Akurat

Apa Itu Penjor? Ini Makna, Simbol, dan Filosofi di Hari Raya Galungan

Kosim Rahman | 23 April 2025, 08:50 WIB
Apa Itu Penjor? Ini Makna, Simbol, dan Filosofi di Hari Raya Galungan

AKURAT.CO Apa itu penjor? Simbol dan filosofi di Hari Galungan menjadi pertanyaan yang sering muncul setiap kali umat Hindu Bali merayakan hari suci ini.

Penjor, yang berdiri megah dan melengkung indah di pinggir jalan, bukan sekadar hiasan, melainkan memiliki makna spiritual mendalam sebagai lambang rasa syukur, pengabdian, dan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Dilansir dari berbagai sumber, hari ini Rabu 23 April 2025 umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan. Simak arti penjor serta makna filosofinya di bawah ini.

Baca Juga: Sejarah Perayaan Diwali, Salah Satu Acara Tradisional Sebagai Festival Cahaya Bagi Umat Hindu

Apa Itu Penjor dan Kapan Dipasang?

Apa itu penjor dalam konteks Hari Galungan? Penjor adalah tiang bambu tinggi yang dihiasi janur, hasil bumi, serta perlengkapan upacara lainnya.

Penjor dipasang sehari sebelum Galungan, tepatnya pada hari Penampahan Galungan (Selasa), setelah umat Hindu menghaturkan banten (persembahan).

Tujuannya adalah sebagai bentuk bhakti kepada Hyang Widhi Wasa, khususnya dalam manifestasinya sebagai Hyang Giripati, simbol kekuatan alam semesta.

Simbol-Simbol dalam Penjor Galungan

Baca Juga: Pantangan Umat Hindu Saat Nyepi, Ada Larangan Keluar Rumah?

Simbol dan filosofi di Hari Galungan tercermin dalam setiap bagian penjor. Bambu yang melengkung melambangkan gunung suci sebagai tempat bersemayamnya para dewa.

Janur, pala bungkah (umbi-umbian), pala gantung (buah-buahan), serta berbagai perlengkapan lain yang menghias penjor, masing-masing mewakili kekuatan para dewa seperti Dewa Brahma, Wisnu, Siwa, dan Mahadewa.

Penjor juga menggambarkan sosok Naga Basuki, makhluk suci penjaga keseimbangan dan kemakmuran, khususnya dalam menjaga siklus air di alam.

Melalui simbol ini, penjor menjadi doa visual untuk kelestarian alam dan kemakmuran hidup manusia.

Filosofi Penjor: Kemenangan Dharma atas Adharma

Baca Juga: Hadiri Tawur Agung Kesanga, Ini Pesan Anies Untuk Umat Hindu

Simbol dan filosofi di Hari Galungan tidak lepas dari makna spiritual bahwa manusia harus mampu mengalahkan sifat-sifat negatif dalam dirinya.

Penampahan Galungan adalah saat untuk melawan hawa nafsu, amarah, dan ego. Dan ketika sifat buruk itu berhasil dikendalikan, penjor dipasang sebagai penanda kemenangan kebaikan (dharma) atas kejahatan (adharma).

Penjor yang dipasang pun sebaiknya menggunakan bahan-bahan segar dan penuh makna, bukan sekadar estetika.

Ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada roh leluhur yang diyakini hadir di rumah-rumah umat Hindu selama masa Galungan.

Simbol dan filosofi penjor di Hari Galungan bukan hanya tradisi turun-temurun, tapi juga pengingat tentang pentingnya rasa syukur dan penghormatan kepada alam serta Tuhan.

Baca Juga: 4 Candi di DIY-Jateng Resmi Jadi Tempat Ibadah Umat Hindu dan Buddha Dunia

Bagaikan penjor yang menjulang tinggi namun tetap melengkung rendah, semoga kita pun bisa hidup tinggi dalam nilai, namun rendah hati dalam sikap.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.