Akurat

Apakah yang Membedakan Dataran Rendah dan Dataran Tinggi? Sebutkan Contohnya Secara Geografi

Moh.Apriawan | 18 Mei 2025, 21:05 WIB
Apakah yang Membedakan Dataran Rendah dan Dataran Tinggi? Sebutkan Contohnya Secara Geografi

AKURAT.CO Berikut kita akan bahas, apakah yang membedakan dataran rendah dan dataran tinggi.

Dataran rendah dan dataran tinggi merupakan dua bentuk kenampakan alam yang berbeda secara geologis dan geografis.

Keduanya memainkan peran penting dalam kehidupan manusia dan ekosistem.

Memahami perbedaan antara keduanya penting dalam studi geografi karena berkaitan dengan kondisi iklim, keanekaragaman hayati, pola pemukiman, serta pemanfaatan lahan.

Artikel ini membahas secara komprehensif perbedaan antara dataran rendah dan dataran tinggi, serta memberikan contoh konkret di Indonesia berdasarkan kajian ilmiah dan sumber terpercaya.

Pengertian Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

  • Dataran Rendah adalah wilayah permukaan bumi yang relatif datar dengan ketinggian kurang dari 200 meter di atas permukaan laut. Biasanya terletak di dekat pantai, hilir sungai, atau cekungan yang terbentuk akibat proses sedimentasi. Daerah ini umumnya memiliki tanah yang subur dan sering dijadikan kawasan pertanian serta pemukiman padat penduduk.[2][3]

  • Dataran Tinggi adalah wilayah tanah datar yang berada pada ketinggian antara 200 hingga 1.500 meter atau lebih di atas permukaan laut. Dataran tinggi terbentuk akibat proses geologis seperti erosi, sedimentasi, atau aktivitas vulkanik. Wilayah ini biasanya memiliki suhu udara lebih sejuk, tingkat kelembapan lebih tinggi, dan cocok untuk tanaman dataran tinggi.[1][4][5]

Perbedaan Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Aspek Dataran Rendah Dataran Tinggi
Ketinggian Di bawah 200 meter dpl 200–1.500 meter dpl atau lebih
Permukaan Relatif datar dan rata Bisa bergelombang atau datar di ketinggian
Iklim Lebih panas, kelembapan rendah Lebih sejuk, kelembapan tinggi
Jenis Vegetasi Padi, kelapa, jati, palawija Teh, kopi, sayuran dataran tinggi
Pemanfaatan Lahan Pertanian intensif, industri, pemukiman Perkebunan, hortikultura, pariwisata alam
Risiko Bencana Rentan terhadap banjir Rentan terhadap longsor dan erosi

Contoh Dataran Rendah di Indonesia

  1. Dataran Rendah Surakarta (Jawa Tengah)
    Berada di ketinggian sekitar 92 meter dpl, wilayah ini dikenal sebagai pusat budaya dan pertanian dengan tanah yang subur.[3]

  2. Dataran Rendah Madiun (Jawa Timur)
    Memiliki ketinggian 63–67 meter dpl, daerah ini menjadi kawasan pertanian yang produktif berkat iklim tropis yang mendukung.[3]

  3. Dataran Rendah Palembang (Sumatera Selatan)
    Berada pada ketinggian 4–12 meter dpl, kawasan ini merupakan daerah aluvial dengan banyak sungai besar yang subur.[3]

  4. Dataran Rendah Banjarmasin (Kalimantan Selatan)
    Terletak di wilayah yang sebagian di bawah permukaan laut dan bercirikan lahan rawa, serta sering tergenang air saat pasang.[3][6]

Contoh Dataran Tinggi di Indonesia

  1. Dataran Tinggi Malang (Jawa Timur)
    Terletak pada ketinggian 440–667 meter dpl, dikelilingi oleh gunung-gunung seperti Arjuno dan Kawi, serta dikenal dengan udaranya yang sejuk.[4]

  2. Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah)
    Berada di ketinggian antara 1.600–2.100 meter dpl, kawasan ini memiliki fenomena geotermal seperti kawah dan telaga.[4]

  3. Dataran Tinggi Bukit Barisan (Sumatera)
    Merupakan barisan pegunungan sepanjang 1.650 km yang membentang dari Aceh hingga Lampung, kaya akan hutan tropis dan spesies endemik.[4]

  4. Dataran Tinggi Gayo (Aceh)
    Terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter dpl, dikenal sebagai kawasan perkebunan kopi Arabika yang terkenal secara internasional.[4]

Kesimpulan

Dataran rendah dan dataran tinggi memiliki karakteristik yang berbeda, terutama dalam hal ketinggian, kondisi iklim, bentuk permukaan, serta potensi pemanfaatan lahan.

Dataran rendah umumnya berada di bawah 200 meter dpl, memiliki iklim panas dan cocok untuk kegiatan pertanian serta pemukiman.

Sementara itu, dataran tinggi memiliki ketinggian lebih dari 200 meter dpl, beriklim sejuk, dan lebih cocok untuk perkebunan, hortikultura, serta kegiatan pariwisata.

Pemahaman perbedaan ini penting dalam perencanaan wilayah, konservasi lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.