Contoh Studi Kasus PPG 2025 Tentang LKDP: Semua Jenjang, Tervalidasi, Minimal 390 Kata

AKURAT.CO Dalam rangka membantu calon guru peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2025, khususnya yang mengikuti Tahap 1, berikut ini disajikan beberapa contoh studi kasus PPG 2024 tentang Lembar Kerja Peserta Didik (LKDP) untuk semua jenjang dan tervalidasi.
Contoh-contoh ini telah melewati proses validasi dan sebelumnya pernah digunakan dalam PPG tahun-tahun sebelumnya oleh peserta yang dinyatakan berhasil lulus.
Baca Juga: Referensi Studi Kasus UTBK PPG Guru Tertentu 2025 Jenjang SMK: Media Pembelajaran dan LKPD
Menjelang pelaksanaan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) PPG 2025 Tahap 1, yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 29 Juli hingga 3 Agustus 2025, banyak peserta sedang intensif mempersiapkan diri.
Salah satu aspek yang sering menjadi perhatian dalam tahapan ini adalah pemahaman terhadap penyusunan LKPD yang baik dan aplikatif, karena hal ini merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik.
Adapun studi kasus yang disusun dalam contoh ini meliputi berbagai tantangan riil yang dihadapi oleh guru dalam menyusun dan mengimplementasikan LKPD di kelas.
Namun perlu digarisbawahi, contoh-contoh ini ditujukan sebagai bahan referensi belajar dan inspirasi.
Sangat penting bagi peserta PPG untuk menghindari tindakan menyalin langsung (copy-paste) dari sumber yang ada.
Hal ini tidak hanya melanggar etika akademik, tetapi juga dapat mengurangi penilaian.
Contoh Studi Kasus PPG 2025 Tentang LKDP
LKDP PAUD
1. Identifikasi Permasalahan
Salah satu tantangan yang saya hadapi di awal mengajar adalah menyusun LKPD untuk anak usia dini. LKPD buatan saya kala itu cenderung polos, membosankan, dan tidak banyak ragam aktivitas. Kegiatan yang disajikan terbatas pada mewarnai, menarik garis, atau menempel gambar saja. Selain itu, tampilannya kurang menarik karena hanya hitam putih dengan ilustrasi yang tidak jelas serta petunjuk yang terlalu kompleks untuk dipahami anak-anak. Hal ini membuat peserta didik cepat kehilangan minat, bahkan ada yang enggan mengerjakan. Padahal, anak usia dini sangat membutuhkan pengalaman belajar yang nyata, penuh warna, dan menyenangkan untuk mendukung perkembangan mereka.
2. Upaya Penyelesaian
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, saya mulai mencari referensi dari berbagai sumber, mengikuti pelatihan tentang LKPD berbasis bermain, dan mengamati contoh LKPD dari berbagai platform. Saya mulai menyusun LKPD dengan kegiatan yang lebih kreatif seperti mencocokkan, menggunting-tempel, membuat kolase, dan menyelesaikan labirin sederhana. LKPD saya desain lebih berwarna dengan visual menarik dan instruksi yang mudah dipahami. Saya juga menerapkan kerja kelompok kecil agar anak bisa belajar sambil bersosialisasi, sehingga proses belajar terasa lebih menyenangkan.
3. Hasil dari Perbaikan
Setelah dilakukan revisi, terlihat peningkatan minat belajar anak. Mereka jadi lebih aktif, ceria, dan antusias dalam menyelesaikan tugas. LKPD yang baru tidak hanya membantu motorik halus, tetapi juga meningkatkan keterampilan kognitif dan sosial-emosional mereka. Anak-anak lebih mudah memahami isi pembelajaran, dan orang tua pun memberikan umpan balik positif karena anak menjadi lebih semangat menceritakan aktivitasnya.
4. Pembelajaran Berharga
Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa LKPD untuk PAUD bukan hanya alat bantu, tapi jembatan untuk menjadikan pembelajaran lebih hidup dan bermakna. Visual yang menarik, kegiatan yang bervariasi, dan pendekatan bermain sangat penting dalam merancang LKPD yang efektif untuk anak usia dini. Saya semakin terdorong untuk terus belajar dan menciptakan LKPD yang kreatif dan ramah anak.
LKDP SD
1. Identifikasi Permasalahan
Dulu, saya kerap menggunakan LKPD dari buku atau penerbit tanpa melakukan penyesuaian. LKPD tersebut terkesan membosankan dan penuh teks, sehingga sulit dipahami oleh siswa. Bahasa yang digunakan terlalu rumit, dan bentuk tugas kurang merangsang kreativitas atau kemampuan berpikir kritis. Dampaknya, siswa tidak merasa tertantang dan pembelajaran jadi monoton, sekadar mengisi lembaran kosong.
2. Upaya Penyelesaian
Saya mulai membuat LKPD sendiri yang lebih ramah bagi siswa SD. Saya menyederhanakan bahasa, menambahkan ilustrasi, dan menyusun tugas dalam bentuk yang mengajak siswa berpikir dan berdiskusi. Beberapa LKPD saya rancang dalam bentuk proyek mini atau pengamatan lingkungan sekitar. Saya juga membuat versi digital agar siswa bisa mengaksesnya dengan lebih fleksibel.
3. Hasil dari Perbaikan
Dengan perubahan tersebut, antusiasme siswa meningkat. Mereka lebih fokus, aktif berdiskusi, dan menikmati kegiatan belajar. LKPD yang saya buat tidak hanya membantu siswa belajar konsep, tetapi juga melatih mereka bekerja sama dan berpikir lebih kritis. Orang tua juga merasa terbantu karena panduan yang diberikan lebih mudah diikuti di rumah.
4. Pembelajaran Berharga
Saya belajar bahwa LKPD yang menarik dan sesuai dengan karakter anak sangat penting. Bahan ajar yang dikemas dengan kreatif dapat mengubah suasana kelas menjadi lebih hidup. LKPD bukan hanya alat evaluasi, tapi juga wahana pembelajaran aktif yang membantu siswa tumbuh secara menyeluruh.
LKDP SMP
1. Identifikasi Permasalahan
Sebagai guru SMP, saya pernah mengalami kesulitan dalam menyusun LKPD yang mampu mengaktifkan cara berpikir siswa. LKPD yang saya gunakan dulu terlalu berorientasi pada soal-soal tertutup dan bersifat hafalan. Desainnya juga sangat minim visual, sehingga tidak menarik bagi siswa remaja yang lebih suka hal visual dan interaktif.
2. Upaya Penyelesaian
Saya mulai mempelajari cara membuat LKPD yang memfasilitasi keterampilan berpikir tingkat tinggi. Saya menyusun LKPD dengan variasi aktivitas seperti membuat peta pikiran, proyek mini, dan studi kasus. Saya juga menggunakan Canva untuk menambahkan elemen visual yang atraktif dan menyisipkan QR Code ke materi tambahan atau video pembelajaran.
3. Hasil dari Perbaikan
Hasilnya sangat positif. Siswa terlihat lebih tertarik, lebih aktif dalam berdiskusi, dan mengerjakan tugas dengan antusias. Mereka tidak hanya mengisi LKPD, tetapi benar-benar terlibat dalam proses belajar. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan siswa mampu memahami aplikasi materi dalam konteks nyata.
4. Pembelajaran Berharga
Pengalaman ini membuka mata saya bahwa LKPD harus memicu keingintahuan siswa. Desain yang baik, konten yang relevan, serta instruksi yang komunikatif akan menciptakan suasana belajar yang produktif. Saya akan terus mengembangkan LKPD yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman.
LKDP SMA
1. Identifikasi Permasalahan
Di jenjang SMA, saya sempat kesulitan merancang LKPD yang menggugah minat dan daya pikir siswa. LKPD yang saya buat awalnya terlalu sederhana dan fokus pada hafalan, sehingga tidak memberi ruang eksplorasi atau pengembangan soft skills. Selain itu, tampilannya tidak mendukung pemahaman karena minim ilustrasi dan tidak mempertimbangkan kebutuhan diferensiasi siswa.
2. Upaya Penyelesaian
Saya mulai merancang LKPD dengan pendekatan kontekstual dan berbasis proyek. Saya tambahkan elemen visual, instruksi yang jelas, serta level tantangan yang berbeda sesuai kemampuan siswa. Saya manfaatkan teknologi seperti QR Code dan desain digital agar LKPD lebih interaktif dan relevan.
3. Hasil dari Perbaikan
Dengan pendekatan baru, siswa lebih semangat mengerjakan LKPD. Mereka menjadi lebih aktif dalam berdiskusi, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas yang berorientasi pada kehidupan nyata. LKPD ini mendorong pengembangan keterampilan 4C (critical thinking, creativity, collaboration, communication), yang sangat dibutuhkan di era sekarang.
4. Pembelajaran Berharga
Saya menyadari pentingnya menyusun LKPD dengan memperhatikan kebutuhan dan karakter siswa SMA. Pembelajaran harus lebih dari sekadar menyampaikan materi, melainkan menyiapkan siswa untuk berpikir mandiri dan bertanggung jawab. Saya berkomitmen untuk terus menyusun LKPD yang reflektif, inovatif, dan bermakna.
LKDP SMK
1. Identifikasi Permasalahan
Saat mulai mengajar di SMK, saya merasa kesulitan membuat LKPD yang sesuai dengan kebutuhan vokasional siswa. LKPD yang saya susun terlalu teoritis dan tidak menggambarkan dunia kerja nyata. Tampilannya juga kaku, tidak dilengkapi visual teknis atau instruksi prosedural yang dibutuhkan siswa SMK.
2. Upaya Penyelesaian
Saya mempelajari cara membuat LKPD berbasis proyek dan proses kerja nyata. Saya menyisipkan studi kasus dari industri, menyertakan flowchart, gambar teknis, serta referensi multimedia. LKPD saya desain bertingkat berdasarkan level kemampuan siswa agar lebih inklusif.
3. Hasil dari Perbaikan
Siswa menjadi lebih semangat karena merasa LKPD yang mereka kerjakan relevan dengan kompetensi kerja. Kegiatan dalam LKPD menuntut mereka untuk berpikir sistematis, memecahkan masalah, dan berkolaborasi. Kualitas hasil kerja meningkat, dan mereka lebih siap menghadapi tantangan dunia industri.
4. Pembelajaran Berharga
Saya memahami bahwa LKPD di SMK harus merefleksikan kebutuhan dunia kerja. Keterampilan teknis dan pemecahan masalah harus ditanamkan sejak dari kelas. Saya akan terus memperkaya LKPD saya agar menjadi media pembelajaran yang benar-benar mempersiapkan siswa memasuki dunia profesional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








