Akurat

Parentifikasi dalam Keluarga: Pengertian, Dampak, dan Cara Menghadapinya

Eko Krisyanto | 8 Februari 2026, 11:45 WIB
Parentifikasi dalam Keluarga: Pengertian, Dampak, dan Cara Menghadapinya



AKURAT.CO Dalam sebuah keluarga, setiap anggota biasanya memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dengan usia dan kapasitasnya.

Namun dalam beberapa kasus, anak justru mengambil peran yang seharusnya menjadi tugas orang tua atau pengasuh.

Fenomena ini dikenal sebagai parentifikasi. Istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang tetapi bagi banyak keluarga fenomena ini nyata dan memiliki dampak jangka panjang pada kesejahteraan emosional anak.

Artikel ini menjelaskan apa itu parentifikasi, bagaimana hal itu terjadi, seperti apa dampaknya terhadap anak, serta langkah-langkah yang bisa diambil untuk memahami dan menghadapi kondisi ini dalam keluarga.

Apa Itu Parentifikasi?

Parentifikasi adalah kondisi di mana seorang anak mengambil peran yang biasanya dilakukan oleh orang tua atau pengasuh. Anak yang mengalami parentifikasi diberi tanggung jawab emosional, sosial, bahkan praktis yang jauh melebihi usianya.

Peran ini dapat berupa:
 Mengurus adik-adik
 Menjadi tempat curhat orang tua
 Menjadi mediator konflik keluarga
 Membantu finansial keluarga

Dalam situasi normal, orang tua menyediakan dukungan emosional dan perlindungan bagi anak.

Namun dalam parentifikasi, hubungan ini terbalik, anak merasa harus menjaga orang tua atau anggota keluarga lain secara emosional atau bahkan praktis.

Dua Bentuk Parentifikasi

Parentifikasi tidak hanya satu bentuk saja. Ada dua bentuk utama yang biasanya ditemukan di keluarga.

1. Parentifikasi Emosional

Ini terjadi ketika anak diharapkan menjadi sumber dukungan emosional bagi orang tua atau saudara.

Misalnya, anak diminta menenangkan orang tua setelah konflik, menjadi mediator perselisihan, atau meredakan kecemasan orang tua, semua ini melampaui peran anak sebagai anak.

2. Parentifikasi Praktis

Dalam bentuk ini, anak mengambil tanggung jawab tugas rumah tangga atau tanggung jawab keluarga yang seharusnya dilakukan orang dewasa.

Contoh umum termasuk:
 Mengurus kebutuhan adik
 Membersihkan rumah
 Mengatur keuangan kecil

Kedua bentuk ini bisa saling berhubungan, tetapi keduanya memiliki akar yang sama yaitu tanggung jawab yang tidak seimbang dalam hubungan keluarga.

Mengapa Parentifikasi Bisa Terjadi?

Parentifikasi sering muncul karena situasi keluarga yang penuh tekanan atau keterbatasan.

Beberapa kondisi yang memicu fenomena ini antara lain:

1. Orang Tua Sibuk atau Absen

Orang tua yang terlalu sibuk bekerja atau absen secara emosional mungkin "memindahkan" tanggung jawab kepada anak sehingga anak merasa harus dewasa lebih cepat.

2. Krisis Keluarga atau Trauma

Kehilangan pekerjaan, perceraian, sakit serius, atau kematian anggota keluarga dapat membuat peran anak berubah demi menjaga keseimbangan keluarga.

3. Masalah Kesehatan Mental Orang Tua

Orang tua yang mengalami depresi, kecemasan berat, atau gangguan mental lainnya mungkin tidak mampu mengatur perannya sehingga anak mencoba mengisi kekosongan tersebut.

4. Pola Asuh yang Tidak Seimbang
Beberapa orang tua mungkin secara tidak sadar meminta anak bertindak seperti "teman" atau "pasangan" secara emosional, bukan sebagai anak yang butuh perlindungan.

Dampak Parentifikasi pada Anak

Parentifikasi tidak terjadi tanpa konsekuensi. Meski awalnya anak mungkin merasa bangga karena merasa dibutuhkan, dampak jangka panjangnya bisa jauh lebih besar dan kompleks.

1. Tanggung Jawab Berlebihan

Anak yang terbiasa mengambil peran dewasa sering merasa terlalu terbebani dan kurang memiliki waktu untuk belajar menjadi anak normal. Hal ini bisa menghambat perkembangan sosial dan emosionalnya.

2. Tekanan Emosional

Anak mungkin mengalami rasa cemas, tertekan, atau kelelahan emosional karena harus selalu siap menjadi penyangga bagi orang lain. Ini bisa memengaruhi mood, rasa percaya diri, dan hubungan interpersonalnya.

3. Kesulitan Mengatur Batasan

Ketika anak terbiasa memprioritaskan kebutuhan orang lain, ia mungkin kesulitan mempertahankan batasan dalam hubungan sosial atau romantis di masa dewasa.

4. Risiko Hipersependen atau Kodependen

Anak yang mengalami parentifikasi bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang terlalu fokus pada kebutuhan orang lain, bahkan hingga mengabaikan dirinya sendiri.

Gejala Parentifikasi yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua tanggung jawab yang diambil anak berarti parentifikasi. Namun jika beberapa gejala berikut terlihat dalam keluarga, hal ini patut diperhatikan:
 Anak merasa bertanggung jawab atas emosi orang tua
 Anak sering diminta memilih atau menenangkan anggota keluarga dewasa
 Tugas rumah tangga anak jauh lebih banyak dibanding teman sebayanya
 Anak jarang mendapatkan waktu untuk kebutuhan dan relaksasi dirinya sendiri
Gejala-gejala ini bisa menjadi tanda bahwa peran anak sudah tidak seimbang dengan usianya.

Cara Menghadapi dan Menyikapi Parentifikasi dalam Keluarga

Mengetahui bahwa parentifikasi terjadi adalah langkah pertama menuju perubahan positif.

Berikut beberapa strategi yang dapat membantu keluarga menyikapi kondisi ini:

1. Bangun Komunikasi yang Sehat

Orang tua perlu membuka dialog dengan anak tentang perasaan dan batasan mereka. Percakapan yang terbuka membantu anak merasa didengar dan mengurangi rasa terbebani.

2. Atur Ulang Tanggung Jawab

Evaluasi ulang tugas anak di rumah dan sesuaikan dengan usia mereka. Tanggung jawab seperti membersihkan kamar atau membantu tugas sederhana ok saja, tetapi bukan pekerjaan yang seharusnya menjadi beban orang dewasa.

3. Dukung Kesehatan Emosional Anak

Berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosi tanpa merasa harus menanggung beban keluarga. Dukungan bisa melalui bercerita, konseling, atau aktivitas yang membuatnya merasa ringan.

4. Libatkan Profesional

Jika parentifikasi menimbulkan dampak emosional yang besar, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog atau konselor keluarga. Ahli dapat membantu mengurai pola dan membantu keluarga membuat perubahan yang sehat.

5. Jadwalkan Waktu Bermain dan Bersantai

Pastikan anak memiliki waktu untuk bermain, belajar, dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Ini penting untuk perkembangan sosial dan keseimbangan hidupnya.

Kesimpulan

Parentifikasi adalah kondisi di mana anak mengambil peran dewasa dalam keluarga, sebuah peran yang tidak sesuai dengan usia dan kebutuhannya sendiri.
Fenomena ini sering muncul karena tekanan keluarga, ketidakseimbangan peran orang tua, atau situasi emosional keluarga yang kompleks.

Dampaknya bisa luas dan bertahan hingga masa dewasa jika tidak dikenali dan diperbaiki.

Namun melalui komunikasi yang sehat, pengaturan ulang tanggung jawab keluarga, serta dukungan emosional yang tepat, keluarga dapat bergerak menuju pola hubungan yang lebih seimbang dan sehat.

FAQ

1. Apa saja tanda-tanda anak yang mengalami parentifikasi?

Anak yang mengalami parentifikasi biasanya menunjukkan perilaku terlalu dewasa dibandingkan usianya. Mereka sering merasa bertanggung jawab atas emosi, kebutuhan, atau masalah orang tua dan anggota keluarga lain.

Tanda lainnya termasuk jarang mengekspresikan kebutuhan pribadi, merasa bersalah saat memikirkan diri sendiri, serta lebih sering berperan sebagai pengasuh atau penenang dalam keluarga.

2. Apa saja gejala trauma parentifikasi pada orang dewasa?

Pada orang dewasa, trauma parentifikasi dapat muncul dalam bentuk kesulitan menetapkan batasan, kecenderungan people pleasing, dan rasa tanggung jawab berlebihan terhadap orang lain.

Mereka juga bisa mengalami kelelahan emosional, sulit meminta bantuan, merasa bersalah saat beristirahat, serta memiliki kecemasan tinggi dalam hubungan interpersonal karena terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri.

3. Apa perbedaan antara tanggung jawab dan parentifikasi?

Tanggung jawab adalah tugas yang diberikan sesuai usia dan kemampuan anak, serta tetap disertai dukungan dan bimbingan orang tua. Sementara itu, parentifikasi terjadi ketika anak dibebani peran orang dewasa, baik secara emosional maupun praktis, yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua.

Parentifikasi membuat anak kehilangan ruang untuk berkembang secara wajar sesuai tahap usianya.

4. Apakah pekerjaan rumah tangga termasuk parentifikasi?

Pekerjaan rumah tangga tidak selalu termasuk parentifikasi. Memberi anak tugas ringan seperti merapikan kamar atau membantu membersihkan rumah adalah bagian dari pembelajaran tanggung jawab.

Namun, hal tersebut menjadi parentifikasi jika anak dipaksa mengurus rumah secara penuh, menjaga adik terus-menerus, atau menggantikan peran orang tua tanpa dukungan yang memadai.

Laporan: Amalia Febriyani/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK