Ahmad Aulia Arsyad dan Kiprahnya di Dunia Akademis

AHMAD AULIA ARSYAD, S.KPm., M.Si., adalah seorang akademisi dan praktisi komunikasi pembangunan yang telah berkontribusi dalam Tridarma Perguruan Tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian hingga pengabdian kepada masyarakat.
Lahir di Bogor pada 1 Maret 1990, tumbuh dalam lingkungan akademisi, di mana ayahnya juga berprofesi sebagai dosen bahkan guru besar di IPB University.
Sejak awal, perjalanan pendidikannya tidak berjalan seperti yang ia rencanakan.
Berkeinginan kuliah di luar Bogor, ia sempat diterima di jurusan Farmasi Universitas Padjadjaran.
Namun, karena dorongan dari orang tua untuk berkuliah di Bogor, ia akhirnya memilih IPB dengan jurusan Sains Komunikasi Pengembangan Masyarakat (SKPM).
Awal perkuliahan di IPB dengan kewajiban mempelajari keilmuan eksakta memperkuat Arsyad untuk menentukan bidang ilmu yang harus dia tekuni, yaitu bidang ilmu komunikasi karena bagi Arsyad keilmuan eksakta kurang cocok baginya.
Selang beberapa tahun, kehidupannya di lingkungan akademisi dan aktivitasnya sebagai asisten dosen membuatnya bermimpi untuk menjadi dosen.
Setelah menyelesaikan S1 dalam 4,5 tahun, ia langsung melanjutkan S2 di IPB, dengan fokus penelitian menggunakan metode kuantitatif, sebuah
tantangan besar bagi dirinya yang sebelumnya menghindari statistik dan matematika.
Namun, dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa kesulitan bukanlah karena ketidakmampuan, melainkan karena kurangnya kemauan untuk belajar.
Sebelum resmi menjadi dosen, ia bekerja di IPB TV (dulu disebut GreenTV), dari 2011 hingga 2019.
Pada tahun 2019, ia mengikuti tes CPNS dan dinyatakan lulus, tetapi karena pandemi Covid-19, pengumuman resminya tertunda.
Selama masa tersebut, ia bertemu dengan Prof. Dr. Sofyan Sjaf, S.Pt., M.Si. di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan.
Di sana, Prof. Sofyan sedang mengembangkan konsep Data Desa Presisi, sebuah program komprehensif untuk pembenahan data desa dan mengajak Arsyad untuk bergabung.
Menariknya, meski awalnya menghindari statistik, ia justru ditunjuk sebagai Koordinator Divisi Data Sains dan Analisis Statistik.
Sebagai akademisi dan praktisi, Arsyad telah mencatat beberapa pencapaian penting dalam kariernya.
Pertama, ia berperan dalam pengembangan Data Desa Presisi, sebuah program yang mengumpulkan dan menganalisis data desa secara komprehensif untuk mendukung kebijakan pembangunan pedesaan berbasis data.
Salah satu program besar yang ia tangani adalah implementasi Data Desa Presisi di Kalimantan Timur, yang mencakup 104 desa di 10 kecamatan.
Kedua, ia turut mengembangkan aplikasi berbasis data di salah satu desa untuk membantu petani dalam mengidentifikasi lahan, hasil panen serta harga jual.
Aplikasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam sektor pertanian, memberikan kemudahan bagi petani dalam mengakses informasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas mereka.
Ketiga, sebagai akademisi, ia dan tim berhasil menerbitkan dua jurnal internasional terindeks scopus bereputasi Q1 dan Q2 pada tahun 2022, sebuah pencapaian yang menunjukkan kontribusinya dalam penelitian ilmiah di bidang komunikasi pembangunan dan data desa.
Selain berkarier sebagai akademisi, ia juga pernah terlibat dalam pengabdian masyarakat sebagai Ketua Komisi Pengabdian di Sekolah Vokasi IPB.
Dalam peran tersebut, ia merancang program pengabdian terpadu yang melibatkan banyak dosen untuk memberikan kontribusi nyata kepada
masyarakat, khususnya di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor.
Program ini mendapat antusiasme tinggi dari para dosen. Namun, saat ini peran tersebut dilanjutkan oleh dosen lain karena Arsyad tengah fokus menjalani studi S3 di IPB.
Bagi Arsyad, menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk berbagi ilmu dan membangun generasi muda. Ia percaya bahwa seorang dosen akan selalu diingat oleh mahasiswanya, dan itulah yang membuatnya semakin termotivasi dalam mengajar.
Selain menjadi akademisi, ia juga memiliki impian untuk menjadi pengusaha di bidang media, khususnya mendirikan production house.
Dua sosok yang paling menginspirasi perjalanan hidupnya adalah ayahnya dan Pak Sofyan.
Ayahnya menjadi panutan dalam membangun karakter dan dedikasi sebagai seorang akademisi, sementara Pak Sofyan membuka jalan baginya untuk mengembangkan keilmuan dan keterampilan di bidang komunikasi pembangunan.
Pesannya bagi mahasiswa adalah bahwa kesuksesan diraih melalui tiga hal, niat, usaha dan doa.
Ia percaya bahwa kombinasi ketiganya akan membuka jalan, meskipun hasilnya mungkin tidak selalu seperti yang dibayangkan.
Perjalanan hidupnya sendiri menjadi bukti bahwa dengan tekad yang kuat, seseorang dapat berkembang dan menemukan jalannya, bahkan dalam bidang yang awalnya tidak mereka sukai.
Kaila Natania
(Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









