Akurat

Definisi Resensi, Fungsi, Struktur, Jenis, Syarat dan Contoh-contohnya

Melly Kartika Adelia | 25 Februari 2025, 06:10 WIB
Definisi Resensi, Fungsi, Struktur, Jenis, Syarat dan Contoh-contohnya

AKURAT.CO Resensi, sebagai sebuah bentuk ulasan kritis terhadap suatu karya, memiliki peran penting dalam dunia literasi dan seni.

Tidak hanya sekedar memberikan ringkasan, resensi juga berfungsi sebagai media untuk mengevaluasi, mengapresiasi, dan mempromosikan karya kepada khalayak.

Berikut materi lengkap seputar resensi, sesuai dengan sumber terbaru:

Definisi Resensi

Resensi adalah kegiatan mengevaluasi, menganalisis, dan mengkritisi suatu karya, seperti buku, film, drama, atau musik, untuk memberikan gambaran dan penilaian kepada khalang.

Menurut Gani (2020), resensi merupakan bentuk apresiasi terhadap karya dengan menyoroti kelebihan, kekurangan, dan relevansinya bagi pembaca atau penikmat seni. Tujuannya adalah membantu masyarakat memilih karya yang berkualitas dan sesuai dengan minat mereka.

Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 134 Kurikulum Merdeka: Kegiatan 9 Menulis Resensi Karya Fiksi

Fungsi Resensi

Resensi memiliki beberapa fungsi penting, antara lain:

· Fungsi Informatif: Memberikan informasi tentang suatu karya kepada pembaca, seperti tema, isi, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
· Fungsi Evaluatif: Menilai kualitas karya berdasarkan aspek-aspek tertentu, seperti kelebihan, kekurangan, dan orisinalitas.
· Fungsi Apresiatif: Menghargai dan mempromosikan karya yang berkualitas kepada khalayak luas.
· Fungsi Komersial: Mempengaruhi minat pembaca untuk membeli atau menikmati karya tersebut, sehingga dapat meningkatkan penjualan atau popularitas karya.
· Fungsi Edukatif: Memberikan wawasan dan pengetahuan baru kepada pembaca tentang karya yang diresensi, termasuk konteks sosial, budaya atau historis yang melatarbelakanginya.
· Fungsi Kritik Sosial: Menyampaikan kritik atau saran konstruktif terhadap karya, yang dapat menjadi masukan bagi pencipta karya untuk meningkatkan kualitas karya selanjutnya.

Struktur Resensi

· Identitas Karya: Menyertakan judul, penulis, penerbit, tahun terbit, dan informasi pendukung lainnya.
· Sinopsis: Ringkasan singkat tentang isi karya tanpa mengungkap spoiler.
· Analisis: Pembahasan tentang tema, gaya penulisan, karakter, atau elemen lain yang menonjol.
· Evaluasi: Penilaian objektif terhadap kelebihan dan kekurangan karya.
· Rekomendasi: Saran kepada pembaca mengenai apakah karya tersebut layak dinikmati.

Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 86 Kurikulum Merdeka, Analisis Resensi

Jenis Resensi

· Resensi Informatif: Fokus pada penyampaian informasi umum tentang karya.
· Resensi Analitis: Menyertakan analisis mendalam dengan pendekatan teoritis atau kontekstual.
· Resensi Kritik: Memberikan penilaian kritis terhadap karya, sering kali dengan membandingkannya dengan karya sejenis.

Syarat Resensi yang Baik

· Objektif: Penilaian harus berdasarkan fakta dan tidak bias.
· Sistematis: Mengikuti alur yang terstruktur dan mudah dipahami.
· Kritis: Memberikan analisis yang mendalam, bukan sekadar deskripsi.
· Relevan: Menyertakan konteks aktual atau isu terkini yang terkait dengan karya.
· Komunikatif: Menggunakan bahasa yang jelas dan sesuai dengan target pembaca.

Contoh Resensi

Resensi Novel Laskar Pelangi

· Judul Buku: Laskar Pelangi
· Pengarang: Andrea Hirata
· Penerbit: Bentang Pustaka
· Tahun terbit: 2018, Cetakan ke-42
· Tebal halaman: 529
· Harga: Rp89.000

Baca Juga: Jelaskan Pengertian Resensi dan Perbedaannya dengan Teks Ulasan!

Buku Laskar Pelangi karya pertama Andrea Hirata yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan meraih banyak sekali penghargaan.

Dari buku ini, Andrea juga berhasil mengenalkan keindahan tanah kelahirannya yang membuat pembaca buku Laskar Pelangi ini ingin berkunjung ke Pulau Belitung.

Dengan mengambil tema persahabatan, buku ini berkisah tentang Ikal dan sembilan orang temannya yang tergabung dalam Laskar Pelangi.

Mereka adalah murid SD Muhammadiyah Gentong di Pulau Belitung yang hampir saja tutup karena kekurangan murid.

Untung saja, akhirnya sekolah tersebut tetap buka.

Mereka bersepuluh bersekolah dengan penuh keterbatasan namun mempunyai guru dan kepala sekolah yang hebat, Bu Muslimah dan Pak Harfan.

Banyak kisah mengharukan yang diceritakan dalam buku ini, mulai dari masa kanak-kanak sampai akhirnya Ikal sudah dewasa dan kembali ke desa kelahirannya.

Kelemahan buku ini adalah banyak menggunakan kata-kata asing. Istilah yang terdengar asing, jika digunakan terlalu banyak, akan menyulitkan pembaca.

Selain itu, plotnya maju mundur tanpa keterangan waktu.

Hal lain yang cukup mengganggu kenikmatan membaca adalah penggunaan kata ganti orang pertama (aku) dan kata ganti orang ketiga (lkal) yang dicampuradukkan.

Sementara itu, keunggulan buku ini adalah ceritanya yang tidak membosankan dan cukup menghibur dengan selipan humor di sana sini.

Kisahnya juga inspiratif, yaitu bahwa pendidikan yang baik bisa mengubah nasib seseorang.

Buku Laskar Pelangi ini bagus untuk dibaca para pelajar yang ingin membaca buku yang menghibur sekaligus memotivasi untuk sukses dalam pendidikan.

Oleh Kumalasari dan Latifah, 2022:192

Resensi Film Ngenest

· Sutradara: Ernest Prakasa
· Produser: Chand Parwez Servia
· Penulis: Fiaz Servia
· Pemeran: Ernest Prakasa, Kevin Anggara, Lala Karmela, Amel Carla, Morgan Oey, Fico Fachrezi, Brandon Nicholas Salim, Ferry Salim, Ardit Erwandha, Olga Lydia, Budi Dalton, Ade Fitria Sechan.
· Produksi: Starvision Plus
· Tanggal rilis: 30 Desember 2015
· Durasi: 95 Menit
· Genre: Comedy
· Subtitle: Bahasa Indonesia

Baca Juga: Kunci Jawaban Modul 3.2 PINTAR Kemenag Struktur Kurikulum Madrasah

Film komedi berjudul Ngenest ini mengisahkan tentang pemuda bemama Ernest (Ernest Prakasa) merupakan putra pasangan suami istri keturunan Tionghoa.

Penampilan yang mirip orang Cina merupakan kerugian bagi Ernest yang terlahir menjadi seorang minoritas, karena ada perbedaan dari segi fisik yaitu kulitnya putih dan matanya sipit membuatnya selalu terkena bully (hinaan).

Sejak hari pertama masuk sekolah dasar, Ernest langsung di-bully oleh teman-temannya.

Tak hanya Ernest yang mengalami bully namun sahabatnya Patrick (Brandon Salim/Morgan Oey) juga mengalami hal yang serupa.

Hal itu berlanjut hingga ia masuk SMP. Di SMP, ia mencoba berteman dengan teman-temannya agar tidak di-bully lagi, namun sayangnya hal tersebut gagal.

Ernest sadar bahwa ini adalah nasib yang harus ia jalani. Namun dia tak mau anaknya kelak mengalami nasib yang serupa dengan dirinya.

Ernest pun berikrar akan menikah dengan wanita pribumi kelak. Namun rencana tersebut ditentang oleh Patrick, sahabatnya sejak kecil yang menilai keinginan Ernest tersebut aneh.

Memasuki bangku kuliah, Ernest berkenalan dengan gadis keturunan Sunda Jawa bernama Meira (Lala Karmela) yang kebetulan seiman dengannya.

Namun masalah muncul saat Ernest mengetahui kalau Ayah Meira (Budi Dalton) tidak suka kalau putrinya berpacaran dengan orang Tionghoa.

Mengetahui hal tersebut membuat Ernest tak ingin menyerah begitu saja.

Dengan berbagai cara Ernest mencoba untuk merebut hati calon mertuanya, dan akhirnya perjuangan Ernest tidak sia-sia.

Baca Juga: Bagaimana Struktur Sistemik Lingkungan dalam Pembentukan Nilai-nilai dalam Diri Seseorang

Setelah lima tahun berpacaran, mereka akhirnya menikah.

Setelah menikah, kekhawatiran Ernest tentang keturunannya ternyata tak hilang begitu saja. Ernest masih khawatir, apabila anaknya kelak mirip dengan ayahnya dan akhirnya mengalami pem-bully-an seperti dirinya.

Karena itu Ernest menunda-nunda untuk segera memiliki keturunan. Namun orangtua Meira yang sudah tak sabar ingin menimang cucu, membuat Ernest harus mengalah dan Meira pun hamil.

Meira pun melahirkan bayi perempuan bermata sipit mirip ayahnya. Meskipun sangat mirip dengan dirinya, namun Ernest sangat bahagia.

Kehadiran putrinya telah memberi banyak kedamaian yang membawa keberanian untuk menjalani hidup apapun tantangannya.

Kelebihan:

Cerita ini diadaptasi langsung dari novel sehingga film tersebut juga berani untuk menampilkan perbedaan yang ada dimasyarakat sekitar.

Film berdurasi 95 menit ini dibalut dengan humor segar dan ringan, serta mampu mengangkat isu sensitif menjadi sesuatu yang layak untuk "ditertawakan."

Humor yang disajikan sangat pas dan pada tempatnya, mulai dari tukang cilok, tukang bajaj, orang gila, om penyanyi Mandarin, dan seluruh extras yang hanya lalu-lalang, "bekerja" sesuai porsinya.

Pengambilan gambar pun dilakukan dengan baik dan skenario yang ditulis pun sangat terstruktur sehingga membuat cerita dapat dengan santai dinikmati.

Kekurangan:

Film Ngenest ini memiliki kekurangan, di mana terlalu rasis. Tetapi memang bagus dalam segi cerita, namun dialog-dialog yang digunakan oleh pemainnya kurang enak didengar.

Baca Juga: Contoh Jawaban Modul Guru Penggerak, Bagaimana Struktur Sistemik Lingkungan dalam Pembentukan Nilai-Nilai dalam Diri Seseorang?

Kesimpulan:

Film ini menarik karena film ini selain berunsur comedy ada juga untuk manusiawinya. Dan mengandung unsur moral di dalamnya

"Sejatinya tak ada yang merugikan dari sebuah perbedaan, yang ada hanyalah keuntungan yang bisa dipetik, jika kita mau merenunginya."

Dan saya berkesimpulan bahwa film ini adalah salah satu film Indonesia yang wajib ditonton.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.