Filosofi Kata “Wilujeng”
Kata “wilujeng” berasal dari akar kata “lujeng”, yang dalam bahasa Sunda lama mengandung arti selamat atau bebas dari kesulitan.
Awalan “wi-” dalam bahasa Sunda merupakan imbuhan yang memberi nuansa hormat atau penghormatan.
Jadi, “wilujeng” dapat dimaknai sebagai bentuk doa atau ucapan penghormatan yang mengandung harapan agar seseorang senantiasa selamat dan bahagia.
Makna Budaya dan Nilai Filosofis “Wilujeng”
Budaya Sunda dikenal dengan tatakrama dan kelembutannya dalam bertutur kata.
Kata “wilujeng” bukan hanya sebatas ungkapan sopan santun, tetapi juga wujud empati dan kasih sayang dalam komunikasi.
Mengapa penting?
Mengapa penting?
Karena dalam satu kata “wilujeng”, terkandung:
1. Doa: Harapan agar lawan bicara dilindungi dan diberkahi.
2. Rasa hormat: Menghargai keberadaan orang lain dalam setiap momen.
3. Kehangatan budaya lokal: Menunjukkan identitas khas masyarakat Sunda.
2. Rasa hormat: Menghargai keberadaan orang lain dalam setiap momen.
3. Kehangatan budaya lokal: Menunjukkan identitas khas masyarakat Sunda.
Di tengah derasnya arus komunikasi digital yang cepat dan singkat, mempertahankan nilai-nilai budaya lokal seperti penggunaan kata “wilujeng” menjadi benteng karakter dan moralitas anak bangsa.
Wilujeng dalam Kurikulum Merdeka
Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran bahasa daerah, termasuk bahasa Sunda, diarahkan untuk tidak hanya sekadar menghafal kosakata, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya sendiri. Materi ini cocok untuk:
1. Siswa SD kelas 3–6 sebagai pengenalan sapaan dan kosakata dasar.
2. Siswa SMP kelas 7–8 dalam pembelajaran budaya lokal dan praktik berbahasa sopan.
2. Siswa SMP kelas 7–8 dalam pembelajaran budaya lokal dan praktik berbahasa sopan.
Tujuannya bukan hanya linguistik, tetapi juga pembentukan karakter, yaitu:
1. Mengajarkan sopan santun melalui bahasa.
2. Melatih empati lewat salam dan doa.
3. Mengenalkan identitas lokal agar anak tidak kehilangan akar budaya.
2. Melatih empati lewat salam dan doa.
3. Mengenalkan identitas lokal agar anak tidak kehilangan akar budaya.
Hal ini sejalan dengan tujuan Kurikulum Merdeka, yakni membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kuat secara emosional dan sosial, serta memiliki identitas budaya yang kokoh.
Wilujeng, Salam Penuh Makna yang Wajib Dilestarikan
Kata “wilujeng” adalah warisan budaya yang membawa nilai kebaikan, kedamaian, dan doa dalam setiap ucapan. Lebih dari sekadar sapaan, “wilujeng” mengajarkan pentingnya memuliakan sesama melalui kata-kata.
Di era modern ini, membiasakan anak-anak menggunakan kata “wilujeng” dalam percakapan sehari-hari adalah langkah kecil yang bisa menumbuhkan karakter santun, bangga berbahasa daerah, dan mencintai budaya Indonesia.
Laily Nuriansyah (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






