Akurat

Remaja Terlibat Gangster, Dedi Mulyadi Ingin Pendidikan Barak Militer Diterapkan

Yusuf | 5 Mei 2025, 14:22 WIB
Remaja Terlibat Gangster, Dedi Mulyadi Ingin Pendidikan Barak Militer Diterapkan

AKURAT.CO Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti seriusnya persoalan kenakalan remaja yang selama ini kerap dianggap sebagai masalah biasa. Menurutnya, anggapan tersebut keliru karena kenyataannya, fenomena ini sudah berkembang menjadi sebuah pola sistemik yang terorganisir dengan rapi, bahkan dilakukan secara terencana dan terstruktur. "Ada dua pola utama yang menjadi motor penggeraknya," ujar Dedi dalam sebuah video yang ia unggah ke media sosial.

Baca Juga: Hindari Kenakalan Remaja, Pandawa Ganjar Adakan Turnamen Futsal Di Bekasi

Dedi menjelaskan bahwa pengorganisasian remaja ke dalam kelompok atau geng dilakukan melalui dua cara. Pertama, melalui fanatisme yang tumbuh di lingkungan sekolah atau komunitas tertentu. Kedua, melalui peran besar media sosial yang kini menjadi alat penyebaran pengaruh, panduan, dan bahkan tutorial untuk menjadi bagian dari kelompok gangster. “Mereka mengikuti apa yang mereka lihat di medsos, menjadikannya sebagai referensi, bahkan inspirasi untuk bertindak,” kata Dedi.

Lebih mengkhawatirkan lagi, para pelaku paham betul bahwa hukum memberikan perlakuan berbeda terhadap anak di bawah umur. Mereka tahu bahwa anak-anak tidak bisa diproses secara hukum pidana umum, melainkan harus menjalani sistem peradilan anak yang lebih mengedepankan pembinaan.

Akibatnya, banyak anak-anak yang dimanfaatkan karena dianggap lebih “aman” dari jerat hukum yang berat. “Celakanya, negara belum memiliki sistem pembinaan yang layak di tiap kota atau kabupaten,” tambahnya.

Dia mengungkapkan bahwa kepolisian pun kerap kesulitan menempatkan anak-anak yang terlibat kasus pidana. Karena tidak bisa dimasukkan ke sel, mereka hanya dititipkan sementara di kantor polisi.

Banyak kasus akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan dan anak-anak dikembalikan kepada orang tua, tanpa proses pembinaan yang menyeluruh. “Ini yang menjadi lubang besar. Anak-anak berulah, ditangkap, dihukum ringan, lalu kembali melakukan hal yang sama,” tegas Dedi.

Lebih buruk lagi, sejumlah kasus kekerasan seperti penganiayaan hingga pembunuhan dilakukan secara terbuka, direkam, dan disebarluaskan di media sosial. Menurutnya, ini bukan hanya soal kenakalan biasa, tetapi sudah menyentuh ranah kriminal yang sistemik, berpotensi membahayakan stabilitas sosial, dan menjadi ancaman nyata terhadap masa depan bangsa.

Sebagai solusi, Dedi menekankan perlunya tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Dia mendorong penegakan disiplin yang lebih ketat terhadap kelompok-kelompok remaja yang terlibat aksi kekerasan.

Selain itu, dia menyoroti pentingnya memaksimalkan peran tim siber untuk memantau, membongkar, dan menghentikan jaringan kejahatan remaja di dunia maya. “Bila perlu, matikan jaringan mereka di medsos agar mereka tidak bisa lagi menyebarkan pengaruh atau merekrut anggota baru,” ujarnya tegas.

Menurutnya, fenomena ini sudah menjadi bagian dari jaringan kejahatan siber yang lebih luas, yang secara tidak langsung dapat melemahkan bangsa melalui rusaknya generasi muda.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Dijuluki Gubernur Konten, Klaim Hemat Belanja Iklan hingga Rp47 Miliar

Dia bahkan menyebutkan bahwa ada indikasi keterkaitan dengan praktik bisnis ilegal yang menggunakan media sosial sebagai sarana utama.

“Ini bukan sekadar soal tawuran atau geng motor. Ini tentang ketahanan bangsa,” kata Dedi.

Dia menekankan bahwa pendekatan penanganannya tidak bisa lagi menggunakan pola lama seperti di era 80-an. Masalah ini harus dilihat sebagai persoalan strategis yang menyangkut masa depan generasi dan keamanan nasional.

Karena itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat, dari pemerintah hingga keluarga, untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh dan tidak saling menyalahkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf
R